Oleh: M.U. Ginting (Swedia)

 

Kalau bupati Karo Terkelin Berahmana bilang orang Karo perantau (tandang) di Medan, dia mengkhianati sejarah Karo yang mendirikan Kota Medan. Sejarah Kerajaan Aru sekitar Hamparan Perak dan setelah terdesak oleh kekuasaan kerajaan Islam Aceh, bikin benteng terakhir di Delitua belasan km dari Medan yang masih terlihat jelas sebagai bukti kekuasaan politik/ ekonomi Suku Karo.

Sekeliling kota/ daerah yang kemudian dinamakan Medan, terdapat kekuasaan politik Karo seperti kerajaan/ kekuasaan Datuk Sunggal sebelah Barat, panglima-panglima berbagai kekuasaan Karo sekitar Lau Cih/ Delitua, semua hanya berjarak belasan km dari titik pusat Medan itu sendiri.

Jauh sebelum berdirinya Medan, jauh sebelum kedatangan suku-suku lain ke daerah ini, Suku Karo sudah bermukim di sini dan punya kekuasaan politik dalam menghadapi kedatangan dari luar seperti dari China, India (Hindu), Arab (islam), dan Portugis (Kristen).

Dalam ethnic competition yang sangat gesit di Sumut dan Medan khususnya, tidaklah perlu heran kalau data-data lama existensi Suku Karo serta kekuasaannya di Medan dan Sumtim (Deliserdang) akan berusaha dilenyapkan dari muka bumi. Orang Karo adalah pemilik tanah ulayat Deli-Serdang dan Langkat yang sekarang dimiliki oleh banyak pendatang suku lain dan dengan segala cara mau melenyapkan existensi Karo dari daerah ulayatnya sendiri. Itulah ethnic competition.

Bupati Karo mestinya jadi contoh kesetiaan kepada etnis Karo dan identitas Karo, bukan mengkhianati etnisnya dengan mengaburkan asal usul sukunya sendiri yang mendirikan Kota Medan. Kalaupun punya istri bukan orang Karo tetapi tidak perlu jadi alasan menghilangkan atau tidak mengakui asal usul asli Karo di Medan dan sebagai pendiri kota Medan.

Tiap tahun dirayakan hari jadi kota Medan yang dibangun oleh Guru Patimpus. Dalam ethnic competition yang begitu hebat di Medan, tentu diantara suku saingan sangat berkepentingan menyisihkan suku Karo dari sejarahnya, seperti juga dalam persaingan kekuasaan di Sumut dimana Suku Karo jauh tersingkir dan terpinggirkan. Sebagai bupati Karo mestinya mengerti percaturan ethnic competition ini, jangan malah mengkhianati sukunya sendiri.






Leave a Reply