Malam Pesona Budaya Karo di PRSU Membahana. Bupati Karo Buat Blunder

2
1284

DENHAS MAHA. MEDAN. Malam Pesona Budaya Karo di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) malam ini [Senin 20/3] berlangsung meriah. Ribuan orang hadir dan menikmati suguhan dari seniman-seniman Karo seperti Antha Prima Ginting, Ramona Purba, Jacky Raju Sembiring, Romello Armando Purba, Brevin Tarigan dan lain-lainnya.

Gundala-gundala, Tari Njujung Baka dan Ndikkar yang dipersembahkan oleh Simpei Sinulingga beserta kelompoknya menambah meriahnya Malam Pesona Budaya Karo ini.

Bupati Karo Terkelin Brahmana dan Muspida Kabupaten Karo yang hadir turut mengapresiasi acara di Pekan Budaya Karo Sumatera Utara. Beliau Juga menambahkan agar ke depannya Taman Mejuah-juah Berastagi setiap minggunya dapat diisi dan dimeriahkan oleh paa seniman Karo.

“Pemerintahan Kabupaten Karo akan mendukung para seniman Karo untuk tampil secara rutin di Taman Mejuah-juah, Berastagi,” ujar Terkelin Brahmana kepada ribuan hadirin.

Adapun Theo Jeremia Barus mengatakan, begitu banyak warga Karo dan non Karo yang hadir di Pekan Raya Sumatera Utara malam ini membuktikan kerinduan akan seni budaya Karo.




“Ke depan hendaknya kerinduan ini meningkat dan semakin produktif,” katanya.

Antha Pryma Ginting setelah menyanyikan lagu Habis Tempat berpesan dan mengajak semua ribuan warga Karo yang hadir agar Mulai mencintai Seni Budaya Karo dari hal yang paling kecil.

Blunder Bupati Karo

Di balik kegembiraan atas tingginya minat menyaksikan acara kesenian Karo malam ini, tersisa sebuah blunder yang sebenarnya tak perlu terjadi bila saja Bupati Karo mengenal Sejarah Suku Karo. Dalam Kata Sambutannya, dia mengatakan bahwa orang-orang Karo di Medan adalah perantau.

“Waduh,” celutuk seorang mahasiswi yang hadir di sana.

“Sudah secara resmi pendiri Kota Medan adalah Guru Patimpus Sembiring Pelawi dan monumennya pun ada, mosok seorang Bupati Karo membuat pernyataan seperti itu,” kata si mahasiswi Karo yang tak habis pikir.

Seorang penonton lain berkata lebih laconic lagi.

“Orang-orang dari Laguboti sana pun mengaku-ngaku asalnya dari Medan makanya orang Jakarta bilang Horas sama orang asal Medan. Ini si kawan, dibilangnya pula orang Karo perantau di Medan. Perlu belajar Sejarah Suku Karo kawan kita yang satu ini,” katanya sebagaimana tertangkap oleh telinga wartawan anda.

Tapi ada juga yang melihat ucapan Bupati Karo itu hanya sebagai kecerobohan atau tidak sadar ucapannya yang didengar publik bisa berdampak lain di dalam kompetisi etnik sekarang ini. Menurutnya, Bupati tidak berpikir sejauh itu.




“Bupati hanya menjelaskan mengapa panitia menyediakan makanan adalah mengingat sebagian dari penonton datang dari tempat jauh, seperti halnya Karo Gugung, Langkat dan Deliserdang. Maksudnya baik tapi dia ucapkan dengan bahasa yang kesalahannya fatal,” kata pria setengah baya ini.

Tapi memang perlu banyak pembenahan. Kalangan birokrasi ini mungki saja terbiasa dengan pertemuan-pertemuan di kalangan pemerintah sehingga mereka mempergunakan bahasa yang sudah terbiasa mereka pakai. Lihat saja souvenir miniatur rumah adat yang mereka jual di Paviliun Kabupaten Karo, ditulis Batak Karo. Ini menandakan Bupati dan timnya dari Pemkab Karo tidak mampu keluar dari ranah bahasa birokrasi untuk masuk ke ranah politik budaya.

Ini juga menandakan ketidakgesitan Pemkab Karo mengikuti irama dan langgam Karo akhir-akhir ini yang meronta melepaskan diri dari diklaim Batak.

“Memang Pemkab Karo tak perlu melibatkan diri dalam perdebatan itu, tapi tentu saja tak ada salahnya berbuat sedikit lebih pintar menghadapi perdebatan. Kecuali kalau Bupatinya tidka mau tahu. Itu lain soal,” masih kata pria setengah baya tadi.


2 COMMENTS

  1. coba tanya dia siapa penduduk asli kota medan mungkin pak bupati karo itu tau asal usulnya buat nambah2 pengetahuan..

  2. Kalau bupati Karo Terkelin Berahmana bilang orang Karo perantau di Medan, dia menghianati sejarah Karo yang mendirikan kota Medan, sejarah kerajaan Aru sekitar Hamparan Perak dan setelah terdesak oleh kekuasaan kerajaan islam Aceh, bikin benteng terakhir di Delitua belasan km dari Medan yang masih terlihat jelas sebagai bukti kekuasaan politik/ekonomi suku Karo. Sekeliling kota/daerah yang kemudian dinamakan Medan, terdapat kekuasaan politik Karo seperti kerajaan/kekuasaan Datuk Sunggal sebelah barat, panglima-panglima berbagai kekuasaan Karo sekitar Lau Cih/Delitua, semua hanya berjarak belasan km dari titik pusat Medan itu sendiri. Jadi jauh sebelum berdirinya Medan, jauh sebelum kedatangan suku-suku lain ke daerah ini, suku Karo sudah bermukim disini dan punya kekuasaan politik dalam menghadapi kedatangan dari luar seperti dari China, India (Hindu), Arab (islam), Portugis (Kristen).
    Dalam ethnic competition yang sangat gesit di Sumut dan Medan khususnya, tidaklah perlu heran kalau data-data lama existensi suku Karo dan kekuasaannya di Medan dan Sumtim (Deli-serdang) akan berusaha dilenyapkan dari muka bumi. Orang Karo adalah pemilik tanah ulayat Deli-serdamg dan Langkat yang sekarang dimiliki oleh banyak pendatang suku lain dan dengan segala cara mau melenyapkan existensi Karo dari daerah ulayatnya sendiri. Itulah ethnic competition.

    Bupati Karo mestinya jadi contoh kesetiaan kepada etnis Karo dan identitas Karo, bukan menghianati etnisnya dengan mengaburkan asal usul sukunya sendiri yang mendirikan kota Medan. Kalaupun punya istri bukan orang Karo tetapi tidak perlu jadi alasan menghilangkan atau tidak mengakui asal usul asli Karo di Medan dan sebagai pendiri kota Medan.

    Tiap tahun dirayakan hari jadi kota Medan yang dibangun oleh Guru Patimpus. Dalam ethnic competition yang begitu hebat di Medan, tentu diantara suku saingan sangat berkepentingan menyisihkan suku Karo dari sejarahnya, seperti juga dalam persaingan kekuasaan di Sumut dimana suku Karo jauh tersingkir dan terpinggirkan. Sebagai bupati Karo mestinya mengerti percaturan ethnic competition ini, jangan malah mengkhianati sukunya sendiri.
    MUG

Leave a Reply