Pertanyaan temanku hari ini mengusik nalarku. Apa perbedaan antara Ahok dan Anies? Temanku, jika di arena tinju, Ahok itu kelas berat sedangkan Anies kelas bulu. Anies posisinya jauh di bawah Ahok. Jika diibaratkan ikan, maka Ahok itu kelasnya kakap sedangkan Anies itu kelasnya teri. Apakah anda tidak merendahkan Anies yang sudah Profesor-Doktor, mantan Menteri Pendidikan? Tanya temanku lagi. Begini teman biar saya jelaskan.

Ahok itu bukan lawan yang sepadan untuk Anies. Keduanya kontras atau berbeda jauh baik itu dari segi kualitas, kapasitas, kapabilitas ataupun rekam jejak. Ahok itu orangnya praktis, orientasi kerja dan punya target nyata. Sementara Anies, orangnya teoritis, santai dan berorientasi seni dan abstrak.

Dari bukti-bukti track record, kemampuan manajerial dan etos kerja, Ahok jauh lebih unggul dari Anies. Perbedaan itu sangat tidak seimbang, berat sebelah. Keunggulan Ahok jauh lebih tinggi, dan keunggulan Anies jauh lebih rendah. Mari kita lihat beberapa contoh terobosan mereka saat menjadi pejabat.

Saat mulai menjadi gubernur, Ahok langsung merevolusi mental birokrat DKI. Mereka yang bagus diangkat jadi lurah, camat atau kepala dinas. Mereka yang malas, korup, pungli, langsung dipecat. Semua pejabat harus kerja keras melayani masyarakat. Sementara Anies, tak ada terobosan di Kementerian Pendidikan. Malahan Anies memprovokasi orangtua untuk bolos kerja satu hari, agar bisa mengantar anaknya pada hari pertama sekolah.




Dari segi pengelolaan anggaran, Ahok sudah menerapkan e-budgeting dan bertarung habis-habisan dengan DPRD DKI menyelamatkan uang APBD DKI. Sementara Kementerian yang dipimpin Anies, terjadi salah hitung anggaran sebesar Rp 23,3 Triliun secara masif dan terstruktur. Jika Ahok pintar mencari duit lewat CSR (corporate social responsibility) dari berbagai perusahaan, Anies sebaliknya. Ia hanya paham cara menghabiskan anggaran pameran buku di Jerman Rp 146 Miliar pada tahun 2015 lalu.

Dari program dan visi membangun Jakarta ke depan, terlihat ada perbedaan menyolok antara Ahok dan Anies. Ahok akan terus memperlebar, mengeruk dan menata sungai untuk mengatasi banjir. Ahok tak segan merelokasi penghuni rumah di bantaran sungai ke rumah susun. Sementara Anies tidak mengenal relokasi. Anies berjanji tak ada penggusuran dan akan melukis rumah-rumah di bantaran sungai agar lebih berseni. Sementara manusia di bantaran sungai, akan dimanusiakan dengan cara pemberdayaan atau istilah kerennya training.

Jika Ahok menggenjot etos kerja pejabat dengan reward dan punishment, Anies sebaliknya. Anies lebih pada metode pendekatan hati ke hati. Anies lebih mengutamakan musyawarah, mengajak warga bicara dan membangun terus kesadaran warga. Untuk merespon cepat masalah warga, Ahok dengan jitu mengatasinya dengan membentuk berbagai pasukan.

Sementara itu Anies tinggal fotocopy ide jitu itu dengan menambahkan plusnya. Jadi pada program Anies ada yang namanya pasukan orange plus, pasukan biru plus, kuning plus, merah plus, hijau plus dan lain-lain. Demikian juga soal kartu. Anies tinggal menambahkan plus di belakangnya. Jadi kelak ada KJP plus, KJS plus dan seterusnya.

Dari beberapa contoh di atas, maka terlihat jelas perbedaan kelas antara Ahok dan Anies. Perbedaan kelas itulah yang kemudian memicu SARA di Pilkada DKI Jakata. SARA diyakini oleh lawan Ahok sebagai senjata ampuh untuk menjegal Ahok kembali ke kursi DKI satu. Orang-orang yang mendukung Anies dan mereka yang tidak suka Ahok akhirnya nekat menggunakan ayat, menggunakan spanduk-spanduk, fitnah dan isu SARA untuk melawan atau menjatuhkan Ahok.

Politikpun terpaksa dibungkus dengan agama. Itu sebetulnya menunjukkan dan membuktikan bahwa para lawan Ahok berkompetisi secara tidak sehat di Pilkada DKI 2017. Mereka sudah tidak memakai nalar, tidak waras, tidak logis dalam berkompetisi. Tidak mengherankan jika di Pilkada DKI kali ini ada pertarungan brutal antara pendukung masing-masing pasangan.




Jadi isu SARA, spanduk-spanduk, fitnah, demo-demo yang dilakukan oleh lawan-lawan Ahok itu adalah bentuk keputusasaan dan kefrustrasian hebat. Munculnya tafsir-tafsiran, ajaran-ajaran dan tradisi agama ke permukaan, adalah bertujuan untuk menyerang dan menjegal Ahok. Karena jelas Ahok pasti kalah di bidang itu karena agama Ahok lain.

Dari segi politik, sosial, ekonomi dan bahkan budaya sekalipun Ahok tetap unggul. Maka satu-satunya alat yang dipakai  adalah agama. Agama akhirnya terpaksa digunakan. Itu adalah bentuk keputusasaan secara politik dari lawan-lawan Ahok. Tidak ada lagi yang bisa dikerjakan, tidak ada lagi senjata yang bisa dipakai. Hanya agama satu-satunya yang tersisa yang dibumbui dengan demo-demo.

Rencana demo FUI 313 hari Jumat mendatang, adalah wujud frustasinya lawan Ahok. Ketika Ahok semakin di




atas angin, lawan-lawannya semakin putus asa. Mereka sudah stress karena tidak menemukan jalan selain kembali demo untuk menjegal Ahok. Mereka semakin ketakutan jika Ahok akhirnya kembali menjadi gubernur.

Namun demo 313 itu tidak perlu ditakuti. Karena demo 313 itu ibarat singa ompong yang mengaum. Gaungnya besar namun tidak bisa menggigit lagi. Tuntutan demo 313 kepada Presiden Jokowi agar Ahok diberhentikan dari jabatan kursi Gubernur DKI, sudah jelas tak digubris oleh Presiden. Jelas Jokowi, dan Kapolri Tito tidak akan tunduk pada nafsu besar pendemo. Masyarakat pun sudah tidak lagi acuh pada isi tuntutan demo 313 itu.

Jadi, teman ketika Ahok unggul dan beda kelas dengan Anies, maka lawan Ahok terpaksa membungkus politik dengan agama. Mereka kibarkan isu SARA, spanduk-spanduk dan memfitnah terus menerus Ahok. Mengapa? Karena hanya dengan cara itulah mereka bisa mengalahkan Ahok.

Jika pada Pilkada DKI kali ini sedang terjadi ketidakadilan, ketidak-fair-an, ketidakjujuran, manipulasi, kemunafikan dan kebohongan besar, itu karena efek inferior atau kalah kelasnya Anies dari Ahok. Begitulah penjelasannya temanku.



Leave a Reply