Bagaimana jika yang meninggal bukan ulama sejati?

Kemarin kita semua berkabung. Sedih. Setelah Gusdur, Bapak Bangsa sekaliber KH Hasyim Muzadi telah meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya. Kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa.

Terlihat di sana ada Biksu, ada Pendeta, Romo semua tokoh lintas agama hadir di acara pemakaman KH Hasyim Muzadi. Kyai sekaligus Ulama yang ramah terhadap siapapun juga. Ulama yang tidak pernah membuat kuping panas dari golongan manapun. Oleh beliau dirangkul. Dikawani. Diajak bersahabat. Bahkan konon sang Kyai Almarhum sudah WIRA WIRI ke Vatikan. Vatikan yang menjadi Kiblat dari Agama Nasrani.

Itulah figur dari ulama Sejati dengan sejuta hal kebaikan dan patut ditiru. Yg terbukti memberi Katauladanan sikap perilaku dan Aklak.

Terus, bagaimana jika yang meninggal itu ulama tidak Sejati?

“Hallaaahh… pertanyaan kok aneh tow Mas, Mas,” itu ucapan sahabat dengan logat Cepunya.

“Lho …. rasanya ada tow yooo ulama yang suka menyalahkan, bahkan suka sekali mengkofar-kafirkan, suka menjelekkan agama lain masuk neraka. Suka membuat suasana tidak kondusif. Sehingga menimbulkan kontra toleransi. Umat makin bingung. Merasa paling bener dalam membuat tafsir. Termasuk dalam hal memilih seorang pemimpin di negeri yang berdasarkan Pancasila. Negeri yang plural. Negeri yang terdiri dari berbagai suku, agama dan ras. Yang juga mempunya persamaan dalam hak dipilih dan memilih.

“Entahlah…. Semua tergantung sudut pandang. Tergantung yang menilai. Lha, wong Kyai Said saja ada yang bilang Syiaah.”

“Trus, kira-kira jika ada ulama yang tidak sejati itu meninggal, sampeyan piye, Mas?”

“Wadduuhhh …. Pertanyaan kok dilempar ke saya lagi. Sebentar ke WC dulu. Biar Plooooooong… “

Plooong. Sodara-sodara….

Foto header: Salah satu tumbuhan hutan yang langka yang di kalangan Suku Karo dikenal dengan nama Srat Dibata (pesan tertulis dari Tuhan) 






Leave a Reply