“Gawat, mas. Jika Jakarta akan seperti Singapura. Kemana para pribumi?”
” iya sih, Mas. Tentu tidak akan ada lagi masjid-masjid. Yang ada malah orang-orang bekulit putih bermata sipit,” itu timpal yang lain.

” lha sampeyan pernah ke Singapura? ” Itu pertanyaanku.

Mereka bagai Jaelangkung pada menggeleng. Modiaaaarrrr.. terpaksa deh saya harus memasang muka serius. Harus menjelaskan secara rinci. Harus memberi pengertian pada mereka yang belum pernah keluyuran tetangga deket yang negaranya sebesar asbak, namun membuat warga DKI seperti melihat hantu gara-gara isu gak jelas.




“Gini, lho, Singapura kenapa bisa maju pesat? Kenapa Negri yang sak Upil itu bisa begitu menakutkan bahkan berpengaruh secara mikro dalam kapasitasnya di Asia Tenggara juga secara makro di seluruh muka bumi ini?” saya terdiam sejenak.

Semua mata memandang dengan serius.

“Jika sampeyan ke Singapura, sampeyan semua akan dibuat geleng-geleng kepala dengan kedisplinan mereka. Disiplin dalam hal apapun juga. Mulai dari lalu lintas. Jam masuk kantor, atau jam masuk sekolah. Di sana tidak ada orang yang sak penak udele motong atau nyalip dari arah yang ngawur. Di sana tidak ada emak-emak yang lampu seignnya (lampu tangan) ke kiri tapi beloknya ke kanan. Tidak ada juga para geng motor yang memacu motornya dengan suara knalpot meraung raung. Jalan-jalan tertata rapi. Hukum ditegakkan dengan tidak pandang bulu. Suasana kota tertata rapi, Indah dan asri,” tuturku.

Mereka semua mengangguk-angguk. Sebagian malah beringsut-ingsut mendekat.

“Tapi katanya pribumi tersisih, Mas. Juga masjid-masjid tidak ada toa menandakan waktu sholat,” ada salah satu orang yang menimpali.

Jangankan di Singapura, dimana saja di seluruh muka bumi ini, kekuatan ekonomi akan melakukan ekspansi. Akan mencari tempat-tempat strategis untuk berusaha. Hanya orang yang pandai dan mempunyai skil tinggi yang akan mampu bertahan, di mana saja. Bagaimana



anda mau hidup di tengah lajunya ekonomi jika anak-anak sampyan kerjanya hanya main layang-layang? Hanya hura-hura. Hanya Ugal-ugalan jadi geng motor, dll.

Jianccukk saya mulai capek saudara-saudara. Tak minum dulu, ya… Cegluk.. cegluk…

Tentang tidak adanya toa di masjid, apakah umat muslim di sana lalu lupa dengan sholat? Ora. Sholat adalah kesadaran pribadi masing-masing. Meski di sana tidak ada toa untuk Adzan, namun adzannya ya cukup didengar di masjid itu. Lha wong di Indonesia pakai toa seratus pating crantel, nyatanya saat subuh hanya 2 orang yang Sholat.

“Ohhh gitu rupanya… berarti issu yang beredar hanya hoax, ya ?”

Ada betulnya, sih. Itulah anak-anak sampeyan suruh sekolah yang pinterr….

Leave a Reply