Konon, agama “diturunkan” untuk memperbaiki akhlak manusia, meluruskan budi pekerti yang saat itu dirasakan sudah mulai “bengkok”. Yang merasakan bengkok siapa? Yang mau meluruskan siapa? Jawabanya tentu tergantung dari keyakinannya masing-masing.

Ketika “situasi” dengan budaya yang dianggap melenceng, diutuslah manusia manusia pilihan untuk memberi kabar tentang hidup yang baik, tentang akhlak yang baik, tentang ada Dzat yang lebih tinggi, lebih berkuasa dan lebih segalanya. Dzat itu harus disembah . Harus dipuja-puja. Harus ditempatkan yang lebih mulia di atas segala galanya.

Apakah agama tidak boleh diganggu gugat kebenarannya? Bagaimana jika ada yang bilang agama adalah Hasil imajinasi manusia juga? Untuk menjustifikasi tentu juga tergantung dari keyakinan orang masing-masing.

Mengapa negara-negara di Jazirah Arab yang berlandaskan dan bahkan memakai Hukum Agama malah selalu rusuh? Selalu ada pembunuhan-pembunuhan serta pembantaian-pembantaian manusia, juga dengan dalih agama? Lalu, jika agama adalah Hak Paten dari Dzat yang maha benar, di mana kebenaran itu? Mengapa faktanya bangsa-bangsa itu ingin lari dari negaranya sendiri yang berdasarkan agama?

Mari sekarang kita tengok negara yang mengedepankan Eksitensi Budaya sebagai Landasan bernegara, seperti Jepang yang tetap kokoh dan berpijak dalam Budaya Lokal. Budaya yang konon kata orang beragama adalah Hasil Imajinasi manusia. Sekali lagi HANYA HASIL IMAJINASI MANUSIA,,

Lalu, ada Tiongkok, dan Asia Tengah yang juga menitikberatkan berkehidupan budaya. Mengapa justru tidak pernah terjadi perang antar golongan? Jika agama adalah ciptaan dari Dzat yang maha benar, mengapa harus konflik dan konflik mencari pembenaran keyakinan itu?

Rasanya, kedamaian adalah idaman dari semua manusia di muka bumi ini. Sejatinya, jika berbudaya lebih membuat manusia tenteram dan damai, mengapa harus repot-repot dipersoalkan? Juga sebaliknya, jika beragama lebih membuat manusia damai, lebih berakhlak, lebih berperikemanusiaan, tentu rasanya juga cita-cita semua manusia di kolong langit ini.

Tapi faktanya? Mengapa ada teroris dan ISIS?

Foto header: Penampilan musik dan tari Suku Karo di Hotel Tiara, Medan.




1 COMMENT

  1. “Mari sekarang kita tengok negara yang mengedepankan Eksitensi Budaya sebagai Landasan bernegara, seperti Jepang yang tetap kokoh dan berpijak dalam Budaya Lokal. Budaya yang konon kata orang beragama adalah Hasil Imajinasi manusia. Sekali lagi HANYA HASIL IMAJINASI MANUSIA,,

    Lalu, ada Tiongkok, dan Asia Tengah yang juga menitikberatkan berkehidupan budaya. Mengapa justru tidak pernah terjadi perang antar golongan? Jika agama adalah ciptaan dari Dzat yang maha benar, mengapa harus konflik dan konflik mencari pembenaran keyakinan itu?”

    Tulisan Ganggas Yusmoro ini sangat menarik, mengajak kita memikirkan lebih mendalam soal agama dan kultur/budaya. Yang mana yang lebih menentukan pembentukan atau perkembangan kharakter bangsa, sekarang lebih jelas dari tulisan ini.

    Dari sebuah catatan filsafat Buddha:

    Watch your thoughts, they become words;
    watch your words, they become actions;
    watch your actions, they become habits;
    watch your habits, they become character;
    watch your character, for it becomes your destiny

    Habits, tradisi, kultur . . . itulah yang membentuk kaharakter tiap orang atau tiap grup kultur (etnis) dan itulah juga yang membedakannya dari orang lain atau etnis lain pula. Dan kharakter ini tersirat dalam kesadaran ‘bawah sadar’, artinya bukan dibuat-buat atau bisa terbentuk dalam waktu singkat, bukan revolusi tetapi evolusi, tersimpan secara genetik. Karena itu juga kharakter itu menentukan destiny tiap orang atau tiap suku bangsa atau etnis. Untungnya sekarang dalam era internet ini semua orang bisa mencari dan menambah pengetahuannya soal apa saja termsuk soal kharakter yang membentuk destiny orang/suku itu.

    Kalau kita memperhatikan sekeliling kita dan membandingkan situasi konkret dengan kharakter dan destiny tiap orang atau tiap suku/etnis, pastilah sudah bisa menduga bagaimana kharakter etnis-etnis yang sudah punah atau yang bakal punah sekarang dalam ethnic competition yang semakin bersemarak, semakin hebat tak berprikemanusiaan. Saya katakan tak berprikemanusiaan karena tidak ada yang urusan apakah etnis itu akan lenyap dari muka bumi untuk selama-lamanya.

    Kalau ribuan tahun lalu sebuah kelompok manusia punah karena pertentangannya dengan alam. Kalau sekarang adalah karena pertentangannya atau persaingannya dengan grup manusia lain (ethnic competition). Tetapi dengan tambahnya pengetahuan manusia soal competition ini, tentu akibat negatif dari kompetisi ini pastilah bisa dihindarkan dengan pemikiran winwin solution atau kata orang Karo ‘sikuningen radu mengersing, siagengen radu mbiring’. Tidak ada atau tidak seharusnya ada golongan yang menginginkan kepunahan golongan lain yang berlainan kharakter tadi. Hanya saja untuk ini dibutuhkan pengetahuan yang lebih tinggi dan lebih mendalam.

    Kharakter orang Karo memang disesuaikan atau dilahirkan dalam situasi sangat alamiah, artinya hanya dalam pertentangan dengan alam. Karena itu sama sekali tidak cocok untuk dipakai dalam situasi persaingan sesama manusia atau sesama gerup manusia (etnis), yang sekarang kita sebut dengan nama ethnic competition. Persaingan ini secara alamiah mematikan bagi orang Karo terutama dalam menghadapi etnis-etnis yang mobilitasnya tinggi dan extrovert. Orang Karo yang mayoritas introvert, mundur atau sembunyi (cari comfort zone) kalau menghadapi braggarts loudmouth misalnya. Karena itu bagi orang Karo mulai sekarang harus bisa keluar dari zona amannya, step out of your comfort zone!

    MUG

Leave a Reply