Saya terlahir di Medan, tak jauh dari Kampus USU. Ayah saya berasal dari Lauriman, tepat di kaki Gunung Siosar (Dataran Tinggi Karo). Menurut ayah dan ibu, saya telah pernah mereka bawa ke Lauriman sewaktu masih bayi. Tapi, itu tentu saya tidak ingat. Saya hanya ingat pertama kali ke sana kami berada di sebuah rumah adat Karo. Saat itu sudah malam. Sangat gelap di dalam rumah. Untung saja ada lampu teplok dengan tiang kayu berukir. Lalu, satu diantara 4 dapur di rumah itu apinya disulut untuk memasak air minum yang sekaligus dimaksudkan untuk lebih terang sehingga kami saling mengenali wajah.

Saat itu usiaku masih Balita. Nanti, setelah dewasa saya mengetahui bila rumah itu ditempati oleh 8 keluarga. 2 keluarga berdekatan menggunakan satu dapur. Di masing-masing dapur terdapat 5 tungku batu.

Aku dengar percakapan diantara para perempuan. Tak lama kemudian seorang ibu disuruh mengambil sesuatu dari rumah adat lain. Rumah yang satu ini ditempati oleh 4 keluarga yang menggunakan 2 dapur. Berbeda dengan rumah kami tadi yang memiliki 4 dapur.

“Rumah yang sana itu juga rumah kita. Namanya Kurung Manik, rumah pertama sekali dibangun di kampung ini,” kata ayah menjelaskannya padaku.

Sambil mendengar ayah, mataku terpana pada sebuah pemandangan yang tak pernah kulihat di Medan selama hidupku. Seorang perempuan keluar dari pintu dan perlahan menuruni anak tangga beranda sambil membawa obor. Perempuan itu hilang di kegelapan malam menyisakan nyala api yang meliuk-liuk dihembus angin. Anjing-anjing kampung menyalak sekeras-kerasnya menyambut perempuan itu. Menurut perhitunganku ada sekitar 30 anjing menggonggong saat itu. Mereka punya banyak anjing karena mereka sering berburu babi hutan.

Tapi, seorang kakek dari kampung ibu (Berastepu) yang menjadi tukang dari rumah kami ini di Lauriman pernah bercerita padaku, memang di malam hari kadang beberapa harimau turun memasuki kampung Lauriman.

“Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri sewaktu mau buang air kecil ke luar rumah di malam hari, beberapa ekor harimau berkeliaran di halaman,” kata kakek itu saat aku mewawancarainya mengenai konstruksi rumah Karo, sehingga aku memaklumi mengapa warga Lauriman memiliki banyak anjing.

“Rumah kita yang ini namanya Rumah Mbaru, sama dengan Rumah Mbaru di Ajinembah. Itupun rumah kita. Hanya saja, nenek moyang kita dari sana berladang ke sini dan kemudian membangun kampung ini. Kita keturunan pendiri kampung ini,” kata ayah.

Ada perasaan aneh di dalam diriku saat itu. Aku seolah-olah berada di satu negeri lain. Aku tidak bisa membayangkan bila ayahku semasa kecil bermain-main di kampung ini. Meski tempat yang kami duduki di rumah itu adalah tempat tinggal kakek nenekku kandung, tempat di mana ayahku terlahir, rasanya ini bukan negeriku. Mereka bangsa lain.




Walaupun Lauriman hanya berjarak belasan kilometer dari ibukota Kabupaten Karo, Kabanjahe, kenderaan dari Kabanjahe hanya bisa mencapai sebuah kampung tetangga, Manuk Mulia. Itupun bila saja Jeep Willis itu berhasil melintas kubangan yang dalam berlumpur. Aku hanya ingat kami berjalan dari Manuk Mulia menuju Lauriman menembus kegelapan malam.

Ayahku adalah orang pertama yang keluar dari Lauriman. SD dia ke Manuk Mulia, SMP di Kabanjahe, SMA di Pematangsiantar dan kemudian bekerja di Medan. Dia mengenal ibuku di Medan dan aku adalah anak mereka yang pertama.

Bila ayah dan ibuku pergi bekerja, aku dititip pada satu keluarga Jawa, ibunya si Sugeng. Dia selalu membawaku menyeberangi Sungai Babura dimana ada komunitas Jawa, di ujung Landasan Bandara Polonia. Dari sanalah di masa kecilku aku lebih lancar berbahasa Jawa daripada Bahasa Karo.

Ketika aku baru saja masuk sekolah, kami pindah rumah dari yang dekat Kampus USU itu ke tepi Jl. Jamin Ginting yang dulu masih bernama Jl. Patrice Lumumba dan berubah jadi Jl. Kpt. Pattimura sebelum Jl. Jamin Ginting. Sehari sebelum ritual pindah rumah, bus Sinabung Jaya berhenti di depan rumah yang baru. Beberapa ibu turun dari bus itu. Semua mengenakan sarung membungkus pinggang. Sebagian yang lebih tua mengenakan tutup kepala dari tenunan Karo yang disebut uis. Lalu, para lelaki muncul dari bus mengejutkan aku.

Sarung diselempangkan dari bahu ke pinggang. Ada yang menggantungkan parang di pinggang. Ada yang mengikat kepalanya dengan sarung. Ada yang menyelipkan pisau tumbuk lada dengan gagang berukir di pinggang. Aku kenal mereka!

Mereka adalah kerabat-kerabat dekatku. Salah satunya adalah yang selalu menggendongku di pundaknya (disebut tuak dalam bahasa Karo) bila aku pura-pura letih saat berjalan dari Manuk Mulia ke Lau Riman. Tapi, mengapa kali ini mereka bersikap seperti pendekar-pendekar di Cergamnya MAN, Teguh, Djair, Troy TS (Tarigan Silangit), dan lain-lain?

Selama ini mereka bersikap “berteman” denganku meski aku masih kanak-kanak dan mereka sudah bapak-bapak. Tapi, sekali ini, mereka menghormatiku seperti seorang raja. Begitu juga terhadap ayah dan ibuku.

Itulah Suku Karo. Saat itu aku belum mengerti apa yang terjadi. Aku masih menganggap mereka bangsa lain dan aku tidak rela bila ayah dan ibuku adalah bagian dari bangsa mereka. Aku menikmati mereka sebagai sebuah sisa-sisa budaya lama yang perlu dilestarikan tapi aku bukan satu diantara mereka.

Tapi itu cerita dulu. Ketika aku masih pikir duniaku adalah dunia yang paling benar sedangkan dunia lain tidak benar, meski bisa saja menarik atau unik. Di belakang hari aku menyadari, mau melepaskan diripun dari mereka aku tidak akan pernah lagi mampu. Akulah salah seorang diantara pendekar yang menyelempangkan sarung itu, dengan pisau berukir tumbuk lada di pinggang.

Pengalaman masa kanak-kanak itu bangkit kembali melihat banyak generasi muda menganggap Taneh Karo hanya sebatas Kabupaten Karo. Bukan hanya orang-orang Karo yang berasal dari Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung) yang menjadi wilayah adminitrasi Pemkab Karo, tapi juga orang-orang Karo yang lebih dari 10 generasi tinggal di Karo Hilir (Karo Jahe) menganggap mereka memang berasal dari Dataran Tinggi Karo dulunya.

Saya tanya seorang teman asal Bukitlawang merga Munte dari mana mereka berasal.

“Kata bapak, kami dari Tongging,” jawabnya.




Setelah saya tanya secara mendalam, ternyata pernyataan dari Tongging itu dasarnya hanya percakapan di tengah-tengah masyarakat bahwa Ginting Munte dari Tongging. Hanya karena Tongging lah yang dikenal luas banyak orang mengatakan yang dari merga Ginting Munte mengatakan dirinya berasal dari Tongging. Padahal mereka tak pernah ke sana dan tak punya kerabat satu pun yang tinggal di sana. Pilihan selalu jatuh ke Tongging untuk menyatakan sebuah tempat di Dataran Tinggi Karo, meski ada puluhan kampung di Dataran Tinggi Karo yang didirikan oleh Munte, tersebar dari perbatasan Kabupaten Karo dengan Kabupaten Simalungun hingga melewati perbasan Karo dengan Aceh sampai-sampai ke Kabupaten Aceh tenggara.

Seringkali pula Munte dianggap berasal dari Samosir untuk menegaskan bahwa Karo adalah Batak. Semasa masih menjadi guide, saya sering ke Samosir dan juga pernah penelitian berminggu-minggu di pedalaman sana, tak pernah saya temui kampung yang didirikan oleh Munte. Sedangkan di Kabupaten Karo dan Aceh Tenggara berjubel kampung yang didirikan oleh Munte. Begitu juga di Kabupaten Deliserdang dan Kabupaten Langkat.

Pembatakan Karo ternyata hanya menang cerita dongeng dan dongengnya pun dilmiah-ilmiahkan sehingga ilmiah tidak dan mitos pun tak genap.

Akir-akhir ini para pemuda Karo di Medan gencar mensosialisasikan monumen pendiri Kota Medan, Guru Patimpus Sembiring Pelawi, yang jelas-jelas adalah seorang putra Karo. Terlepas dari polemik apakah memang dia pendiri Kota Medan, jelasnya adalah bahwa secara resmi disahkan oleh DPRD Medan dan diakui oleh Pemko Medan memang dialah pendiri Kota Medan dan monumennya pun ada.

Pernah saya menjelaskan bahwa di dalam bukunya Jhon Anderson yang berjudul Mission to the East Coast of Sumatra in 1823 (terbit tahun 1826) bahwa beberapa raja Melayu di Deli mendapat ijin membangun wilayah kerajaan setelah mengawini beru Surbakti, putri Raja Karo Datuk Sunggal. Anderson menyebutkan Buluh China (bekas bandar Kerajaan Haru) dan Tanjung Manggusta (yang sekarang lebih dikenal dengan Tanjung Gusta) 2 kerajaan Melayu yang masing-masing pemaisurinya adalah putri Karo dari Sunggal. Demikian juga sejarah resmi Sultan Deli yang menjadi raja di Deli setelah mengawini Nangbaluan beru Surbakti.

Diterbitkannya buku Sebuah Pengantar Sejarah Urung Senembah (2016) oleh Yayasan Cahaya Karo atas usulan para dewan redaksi Sora Sirulo adalah untuk membuat dekat adanya wilayah Karo yang memanjang dari perbatasan Kabupaten Karo dengan Kabupaten Deliserdang hingga segaris dengan pusat Kota Medan. Di masa Pre Kolonial dan juga di masa Kolonial, ada 4 Kerajaan Karo seperti itu di Deliserdang dan 4 lainnya di Langkat.

Menurut ceritanya, Bukitlawang (Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat) didirikan oleh seorang Melayu yang mengawini putri Karo. Nah, Jhon Anderson melaporkan pola yang sama di Deli dan demikian juga sejarah resmi Sultan Deli. Pola seperti ini terdapat di banyak tempat di Asia Tenggara sebagaimana sudah ditulis oleh para antropolog ternama dengan istilah The Stranger King atau Political Myth oleh P.E. de Josselin de Jong, Sahlin, dan James Fox.

Perhatikan Hikayat Deli di mana dikisahkan Sultan Deli bertemu Putri Hijau di Negeri Dasar Lautan. Ketika dia ditanya mau bawa apa untuk oleh-oleh pulang, dia minta masakan daging. Sesampainya di permukaan laut dia disantap oleh buaya dan mati. Beda dengan kacungnya yang bersahaja hanya minta jagung yang nantinya berubah menjadi emas. Dialah kemudian yang menjadi Sultan Deli yang disambut rakyatnya di pantai.

Secara Antropologis, terpenting dari hikayat ini adalah bahwa legitimasi siapa yang menjadi Sultan Deli adalah dari Putri Hijau. Meski Kerajaan Haru terlibat polemik apakah itu Melayu atau Karo atau Simalungun, tak ada atau belum ada yang membantah bahwa Putri Hijau dari sebuah kampung Karo di Dataran Tinggi Karo bernama Seberaya. Dia menjadi permaisuri Kerajaan Haru yang merupakan salah satu kerajaan yang hendak ditaklukkan oleh Gajah Mada (sebagaimana tersurat di dalam Negara Kertagama), tapi tak kunjung berhasil alias Gajah Mada gagal menaklukkan Kerajaan Karo ini.

Saya paparkan seperti di atas, saya yakin banyak orang Karo sendiri menganggap saya terlalu bangga pada Karo. Soalnya, bagi mereka, ceritaku sangat terlalu jauh dari wawasan mereka.

Sangat bisa dimaklumi mengapa Bupati Karo Terkelin Brahmana merasa tidak bersalah mengucapkan kita adalah tandang di Medan yang artinya Suku Karo adalah pendatang di Medan. Dalam konteks apapun perkataannya itu, dia ucapkan kepada ribuan orang publik dan saat berucap dia adalah sebagai seorang Bupati Karo. Acaranya pun adalah atas nama Pemkab Karo. Tidak perlu membentuk pasukan penangkis berita dan kemudian menyalahkan media yang memberitakannya mempelintir ucapan bupati itu. Cukup mengatakan bahwa dia (bupati) mengakui Medan didirikan oleh orang Karo atau memang bahwa Karo adalah betul tandang di Medan secara suku.

Bupati boleh tunjukkan pada publik dan rakyatnya, dia memang peduli terhadap kecintaan orang-orang Karo akhir-akhir ini yang semakin meningkat terhadap budaya Karo dan berupaya menguatkan jati dirinya sebagai suku bangsa berdiri sendiri. Apakah itu bukan sesuatu yang mengembirakan?



1 COMMENT

  1. “Bupati boleh tunjukkan pada publik dan rakyatnya, dia memang peduli terhadap kecintaan orang-orang Karo akhir-akhir ini yang semakin meningkat terhadap budaya Karo dan berupaya menguatkan jati dirinya sebagai suku bangsa berdiri sendiri. Apakah itu bukan sesuatu yang mengembirakan?”

    Kalau begitu memang menggembirakan, karena orang-orang Karo need to step out of comfort zone

    MUG

Leave a Reply