Politik Pilkada memang seru. Seru untuk dinikmati sambil nyeruput kopi ditemani gorengan roti bersumbu. Ketika mereka sudah mulai lelah di DKI, kini mereka bergeser ke Jawa Varat. Ke provinsi yang dua periode berturut-turut dipimpin oleh mereka.

Jika Ahok menyelesaikan banjir dengan kerja keras mengeruk sungai, membersihkan kali-kali, menurunkan Pasukan Oranye secara maksimal, di Jabar cukup simple dan praktis. Mengeluarkan Fatwa dan berdoa.

Lalu, apakah si Banjir beres? Ya, gak lah. Si Banjir malah mengalir sampai jauuuuhh.

Nah, ketika Kang RK ditenggarai mau ikut maju diusung oleh Nasdem, mereka sudah mulai kelojotan. Sudah mulai panas dingin. Malah ada yang kalap. Seperti iklan di sebuah produk: MABUK LAUT DARAT DAN UDARA….

Malah karena dikhawatirkan Kang RK tetep “Mbandoleng” dan keras kepala maju untuk Pilkada Jabar 1, si Panembahan Jonru sudah menulis “surat cinta”. Sudah mengiba-iba gaya Jonru. Gaya plintir memlintir bahasa yang langsung mendapat tepuk tangan auidence. Para pengikutnya.




Inilah dampak dari agama baru yang namanya agama Pilkada. Orang lain tetep salah. Termasuk Kang RK di syiah-syiahkan. diliberal-liberalkan. Pokoknya yang paling tidak betul. Dirinyalah yang paling betul.

Lalu apa tanggapan Kang RK?

Ya, biasa. Toh Pilkada Jabar masih lama. Namun jika ada yang rasis, hati-hati kena Screen Shot. Jika begini, lalu saya ingat sebuah nasehat: “Jangan engkau merasa paling suci dan paling benar, karena Allah maha tahu (Hr Muslim).

Jika Partai dengan Branded Agama merasa yang paling suci, lalu agama dari planet mana dipakai oleh partai itu, ya?

Lain Ahok, lain pula caranya memusuhi Kang RK. Jonru, Jonru ….






Leave a Reply