Bupati Karo perlu menyadari, bahwa sekarang sudah meluas gerakan Karo bersatu, jadi agar tanggap perasaan orang Karo saat ini. Kita sudah merasakan bahwa dilihat dari sejarah, maka semestinya posisi orang Karo menentukan di Sumut, dan selama ini banyak upaya menghilangkan pelan-pelan sejarah keberadaan orang Karo, sebagai penguasa Sumatera Timur sejak abad ke satu.

Setelah banyak putra putri Karo berkiprah di luar, dan membaca serta memahami berbagai sejarah yang sebenarnya, maka muncul kerinduan kesatuan Karo itu. Nah, pada saat itu sedang digalang dan digerakkan banyak putra putri Karo, semisal pembentukan berbagai organisasi dan forum, di Sumut maupun di luar Sumut, tiba-tiba ada seorang Bupati berbicara bahwa kalak Karo yang hadir di pagelaran Budaya Karo di PRSU, orang pendatang (diucapkannya dalam bahasa Karo dengan kata tandang)

Ini pasti mendapat respon yang luar biasa. Bupati Karo, yang tidak pernah hadir, dalam dua kali pesta Merdang Merdem yang sudah dilakukan Putra Putri Karo di Medan, tidak mampu menangkap apa sebenarnya jiwa dan roh pesta Merdang Merdem itu, bagi kita Karo di Medan, dan bagi eksistensi Kekaroan di Sumatera Utara. Seandainya dia hadirpun, kalau tidak peka akan perasaan dan roh serta jiwa Merdang merdem itu,maka dia akan tidak menangkap makna dan maksud sesungguhnya acara itu bagi Kekaroan.

Semua itu adalah upaya putra putri Karo di Sumut dan perantauan untuk menjahit kembali sejarah wilayah Karo, yang berakar pada asal budaya Karo yang telah diturunkan oleh Kerajaan Haru. Berarti, Bupati Karo ini tidak pernah belajar dari peristiwa Baliho di PTSP Kabupaten Karo, yang diturunkan Paksa oleh Orang Karo.

Mengapa nama yang tidak tepat dipakai di Tahura (Taman Hutan Rakyat, red.) dulu dibakar Orang Karo?

Serta mengapa Jl. Djamin Ginting merupakan jalan terpandang di Indonesia, mulai dari Apotik Padangbulan (Medan) sampai Jl. Kutacane (Kabanjahe)? Maka, belajarlah arti makna itu semua. Kalau tidak, maka siapa menabur angin akan menuai badai. Belajarlah budaya Karo sebenar-benarnya dan selama-lamanya, serta rasakan bagaimana perasaan psikologis orang Karo di Sumut dan di perantauan saat ini.










Leave a Reply