Dalam hitungan jam setelah Jokowi berkunjung, KH Hasyim Muzadi wafat Pukul 06.20 pagi, Kamis 16 Maret 2017. Di akhir hayatnya, Muzadi masih bisa bertemu dengan Jokowi selama 15 menit pada hari Rabu 15 Maret 2017. Dalam kondisi lemas, Hasyim Muzadi masih bisa berkomunikasi bathin dengan Jokowi. Abdul Hakim, putra sulung Muzadi, menuturkan bahwa ayahnya tahu kalau dijenguk oleh Jokowi.

Jokowi beruntung punya sosok Kiai sekaliber Muzadi. Muzadi adalah sosok nasionalis-agamais sejati. Ia adalah perubah wajah Islam yang ramah. Kiprahnya di dunia internasional memperkenalkan Islam yang toleran patut diacungi jempol. Ketika Jokowi digencet kelompok agama yang radikal, Muzadi bersama warga Nahdatul Ulama tampil di barisan terdepan untuk membela.

Bangsa Indonesia memang dilanda duka atas meninggalnya Muzadi. Kepergiannya ditangisi oleh kaum waras bangsa ini. Hal itu bukan hanya karena Muzadi seorang mantan ketua organisasi besar keagamaan NU, tetapi lebih dari itu. Muzadi adalah bungsa bangsa yang harum. Ia adalah suluh, obor, cahaya bangsanya. Tidaklah berlebihan jika Muzadi adalah fotokopi Gus Dur. Keduanya adalah bintang Islam moderat penjaga dan pemersatu bangsa.

Kunjungan Jokowi di akhir hayat Muzadi,  bermakna spirit kebangsaan. Sebagai seorang Islam yang nasionalis, pemikir Islam yang moderat dan toleran, Muzadi layak mendapat kunjungan Jokowi, seorang Presiden, yang sedang memimpin sebuah bangsa besar dengan 250 juta penduduk. Itu adalah penghormatan tinggi yang dapat dilakukan oleh seorang Presiden yang rendah hati.

Jokowi memang berduka atas kepergian Muzadi. Namun Muzadi pergi dengan wajah senyum penuh bahagia. Mengapa? Karena saat masih hidup, Muzadi sempat melihat bangsanya dikemudikan oleh Jokowi. Muzadi telah melihat bahwa cahaya terang mulai menyinari bangsanya di bawah kepemimpinan Jokowi.




Jika Muzadi pergi, ia pergi dalam damai, di tengah suasana kondusif bangsanya. Muzadi pergi dengan keyakinan bahwa bangsa ini akan tetap mampu melewati badai-badai hebat berkat kecekatan Jokowi. Pun setelah kepergiannya, Muzadi yakin bahwa akan ada ribuan Muzadi-Muzadi yang lain yang lahir dari tangan Jokowi. Di tangan Jokowi, negara dan bangsa ini akan tetap utuh dalam naungan NKRI.

Keyakinan Muzadi itu bukan tanpa dasar. Muzadi telah melihat langsung bagaimana sepak terjang Jokowi yang sukses menekuk lawan-lawannya. Di balik sosok Jokowi yang ndeso, rendah hati, tulus, ikhlas dalam memimpin, ternyata terkandung mutiara hebat. Jokowi ternyata pemimpin jenius, pemain dengan pola strategi brilian. Ia cerdas, cekatan, humanis dan merakyat. Dunia mengakui kehebatan Jokowi itu.

Di mata Muzadi, Jokowi adalah anugerah besar Tuhan untuk merevolusi mental bangsa ini. Muzadi bermimpi bahwa 10 tahun ke depan, Indonesia tidak lagi terkenal karena anggota DPR berkolusi dengan pejabat pemerintah dan pengusaha, mengkorup triliunan Rupiah dana proyek E-KTP. Pun tidak ada lagi berita heboh bahwa ada hakim agung, hakim MK, jaksa tertangkap korupsi. Juga tidak ada lagi Ketua MPR, Ketua DPR, ketua partai, ikut tercemar dengan bau bangkai korupsi.

Di tangan Jokowi dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, Muzadi di alam baka sana, sudah tidak melihat lagi ada demo dengan peserta 7 jutaan mengeroyok seorang yang double minoritas berkinerja luar biasa, dijegal habis-habisan. Roh Muzadi juga tidak lagi menyaksikan politik jenazah dan mayat ikut digerakkan dengan tujuan politis.

Muzadi yakin bahwa ke depan Jokowi akan mampu meledakkan spirit kebangsaannya yang bernasionalisme sejati, moderat dan toleran. Jokowi diharapkan oleh Muzadi agar tetap menyebarkan spirit Muzadi agar meluas dan menusuk tulang sumsum bangsa Indonesia. Dengan etos kerja keras dan  gigih Jokowi, Muzadi akan bisa melihat bangsanya menuju bangsa  maju, berkembang, moderat dan toleran.

Muzadi mungkin masih tersenyum karena selain Jokowi, masih ada Megawati yang tetap menjaga keutuhan bangsa ini. Mega adalah seorang nasionalis sejati juga. Muzadi sangat paham itu. Pada Pilpres 2004 lalu, Muzadi dipilih Mega sebagai wakilnya untuk bertarung dengan SBY. Mega telah membuktikan diri sebagai wanita baja nan tegar yang mampu bertahan dari serangan maut lawan-lawan politiknya.

Kini Mega telah membuktikan nasionalisme dengan mendukung Ahok di DKI Jakarta. Darah nasionalisme Mega itu kini tengah dialirkan ke dalam darah Ahok yang sedang bertarung di Pilkada DKI. Ahok dengan darahnya yang membara, tengah berjuang memerangi paham-paham beracun mematikan seperti radikalisme agama, fanatisme golongan dan kaum tidak waras intoleran di negeri ini.

Darah nasionalisme Mega sekarang telah mengalir kepada Ahok. Ahok dengan double minoritasnya tengah berjuang unjuk gigi untuk menang dalam Pilkada. Dengan dukungan penuh Mega, Ahok sangat berpotensi menang. Jika menang, maka kemenangan itu bermakna sebagai kemenangan kaum nasionalis yang tetap menjaga utuh bangsa ini. Jelas hal itu yang diimpikan Muzadi, Gus Dur dan Mega sendiri.

Kini Hasyim Muzadi telah pergi. Ia pergi dengan wajah senyum karena ia yakin bangsanya tengah dipimpin oleh tangan benar Jokowi. Sepeninggalnya, Jokowi akan tetap meledakkan spirit idealismenya untuk membangun terus bangsa ini. Spirit hidup Muzadi itu juga telah dibakar membara Megawati dengan mendukung Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk lima tahun ke depan.

Selamat jalan KH Hasyim Muzadi.







Leave a Reply