Usaha keras Ahok untuk bertarung di DKI hingga kini, luar biasa. Ia  berjuang habis-habisan hingga batas kemampuannya. Ia melakukan betul apa yang diimaninya. Ia berjuang dengan segenap hati, jiwa dan raganya. Nyaris semua hal yang halal telah dilakukan Ahok untuk bertarung secara fair dan jantan di DKI Jakarta.

Sumber foto header: Kutu Trit




Hal yang sangat menarik adalah, Ahok berjuang di tengah musuh-musuhnya yang brutal. Segala macam senjata telah ditembakkan kepadanya. Nyaris tak ada sosok di negeri ini yang memiliki musuh brutal seperti Ahok. Namun, di waktu bersamaan, ia juga memiliki teman yang rela berdarah-darah untuk mendukungnya. Lihatlah bagaimana Ahmad Ishomuddin rela dipecat oleh MUI demi membela Ahok. Djan Faridz turun gunung dan berjuang mendukung Ahok. Saya angkat topi untuk mereka.

Menjelang pencoblosan 19 April mendatang, Ahok mengingatkan kawan dan lawannya. Setelah manusia berjuang dengan segala daya upaya, maka selebihnya adalah urusan Tuhan. Ahok menyatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi padanya adalah kehendak Tuhan. Jadi, segala apa yang dialami Ahok hingga sekarang ini adalah ketentuan Tuhan. Anda boleh percaya, boleh tidak.

“Kita enggak jadi gubernur itu urusan Tuhan. Walaupun kita berusaha. Kalau kata orang Islam man jadda wa jadda. Semua urusan Tuhan. Saya selalu berdoa seperti itu. Kalau Tuhan pengen saya jadi pejabat, saya akan kerjakan semaksimal saya. Kalau Tuhan tidak pilih saya pun, saya bersyukur,” ujar Ahok di hadapan para guru non-PNS yang hadir dalam acara deklarasi forum guru non-PNS untuk Ahok-Djarot di Posko Rumah Badja, di Jl. Talang, Menteng (Jakarta Pusat) [Sabtu 25/3].

Saya mengimani pernyataan Ahok ini. Ahok jelas telah berusaha sangat keras. Ia ibarat Thomas Alva Edison yang telah berjuang keras melakukan percobaan ribuan kali untuk menemukan lampu listrik. Dan akhirnya ia berhasil. Berhasilnya di sini adalah urusan Tuhan.

“Setelah 9.955 berhasil menemukan lampu yang gagal menyala, Edison akhirnya menemukan lampu yang menyala”, begitulah judul berita utama koran terkait keberhasilan Edison menemukan lampu listrik.

Hal yang sama berlaku bagi Ahok. Jika 19 April mendatang 2017, Ahok berhasil menang, saya akan menulis begini: “Setelah ia bertarung 9.955 kali dengan musuh-musuhnya, Ahok akhirnya menang”. Dan, kemenangan Ahok adalah ketentuan Tuhan. Sebaliknya jika Ahok gagal menjadi gubernur, maka itu juga ketentuan Tuhan. Selesai.

Ketika Djarot menghadiri upacara perkawinan Suku Karo disambut oleh nande-nande (bukan inang-inang) sambil menari yang disebut landek dalam Bahasa Karo (bukan manortor dalam Bahasa Batak) dengan iringan musik tradisional Suku Karo.

Ucapan Ahok yang berpasrah kepada Tuhan adalah sikap manusia yang telah selesai dengan dirinya. Ketika seseorang telah selesai dengan dirinya, ia tidak lagi memiliki ego untuk dirinya sendiri. Ia sepenuhnya melayani sesama. Segala jiwa dan raganya sepenuhnya diarahkan bagaimana sesamanya meraih hidup yang lebih baik. Itulah yang telah dilakukan Ahok.

Ahok jelas telah selesai dengan dirinya. Ia tidak korupsi, kolusi dan nepotisme. Ia tidak rakus akan harta. Jika ada uang lebih ia kembalikan ke negara. Ia tidak lagi berpikir setiap hari bagaimana caranya mencuri uang negara dan bericita-cita membangun perusahaan dan dinastinya. Ahok telah selesai dengan dirinya. Itulah kelebihannya dibanding Anies dan Sandi.

Ahok bangun Pukul 04.30 pagi untuk melayani warga Jakarta. Seharian ia berpikir dan hanya fokus mencari cara mengatasi masalah-masalah di ibu kota.  Di Balai Kota, Ahok mendengar beragam keluhan warga dan langsung ditindaklanjuti oleh bawahannya. Begitulah seterusnya.

Ahok bekerja dengan segenap jiwa dan raganya untuk Jakarta. Inilah maksudnya telah selesai dengan dirinnya. Ia jelas tidak seperti Anies yang sibuk melayani kepentingan Ormas kelak atau Sandi yang sibuk memikirkan perusahaannya.

Selesai dengan diri inilah yang menakutkan lawan-lawan Ahok. Benarkah Ahok telah selesai dengan dirinya? Tuhan yang di atas sana butuh bukti. Tuhan membiarkan Ayub dicobai hingga batas akhir kemampuannya. Hal yang sama dengan Ahok. Ahok dihajar berulangkali oleh Tuhan untuk memurnikan dirinya.

Tentu Tuhan tahu sampai dimana kekuatan Ahok, hambanya. Setelah Tuhan menghajar Ahok, kini Tuhan juga menghajar lawan-lawan Ahok yang munafik dan berniat jahat kepadanya. Ahmad Dhani yang begitu gigih menentang Ahok, kini juga menjadi tersangka. Bintang Ahmad Dhani pun pudar. Ratna Sarumpaet yang berbusa-busa mulutnya menentang Ahok, kini juga tersangka dan lidahnya kini menjadi kelu.

Yusril Ihzra Mahendra yang gigih menjegal Ahok, kini dipermalukan setelah melamar ke sana ke mari




menjadi calon Gubernur, namun tak seorangpun yang melirik. Hal itu menjadi luka menganga pada sisa sejarah hidup Yusril. Sanusi, Patrialis Akbar, Rizieq, dan Ustad Al-Habsyi yang menyebut Ahok iblis, satu per satu dihajar oleh Tuhan. Lulung yang kebelet memotong kupingnya karena Ahok, kini telah dipecat.

Dan, yang terbaru adalah Rhoma Irama dengan partai idamannya. Kebencian Rhoma Irama kepada Ahok bisa dikategorikan sungguh terlalu. Persis seperti ucapan terkenal Rhoma. Rhoma membolehkan isu SARA dimainkan demi menjegal Ahok. Menurutnya, jika Ahok yang Kristen, yang China, menjadi Gubenur Jakarta, maka itu menjadi aib internasional. Jika Ahok menjadi gubernur di ibu kota republik, maka martabat bangsa tercabik-cabik.

Ketakutan Rhoma itu kini terbukti. Ahok jelas telah menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan etos kerja yang luar biasa. Itu menjadi aib internasional. Ketika Ahok yang minoritas, tampil ke depan membela kaum Islam dari malapetaka korupsi, itu menjadi aib. Ketika Ahok yang minoritas memperjuangkan nasib mayoritas, memperbaiki hidup mereka, mengangkat derajat mereka, itu menjadi aib internasional.

Ketika Ahok yang minoritas berjuang memberantas narkoba, pelacuran, dan perjudian, itu menjadi aib internasional. Apakah selama ini tidak ada satu orangpun yang didangdutkan Rhoma Irama tampil ke depan untuk membangun bangsanya dengan etos kerja hebat? Ataukah bangsa ini hidupnya hanya dihabiskan berdangdut-ria ala Rhoma? Ah, jika tidak, sungguh martabat bangsa ini tercabik-cabik. Sibuk urusan dangdut yang selanjutnya bersambung dengan urusan bawah dengan beristeri banyak.

Kini ketakutan Rhoma Irama semakin menjadi-jadi. Ketika puteranya sendiri, Ridho Rhoma, menjadi tersangka penyalahgunaan Narkoba, membuat Rhoma Irama kini tak berkutik. Rhoma sendiri menunjuk muka Ahok sebagai penista Agama dan ikut berdemo bersama 7 juta lainnya demi mengubur Ahok.

Tetapi kini, Putera Rhoma sendiri telah menista agama. Ridho jelas telah mengabaikan nilai-nilai agama, melecehkan kesucian papanya Rhoma dengan partai Idamannya. Apa kata dunia ketika putera seorang pedangdut, pendiri Partai Idaman, terjerat Narkoba? Itu benar-benar menjadi aib internasional dan membuat martabat partai tercabik-cabik.







2 COMMENTS

  1. “sikap manusia yang telah selesai dengan dirinya.”

    Manusia yang telah ‘selesai dengan dirinya’, rasanya adalah impian yang tidak akan pernah tercapai dalam era keserakahan sekarang ini. Tetapi sudah ada yang bisa mencapai justru sekarang ini!
    Teringat lagi soal pemecatan atas diri Ahmad Ishomuddin dari jabatan tinggi MUI karena keberaniannya memperjuangkan kebenaran dan keadilan, berani maju sebagai saksi ahli agama dalam sidang pengadilan ke 15 Ahok, tanpa menghiraukan pemecatan bagi dirinya, makian dan fitnah yang diterimanya . . .
    atinya Pak Ishomuddin sudah lebih dulu melalui tahap pertama sebelum menuju tahap ‘selesai dengan dirinya’ yaitu tahap keluar dari zona aman, step out of comfort zone!
    MUG

Leave a Reply