Mungkin penumpang online masih jarang dibicarakan. Yang sering dibicarakan adalah transportasi online. Jika tranportasinya online, mengapa penumpangnya tidak disebut penumpang online? Tentu saja kita sepakat bahwa maksudnya bukan penumpangnya yang online, tetapi proses bagaimana penumpang mendapatkan transportasi sampai transaksi pembayaran yang dilakukan melalui aplikasi berbasis internet, yakni yang disebut online. Hal hampir sama pernah terjadi dalam memaknai tol laut yang digagas pemerintahan Jokowi-JK. Tol laut tidak bararti tol dibangun di atas laut, akan tetapi laut menjadi media penyambung antar pulau.

Kembali ke transportasi berbasis aplikasi, alias online.

May 2016, selama 2 minggu saya tinggal di Hotel Java Paragon dalam rangka training dan sertifikasi. Lokasi training ini di Jl. Raya Sememi. Jarak tidaklah terlalu jauh karena, jika lewat tol, hanya 15 km. Sedangkan lewat jalan non tol jaraknya sekitar 19 km. Baik jalan tol maupun non tol, waktu tempuh menjadi sangat lama karena sangat macet. Jalanan yang macet tentu bisa dibayangkan ongkos yang sangat mahal jika menggunakan taksi. Dengan kata lain, sudah mahal, waktu tidak bisa diprediksi. Padahal saya butuh kecepatan waktu tempuh dan juga ongkos yang tidak mahal untuk sampai ke tempat training.

November 2016, selama 1 minggu, saya juga harus menempuh 18 Km dari Kabupaten Bandung menuju pusat Kota Bandung. Saya mengawali dari rumah, Kabupaten Bandung pada pukul 06.30 menggunakan angkot (Tranportasi Konvensional). Pilihan taksi tidaklah bijak. Di jam sibuk, bahkan taksi yang terkenal keramahannya itupun akan mengatakan: “Sedang tidak ada taksi.” Pengalaman saya bukan tidak ada taksi, tetapi taksinya tidak mau mengambil penumpang karena harus melewati titik kemacetan.

Perjalanan dengan angkot ternyata sangat lambat karena kemacetan yang katanya sudah biasa saat jam sibuk pagi hari. Pukul 07. 30 saya belum sampai ke tujuan. Padahal saya akan memulai training pada pukul 08.00 WIB. Melihat lalulintas yang masih macet parah saya yakin bahwa dengan Damri yang nyaman tidak akan sampai ke tujuan tepat waktu. Perkiraan saya butuh waktu 1 jam lagi, yang artinya saya akan sangat terlambat.




Untuk kedua kondisi itu, saya butuh kecepatan dan ketepatan waktu serta ongkos yang tidak mahal. Untuk itu sangat tidak mungkin saya peroleh dengan transportasi konvensional yang terbaik sekalipun. Saya bersyukur, dan sangat berterimakasih permasalahan tranportasi yang saya alami ada solusi. Solusi itu bernama Go-Jek. Dalam kedua kasus training, saya memiliki ketetapan waktu yang sangat memuaskan. Sekalipun jalanan super macet, Go-Jek selalu punya jalan alternatif. Ditambah lagi biaya yang sangat ringan. Setiap kali saya sampai tujuan, saya akan diminta untuk melakukan penilaian terhadap supirnya. Beberapa kali saya juga complain dengan pelayanannya. Lewat sistem yang dimiliki Go-Jek memiliki control yang sangat baik akan pelayanannya. Saya kira akan sangat sulit dilakukan complain terhadap transportasi konvensional.

Rasa terima kasih saya terhadap Go-Jek dengan tulus saya rasakan pada Maret 2017, pada hari Selasa atau Rabu, istri saya harus membeli kebutuhan Apotek kami di Pusat Kota. Mengendarai sendiri motor ke pusat kota istri saya belum berani. Atas anjuran saya, dia yang berprofesi sebagai apoteker menggunakan jasa Go-Jek. Tepatnya Go-Ride. Saya melakukan pemesanan Go-Ride melalui hand phone. Dengan jarak 46 km dari Kota Bandung, saya memesan Go-Ride. Saya juga bisa memantau perjalanan istri saya dari hp saya. Go-Jek benar-benar menawarkan solusi ketepatan waktu dan harga yang murah.

Dipublikasikan di Kompas Online, 14 Maret 2017, bahwa Kementrian Perhubungan akan memberlakukan PM 32 Tahun 2016, dimana salah satu yang diatur adalah batas bawah harga taksi atau transportasi berbasis aplikasi. Alasannya untuk kesetaraan atau untuk menghindari persaingan yang tidak sehat. Saya sendiri yang sudah merasakan kedua transportasi tersebut (online dan konvensional) merasa sangat aneh. Jika disebut untuk mengatasi PERSAINGAN TIDAK SEHAT, MAKA SIAPA SEBENARNYA YANG SAKIT?

Harga telor naik, pemerintah langsung bekerja keras untuk menurunkannya. Demikian juga dengan kenaikan harga beras, daging, dan bahan pangan lainnya. Jika harga melonjak naik, pasti akan segera dicarikan jalan untuk menurunkannya. Ternyata ini tidak terjadi pada transportasi. Ketika ongkos transportasi berbasis online bisa jauh lebih murah, kok saya merasa aneh kenapa pemerintah ingin menaikkannya. Harga murah malah diminta lebih mahal dengan alasan kesetaraan. Alih-alih untuk kesetaraan, justru ini tidak adil ketika masyarakat memiliki solusi sendiri untuk biaya transportasi lebih murah malah dituduh merusak kompetisi. Pemenang dari suatu kompetisi adalah bagian yang melakukannya dengan inovasi yang kreatif, bukan dengan petisi alias demonstrasi karena tidak bisa berinovasi.

Kendatipun Kementrian Perhubungan tunduk dengan desakan demonstrasi, sehingga akan memberlakukan permen 32 tahun 2016, saya berkeyakinan transportasi konvensional tetap tidak akan mampu bertahan jika tidak berubah alias berinovasi. Jika pelaku transportasi konvensional melakukan demonstrasi untuk memaksakan kehendaknya, maka dari sisi transportasi berbasis aplikasi bukan mereka yang akan berdemonstrasi. Kami yang sangat tertolong dengan kehadiran transportasi seperti Go-Jek inilah yang akan berdemonstrasi. Demonstrasi kami tidak akan ada suara teriakan. Tidak juga dengan memblokir lalulintas. Kami juga tidak akan mendatangi kantor-kantor pemerintah. Demonstrasi kami akan bernama boikot.

Cukup sederhana, kami tetap saja menggunakan transportasi berbasis aplikasi. Sekalipun sejenis Go-Jek jadi lebih mahal, saya sendiri akan tetap memilih mereka. Cepat, tepat, dan terukur, serta semua dapat terkendali karena semua tercatat. Bahkan keuangan mereka pun sangat mudah untuk diaudit.






Leave a Reply