Oleh: Makabegina Sukabersim

Pengalaman saya sewaktu di kampung halaman. Dulu, di kampung saya (kami) adalah mayoritas Suku Karo. Di daerah itu memang asalnya Suku Karo. Saya merasa, pada saat itu, Suku Karolah yang paling hebat di antara suku-suku yang ada.

Selain itu, saya merasa adat istiadat adalah kekolotan dan tidak perlu karena membuat repot saja. Apalagi oleh adanya saling membenci antara satu suku dengan suku lainnya serta dibumbui pula dengan rasa iri dengki.

Akan tetapi, semenjak saya beranjak pergi meninggalkan kampung halaman, yang menurut saya lumayan jauh, di sini saya merasakan bagaimana kehidupan sebenarnya. Hanya ada beberapa orang Karo yang saya temui. Tapi, kami yang di perantauan ini, sangat menghargai budaya asal kami walaupun itu tidak sempurna.

Kami juga sekaligus mengutamakan kearifan lokal, dan apabila ada masalah sesama Suku Karo, pasti ada satu ucapan: “Enggo mei, kita pei 5 ngkibul ngenca jei, si tahanen ka kita.”

Di sini aku banyak mendapat pengalaman; baik dalam masalah antar budaya maupun antar agama. Mari keluar dari zona nyaman kita agar lebih mengerti arti hidup.

Ini sebuah lamunan di tengah malam nan sepi pembeli karena cuaca dingin serta belajar bersyukur. Salam mejuah-juah arah Kerangen Rawa nari. Kalimantan Tengah.

Foto header: Jhon Rocky (Sora Sirulo)











Leave a Reply