Kolom Asaaro Lahagu: Sidang Ahok Ke-15: Instink Jokowi Terbukti, Lawan Tak Berkutik

0
1033

Pada kasus Ahok itu, sebetulnya Jokowi sedang dijebak. Jika Jokowi membela Ahok, berarti Jokowi sedang membela penista agama. Hal yang sama berlaku bagi kepolisian. Polisi pilih kasih, polisi membela Ahok, si penista agama. Jika demikan, maka gemuruh demo pun semakin berlaksa. Jumlahnya bisa mencapai  77 juta karena bertebaran di seantero Nusantara, dari Aceh hingga ke Papua. Ini bisa menjatuhkan Jokowi.

Sebaliknya jika Jokowi membiarkan Ahok tersangka, terdakwa, terpidana dan masuk penjara, maka tamatlah riwayat duet maut Jokowi-Ahok. Ahok pun tersingkir dari pertarungan Pilkada DKI dan menyisakan Anies vs Agus yang berduel. Masing-masing merasa di atas angin. Agus mudah mengalahkan Anies dan Anies berpandangan mudah mengalahkan Agus. Sasaran selanjutnya Pilpres 2019.

Namun, grand design Jokowi selangkah di luar prediksi lawannya. Jokowi paham jebakan kuda itu. Dua-duanya ia kerjai dengan cekikikan. Tidak masalah Ahok tersangka, namun ia tidak boleh dipenjara. Titik. Ahok boleh terdakwa, namun ia harus aktif kembali menjadi gubernur DKI Jakarta setelah kampanye.

Pun  tidak masalah Ahok bertarung pada 2 putaran. Karena hal itu sesuai dengan prediksi. Itu target grand design yang tidak sulit dicapai di tengah sidang yang masih memberatkan Ahok. Namun, agar Ahok masuk pada putaran ke dua, salah satu saingan harus disingkirkan. Pilhan paling empuk adalah Agus karena elektabilitasnya tertinggi dari berbagai survei. Untuk sementara Anies diabaikan. Caranya, isu korupsi pasangan Agus, Silvi, ditumis, digoreng hingga dibakar.

Hasil dari grand design pun seperti yang terjadi. Agus tersingkir, Ahok masuk putaran ke dua dan tinggal berduel dengan Anies. Nah, sekarang mudahlah bagi The master of designer menyerang Anies. Segala panah, meriam dan rudal pun semua diarahkan kepada Anies. Isu korupsi dan kasus hukum pun mulai ditembakkan. Isu korupsi jelas sepadan dengan isu penistaan agama Ahok. Jadi seimbang, sepadan dan fair. Mantap sama-sama punya kasus hukum.

Jika hari ini Sandiaga dipanggil untuk diperiksa Bareskrim Polri, itu adalah tahap awal penumisan kasusnya. Minggu depan Sandi kembali dipanggil karena kasusnya masuk pada tahap penggorengan. Akhir bulan, mungkin kasus Anies mulai masuk pada tahap penumisan. Setelah ditumis, lalu digoreng, dibakar hingga gosong atau hasilnya tetap murni. Sebagai perbandingan kasus Ahok sekarang masuk pada tahap dibakar. Terlihat Ahok tidak gosong karena dibakar. Ahok terlihat tetap murni, tahap api karena esensinya mutiara.

Instink Jokowi dan Lawan yang Tak Berkutik

Instink Jokowi sangat tajam. Ia paham kasus Ahok bisa menguap-melamban seiring dengan waktu. Kendatipun Ahok tersangka, Ahok pasti kembali bangkit karena  uluran tangan Jokowi akan ikut menarik tangan Ahok dari dasar jurang. Masih ingatkah kemesraan Jokowi-Ahok di proyek Semanggi? Lalu Jokowi menyaksikan Ahok salaman dengan Raja Salman? Itu adalah tarikan tangan Jokowi kepada Ahok.

Untuk membuktikan insting Jokowi itu, uji coba (try out) pun 3 kali dilakukan. Hasilnya sesuai dengan grand design. Pertama, desakan agar Ahok dipenjara tak digubris. Hasilnya, lawan pun menyerah. Suara sumbang agar Ahok dipenjara kini sudah menguap dibawa angin.

Ke dua, Jokowi ditekan untuk memberhentikan Ahok dari jabatan gubernur. Jokowi tak menggubris tuntutan itu dan malah mengetest situasi. Ia menunggu apakah ada demo bergelombang dengan jumlah 7 jutaan? Ternyata tidak ada. Tinggal demo-demo seupil yang tak berarti. Jokowi pun tetap pada pendiriannya, Ahok tetap aktif menjadi gubernur.

Ke tiga, Ahok diprediksi tersingkir pada putaran pertama Pilkada sesuai dengan pembangunan opini ala Denny JA. Namun yang terjadi justru Ahok yang keluar sebagai pemenang suara tertinggi. Kendatipun Ahok tersangka, ia tidak akan babak belur. Karena ia benar, maka ia akan kembali di atas angin. Begitulah instink Jokowi pada bulan November lalu.

Kini ujian terakhir adalah pertarungan pada 19 April mendatang. Jika mengamati situasi terkini, maka terlihat sidang Ahok ke-15 itu sudah menguntungkan Ahok. Situasi yang tepat yang sesuai dengan grand design. Semakin lama sidang Ahok, ia semakin di atas angin. Grafiknya naik. Ia yang dari zero kini berangsur-angsur menjadi hero.

Pada sidang ke-15 Ahok hari ini, Selasa, 21 Maret 2019, Ahok dinyatakan oleh para saksi ahli bahwa Ahok tidak bersalah. Ahok tidak menghina Al-Quran. Kata ‘pakai’ sangat berpengaruh. Dengan kata itu, Ahok sama sekali tidak mengatakan bahwa Surat Al-Maidah bohong, namun setiap orang bisa menggunakan Surat Al-Maidah itu untuk membohongi orang lain.




Tidak ada unsur penghinaan dan penistaan agama yang dilakukan Ahok berkaitan dengan ucapan ‘dibohongi pakai Surat Al-Maidah itu. Ahok menyinggung ayat itu karena berdasarkan pengalamannya yang digencet, dijegal, pada masa lalu.

Instink Jokowi kemudian bermain di sini dengan kalkulasi jitu. Jika Ahok dinyatakan bebas, masihkah ada demo 7 jutaan? Melihat hasil test tiga yang sudah berlalu, maka bisa disimpulkan bahwa jika Ahok bebas, demo pun sudah tidak ada lagi. Kalau ada, tinggal tamasya Al-Maidah berskala kecil.

Jika demikian, maka benarlah apa yang dikatakan hakim. Mari kita percepat sidang-sidang ini, tidak perlu lagi dilama-lamakan. Buang-buang waktu, tenaga dan hanya menggangu orang di jalan saja.  Kesimpulan kasus itu pun sudah di tangan. Ahok korban nafsu begundal politik. Nah, jika begitu ending-nya, sudah pasti lawan-lawan Ahok tidak mampu berbuat banyak, alias tidak berkutik.

Foto-foto yang ditampilkan adalah busana tradisional Suku Karo (Sumatera Utara) yang dikenakan oleh Sanggar NGGARA SIMBELIN pimpinan Simpei Sinulingga dari desa budaya Lingga (Dataran Tinggi Karo) dan EMA (Ersada Min Arihta) arahan Sri Ngena br Gurusinga dari Medan. Kedua kelompok seni ini tampil kemarin malam [Senin 20/3] di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) Medan.










Leave a Reply