Suatu hari di tahun 1968. Usiaku masih 5 tahun. Seperti kebanyakan anak-anak di daerah pesisir di Idonesia, tempatku bermain seharian adalah sungai. Hanya di malam hari setelah makan malam kami bermain di kesain, halaman dari gabungan beberapa rumah yang berdiri berdekatan. Kalau di siang hari, kebanyakan kami memancing ikan di sawah-sawah Kampus USU atau menghingga ke Kampung Susuk dan Kampung Kabung. Selebihnya, kami bermain di sungai, Lau Burah (Melayu kata Sungai Babura).

Suatu hari, kami kanak-kanak sedang asyik mandi di satu bagian Lau Burah. Di bagian hulu ada Tapin Diberu (Tepian Perempuan). Ada beberapa gadis asyik menyuci piring dan ibu-ibu menyuci pakaian di sana. Sedangkan kami asyik bermain alep sambil menyelam di sungai, alep dadap takal (pegang kepala); cara mengelak paling baik adalah bisa menyelam lama karena kepala tidak bisa dijamah bila berada di bawah permukaan air.

Tiba-tiba saja para perempuan di bagian hulu meloncat ke tempat lebih tinggi. Sambil berteriak histeris. Entah apa saja mereka bilang, tapi salah seorang berkata:

Peeerrrrsilihiiiiiii ……. “

Mendengar kata persilihi, sebagian teman-temanku bagai hendak memburu sesuatu yang terhanyut di permukaan sungai. Aku tidak tahu apa itu persilihi, tapi dari reaksi teman-teman seperti sesuatu yang sangat istimewa.

Dengan cepat aku mendahului mereka berlari di atas air sungai dan meloncat bagaikan seekor anak harimau melintasi kepala mereka. Menyelam aku di dalam air dengan perhitungan akulah orang pertama yang menggapai batang pisang yang terhanyut itu, yang sepertinya sangat istimewa sehingga para perempuan, baik gadis maupun sudah ibu-ibu, tanpa menghiraukan payudaranya yang naik turun meloncat ke tebing sungai (seperti ketakutan teramat sangat).




Betul perhitunganku. Akulah pemenang dari rebutan batang pisang itu, yang ternyata berukir. Ukiran manusia. Bongkah akarnya diukir menjadi kepada dan wajah seseorang dengan mata, hidung dan mulutnya.

Anak-anak yang lain mengakui akulah sang pemenang perlombaan spontan itu. Tidak ada yang menyadari saat itu bila caraku melayang di atas kepala mereka adalah cara yang kulakukan juga nantinya kala SMA ikut tim sepakbola Popsi Medan menjuarai Popsi Sumut. Beberapa teman setim itu ada yang menjadi kapten Medan Jaya (Taufik Ashari), pemain PSSI (Marzuki Nyakmad), dan PSMS (Simon), Aku saat itu adalah penjaga gawang.

Dengan hati bonggah, aku membawa batang pisang berukir itu ke rumah. Kuberdirikan di balik pintu depan,

Tak lama kemudian, hari sudah mulai sore, ayahku pulang kerja. Dia sorong daun pintu untuk masuk ke dalam rumah dan, kemudian, menutupnya kembali. Tak pernah kudengar suara ayah begitu menjerit ketakutan, tatkala melihat batang pisang berukir di balik daun pintu.

Ayahku, yang selama itu aku pikir orang paling pemberani di dunia ternyata menggigil ketakutan melihat batang pisang kebanggaanku. Dengan sisa-sisa tenaganya, dia raih batang pisang itu dan mencampakkannya ke depan rumah yang saat itu masih ladang-ladang. Sekarang sudah lama menjadi perumahan dosen USU.

Aku protes. Kuceritakan bagaimana batang pisang itu menjadi kebanggaanku. Tapi dia tidak mau mendengar kisahku. Ayahku tidak tertarik bagaimana aku melayang di atas kepala anak-anak lainnya dan menukik menyelami sungai dan kemudian mendekap batang pisang itu. Dan aku berkata dengan lantang dan tegas: “Ajangku!”

Anak-anak lain surut dua tiga langkah di genangan air sungai. Mengakui kepiawaianku yang tak mereka sangka-sangka.

Tapi ayah …. Dia tidak peduli dengan ceritaku. Dia sudah punya cerita komplit tentang persilihi ……. Tentang persilihi ….

Sekarang aku sadari, setelah banyak belajar kasus-kasus serupa di seluruh dunia …. Ah, ternyata ayahku terlalu banyak dipengaruhi mitos Kristen. Ketakutan terhadap persilihi adalah ketakutan Kristen, bukan ketakutan orang-orang yang dituduh Perbegu itu.




Kalau orang-orang Karo di masa sebelum beragama takut pada persilihi, tentunya mereka tidak hanyutkan persilihi di sungai. Menghanyutkan persilihi di sungai bukanlah sebuah ritual yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dilakukan pula di sebuah tapin kuta (tempat mandi kampung). Bahkan ada yang dilakukan setelah mengadakan ritual musik dan menari melibatkan seluruh warga kampung. Ini biasanya disebut persilihi mbelin (mbelin= megah)

Aku sama sekali tidak pernah takut pada persilihi.

Foto header: Lau Burah saat ini (Sumber: Harian Analisa). Foto bawah: Lau Burah di bagian hulu (Medan Johor) sekarang ini yang masih seperti Lau Burah di masa kecil saya di bagian Titirante (Medan Baru) (Sumber: Ari Putra)


1 COMMENT

Leave a Reply