Alkisah, ada sebuah negeri yang agamanya mayoritas. Namun, ternyata, sejarah membuktikan bahwa belum pernah satu kalipun partai yang berbasis agama mayoritas unggul dan menang dalam Pemilu. Yang salah siapa, dosa siapa?

Juga meski agama mayoritas, justru rakyat ogah dan malas untuk menjadikan tokoh dari partai agama untuk dijadikan panutan atau untuk dijadikan suri tauladan dalam berbangsa dan bernegara. Yang salah siapa? Dosa siapa?

Meski agama mayoritas, namun tokoh agamanya sering berselisih paham. Yang sono suka mengkofarkafirkan, suka marah-marah, suka njelek-njelekin tokoh agama yang berbeda, yang sini tokoh agamanya membuat damai. Membuat umat sejuk. Membuat tenteram. Itupun dimusuhi tokoh agama yang sono. Yang salah siapa? Dosa siapa?

Dalam berjalannya waktu, partai yang berbasis agama malah semakin tenggelam. Semakin tidak disukai oleh rakyat. Padahal rakyat agamanya juga sama. Yang salah siapa? Dosa siapa?

Ketika ada pemimpin yang agamanya sama, karena berbeda pendapat, karena berbeda aliran, eee…. malah dimusuhi. Yang salah siapa? Yang dosa siapa?

Ketika sebagian tokohnya nilep duit rakyat, malah ditangkep KPK, padahal selama ini santun dan agamis, malah tetep dibela. Tetep dikatakan itu adalah cobaan. Alhasil rakyat jadi muak. Rakyat jadi kepingin meludahi tokoh yang munafik itu. Yang salah siapa? Dosa siapa?

Dan, deretan yang salah siapa dan dosa siapa akan panjang jika saya tulis di sini. Namun, apakah mereka merasa salah dan merasa berdosa? Oraaa… tidak. Mereka tetep yang paling benar.









Leave a Reply