Dalam kolomnya kemarin, Ganggas Yusmoro menulis: “Mari sekarang kita tengok negara yang mengedepankan Eksistensi Budaya sebagai Landasan bernegara, seperti Jepang yang tetap kokoh dan berpijak dalam Budaya Lokal. Budaya yang konon kata orang beragama adalah Hasil Imajinasi manusia. Sekali lagi HANYA HASIL IMAJINASI MANUSIA. Lalu, ada Tiongkok, dan Asia Tengah yang juga menitikberatkan berkehidupan budaya. Mengapa justru tidak pernah terjadi perang antar golongan? Jika agama adalah ciptaan dari Dzat yang maha benar, mengapa harus konflik dan konflik mencari pembenaran keyakinan itu?” (Lihat di SINI)





Kolom Ganggas Yusmoro ini sangat menarik, mengajak kita memikirkan lebih mendalam soal agama dan kultur/ budaya. Yang mana yang lebih menentukan pembentukan atau perkembangan karakter bangsa, sekarang lebih jelas dari tulisan ini.

Dari sebuah catatan filsafat Buddha:

Watch your thoughts, they become words;
watch your words, they become actions;
watch your actions, they become habits;
watch your habits, they become character;
watch your character, for it becomes your destiny

Habits, tradisi, kultur . . .  itulah yang membentuk kaharakter tiap orang atau tiap grup kultur (etnis) dan itulah juga yang membedakannya dari orang lain atau etnis lain pula. Dan kharakter ini tersirat dalam kesadaran ‘bawah sadar’. Bukan dibuat-buat atau bisa terbentuk dalam waktu singkat. Bukan revolusi tetapi evolusi, tersimpan secara genetik. Karena itu juga, karakter menentukan destiny tiap orang atau tiap suku bangsa atau etnis. Untungnya sekarang dalam era internet ini semua orang bisa mencari dan menambah pengetahuannya soal apa saja termasuk soal karakter yang membentuk destiny orang/ suku itu.

Kalau kita memperhatikan sekeliling kita dan membandingkan situasi konkret dengan karakter dan destiny tiap orang atau tiap suku/etnis, pastilah sudah bisa menduga bagaimana karakter etnis-etnis yang sudah punah atau yang bakal punah sekarang dalam ethnic competition yang semakin bersemarak, semakin hebat tak berprikemanusiaan. Saya katakan tak berprikemanusiaan karena tidak ada yang urusan apakah etnis itu akan lenyap dari muka bumi untuk selama-lamanya.

Kalau ribuan tahun lalu sebuah kelompok manusia punah karena pertentangannya dengan alam. Kalau sekarang adalah karena




pertentangannya atau persaingannya dengan grup manusia lain (ethnic competition). Tetapi dengan tambahnya pengetahuan manusia soal competition ini, tentu akibat negatif dari kompetisi ini pastilah bisa dihindarkan dengan pemikiran winwin solution atau kata orang Karo ‘sikuningen radu mengersing, siagengen radu mbiring’. Tidak ada atau tidak seharusnya ada golongan yang menginginkan kepunahan golongan lain yang berlainan kharakter tadi. Hanya saja untuk ini dibutuhkan pengetahuan yang lebih tinggi dan lebih mendalam.

Karakter orang Karo memang disesuaikan atau dilahirkan dalam situasi sangat alamiah, artinya hanya dalam pertentangan dengan alam. Karena itu sama sekali tidak cocok untuk dipakai dalam situasi persaingan sesama manusia atau sesama grup manusia (etnis), yang sekarang kita sebut dengan nama ethnic competition. Persaingan ini secara alamiah mematikan bagi orang Karo terutama dalam menghadapi etnis-etnis yang mobilitasnya tinggi dan extrovert. Orang Karo yang mayoritas introvert, mundur atau sembunyi (cari comfort zone) kalau menghadapi braggarts loudmouth misalnya.

Karena itu bagi orang Karo mulai sekarang harus bisa keluar dari zona amannya, step out of your comfort zone!


Leave a Reply