Menggeliatnya turnamen tinju bebas yang lebih dikenal sebagai Mixed Martial Art (MMA) di Indonesia sekarang ini, membuat ribuan pemuda – pemudi dari seluruh Indonesia bergairah untuk ikut bersaing. Salah satunya adalah Brando Mamana Perangin – angin Simanjerang yang sudah mencicipi gelar juara 1 MMA Sumut.

Pemuda dari Tanah Karo ini masih berusia 23 tahun dan bertarung mewakili Kabupaten Karo di Kompetisi Sesion 3 One Pride MMA. Brando, begitu ia disapa, lahir sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara di Kabanjahe tanggal 13 Desember 1993.

“Di Medan saya berlatih di Dragon Muaythai. Tapi sekarang lagi persiapan di Tangerang Pitbull,” begitulah kata Brando ketika dihubungi Sora Sirulo.

Lanjut Brando, dengan mengikuti ajang One Pride MMA agar dapat mengubah kehidupannya terlebih ingin mengharumkan tanah kelahiran.




“Saya ingin buktikan, Karo itu besar dan kuat. Dari MMA ini saya berharap Karo lebih dikenal lagi,” Sambung Brando yang setiap tampil selalu membawa kain tenunan Karo (uis) Beka Buluh ke atas arena Octagon.

Setiap bertanding di arena Octagon One Pride MMA, Brando Mamana mengandalkan keahliannya dalam ndikkar (bela diri khas Suku Karo) dipadukan dengan Wushu, Brazilian Ju Jitsu dan Taekwondo.

“Dukung saya dengan doa dan selalu support saya agar tidak mengecewakan Kalak Karo,” pintnya melalui Sora Sirulo kepada semua warga Suku Karo.






3 COMMENTS

  1. coba perhatikan jika petarung Mexico atau Brazil tampil di ring/oktagon. Mereka selalu teriak “Viva Mexico”, “Bravo Brasilio”. dengan semangat membara.

  2. “Saya ingin buktikan, Karo itu besar dan kuat. Dari MMA ini saya berharap Karo lebih dikenal lagi,” Sambung Brando yang setiap tampil selalu membawa kain tenunan Karo (uis) Beka Buluh ke atas arena Octagon.

    Pikiran dan sikap brilian dari anak muda Karo ini . Maju ke tengah, bertanding atau apa saja dalam mengandalkan kekuatan diri (fisik atau mental) akan selalu lebih kuat dan lebih mantap kalau didasari oleh identitas yang kuat dan keyakinan yang kuat atas existensi kulturnya. Itulah manusia dengan kultur kuat dan identitas kuat. Dukungan moral dari kelompok kultural yang terdekat merupakan modal pertama yang sangat positif mencapai cita-cita apa saja. Dan selanjutnya bagi kelompok kultural yang diwakilinya itu juga merupakan tambahan dorongan semangat yang luar biasa. Identitas menunjukkan keaslian dan kemuliaan, tujuan ‘sikuningen radu mengersing’.

    Itulah perubahan jaman dari era multukulturalisme tanpa identitas ke era national dan ethnonational dengan identitas yang kuat berdasarkan kultur dan budaya yang sudah jadi ciri identitas setiap nation atau ethnonation. Kultur dan budaya adalah genetik dan sudah dibentuk secara evolusi ribuan tahun. Bagi orang Karo dan juga Gayo sudah terbentuk sejak 7400 tahun lalu (dari penemuan erkeologi terakhir di dataran tinggi Gayo oleh arekolog USU). Jadi identitas itu bukan main berharganya, dan itu tadinya mau dihilangkan oleh neolib dengan politik multikultinya.

    Kemenangan Trump dan Brexit + semua partai-partai nasionalis Eropah yang sedang akan mencapai kemenangan di seluruh Eropah, adalah tanda berakhirnya era multikulti globalis neolib internasional. Era Obama adalah ‘the last gasp of neoliberalism’, dan ‘multikulti has failed totally’ kata tante Angela Merkel sebelum dia mengkhianati kata-katanya sendiri dengan memasukkan sebanyak mungkin pendatang/pengungsi Arab ke Jerman, karena dihasut oleh ISIS buatan trio Obama-Clinton-Ford. Hal ini tentu bertentangan dengan politik pendahulunya Helmut Kohl yang pernah memulangkan kembali ke Turki ratusan ribu muslim Turki dari Jerman. Helmut Kohl mengingatkan Merkel bahwa Jerman tidak bisa jadi ‘home of migrants’ yang tidak akan terbatas itu.

    Trump menuduh Merkel karena bikin EU sebagai kuda tunggangan bagi Jerman. Kalau diteliti lebih jauh tentu Merkel yang jadi kuda tunggangan bagi pendiri proyek EU yaitu neolib internasional, karena EU adalah proyek besar neolib di Eropah. Sama halnya dengan Obama adalah kuda tunggangan dari ‘The Secret Government’ atau ‘the finance element of large centers’ atau seperti dikatakan oleh seorang penulis AS Gore Vidal ‘the party of money’ karena menurut Gore Vidal hanya ada satu partai di AS dengan dua cabangnya yaitu Demokrat dan Republik. Sayangnya Gore Vidal tidak bisa melihat akhir ‘the party of money’ ini, dia sudah meninggal 2012.

    Salah satu dari cabang partai itu, telah diubah jadi partai nasional Amerika oleh Trump. Kejadian luar biasa ini tentu tidak bisa diduga oleh Gore Vidal, bahkan sampai akhir 2016 masih banyak yang bingung apa yang terjadi dengan munculnya Trump sebagai pemenang presiden AS negara adidaya itu.

    Jeffeson, Roosevelt, Eisenhower adalah presiden AS yang sudah meramalkan bahaya ‘the party of money’ itu ketika mereka masih hidup. Tetapi hanya Trump yang berhasil bikin solusi!

    MUG

Leave a Reply