Pasca debat Ahok vs Anies di Mata Najwa, publik Jakarta semakin mantap menentukan pilihan. PKB, PPP Romy, Demokrat (walau tak resmi), akan mendukung Ahok-Djarot. Persaingan antara Ahok dan Anies untuk mengambil hati warga DKI Jakarta pun dilakukan secara gencar. Masing-masing pendukung  punya strategi dan skenario masing-masing.

Mendekati Pilgub putaran ke dua 19 April, gambaran dan kecenderungan pemilih semakin tampak. Para pemilih kelas menengah-atas mayoritas memilih Ahok. Ahok didukung oleh kaum nasionalis dan Islam moderat. Warga Jakarta yang berpendidikan tinggi juga cenderung memilih Ahok. Sementara warga Jakarta kelas bawah, kaum agamis konservatif dan berpendidikan rendah cenderung memilih Anies.




Para pemilih di DKI Jakarta yang masih bimbang (swing voters), menjadi rebutan Ahok dan Anies. Tak heran jika Ahok menerapkan strategi silent alias senyap untuk memperebutkan pemilih yang ragu-ragu dan tinggal di gang-gang sempit Jakarta. Sementara Anies terus membiarkan pendukungnya melakukan politik SARA, politik jenazah, doa kutuk ala Rizieq, demo dan tamasya Al-Maidah 19 April mendatang. Jelas pertarungan memperebutkan kursi DKI-1 semakin panas dan cenderung brutal.

Latar belakang Anies-Sandi muncul menantang Ahok adalah godaan uang anggaran APBD DKI Jakarta yang Rp 70,19 triliun. Ormas-ormas dan partai serta anggota DPRD hidup dari ABPD itu. Bagi Prabowo, kemenangan Anies-Sandi yang diusungnya memudahkannya melawan Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang. Sementara bagi Anies, menduduki kursi DKI-1 sebagai jalan paling pas untuk membalas dendamnya kepada Jokowi yang telah memecatnya.

Bagi PKS yang kalah melulu di DKI sejak Adang Daradjatun dan Hidayat Nurwahid, kemenangan Anies-Sandi menjadi batu loncatan menancapkan pengaruhnya di ibu kota setelah Jawa Barat dikuasai 10 tahun lewat olehg Aher. Pun bagi FPI, pendukung utama Anies-Sandi, menguasai DKI lewat Anies akan memudahkan penerapan syariat Islam yang dicita-citakan sejak lama.

Majunya Anies-Sandi ke putaran ke dua Pilkada DKI, membuat partai agama PKS bereuforia tinggi. Partai ini dengan cerdik memanfaatkan Prabowo dan akhirnya Anies Baswedan yang berbelahan jiwa dengan Rizieq FPI untuk ikut memperoleh berbagai keuntungan. Anies dengan modal dengkul berkolaborasi dengan PKS-FPI memanfaatkan duit melimpah Sandi demi meraup kekuasaan.

Di tengah dukungan para partai tersebut, persaingan di tataran elite partai mengemuka. Elite politik bermain. Akibatnya, peta pertarungan politik Pilkada DKI menjadi panas. Pilkada DKI akhirnya menjadi gambaran dukungan untuk Presiden Jokowi, Megawati di satu pihak dan Prabowo di pihak lain. Pertarungan Pilpres 2014 akan terulang di Pilkada DKI 2017.

Dengan melihat masing-masing kepentingan politik itu, maka warga DKI harus paham siapa pemimpin politik mereka yang paling layak ke depan. Gubernur bukanlah pemimpin agama. Ia hanya jabatan pelayan publik dan tidak terkait sama sekali dengan agama apa pun. Dengan uraian itu maka pilihan warga DKI Jakarta menjadi lebih baik dan tidak salah pilih.

Dalam debat di Mata Najwa, Senin 27 Maret 2017 kemarin, publik Jakarta harus memahami bahwa ternyata karakter Anies yang santun hanya sandiwara. Dalam debat itu, Anies malah terlihat emosional dan selalu menyerang Ahok. Anies sepertinya tidak tahu harus berbicara dan menjawab apa. Ketika Najwa menanyakan program Oke Oce dan DP rumah nol persen kepada Anies, yang dtangkap publik adalah kebingungan.

Berbeda dengan Ahok yang tampil santun dan cerdas. Emosinya tidak terpancing oleh provokasi Anies. Malah Ahok dengan lancarnya bisa menampilkan program-programnya dengan jelas di tengah-tengah provokasi Anies. Anies yang dilanda emosi tinggi memperlihatkan dirinya yang begitu bodoh soal program membangun DKI.

Anies harus disesali. Ia terlihat kurang mengerti data. Anies tidak paham soal angkot, tidak tahu soal dana CSR dan bahkan tidak mengerti sepak terjang Soeharto (malah Ahok yang menjelaskan). Publik menjadi bertanya-tanya soal kapasitas dan kapabilitas seorang Anies yang tidak menampakkan dirinya sebagai seorang cagub. Ia hanya terlihat sebagai seorang  yang dikuasai nafsu secara membabi buta untuk menyerang, menyerang dan ingin memecat Ahok.

Maka di mata publik warga Jakarta sekarang  terbukti siapa Anies. Ternyata  sematan menteri yang dipecat di kabinet Jokowi layak disandangnya. Terlebih Anies didukung oleh Ormas radikal FPI, maka warga Jakarta tidak boleh berjudi mengambil resiko. Apalagi




Anies yang juga didukung oleh partai agama PKS, maka kelak, Jakarta akan menjadi kota yang intoleran, penuh dengan kebijakan yang anti kebhinnekaan seperti Jawa Barat.

Kini, pasca debat Ahok-Anies di Mata Najwa itu, publik Jakarta semakin sadar bahwa Ahok sangat bisa diandalkan sebagai pemimpin DKI-1 untuk periode ke dua. Ahok  jelas sudah terbukti berkinerja baik melayani warga DKI Jakarta. Ketegaran dan kehebatan kinerja Ahok telah dirasakan sendiri oleh warga Jakarta saat ini. Tidak salah jika PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, PPP, Demokrat, Teman Ahok, relawan, turun gunung, bahu-membahu memenangkan Ahok.

Warga Jakarta harus  yakin bahwa gubernur bukanlah pemimpin agama. Gubernur hanya jabatan pelayan publik dan tidak terkait sama sekali dengan agama apapun. Untuk itu tidak alasan bagi publik Jakarta untuk tidak mendukung Ahok-Djarot. Ahok tetap mutiara, sosok pemimpin langka di abad digital ini.

Dalam skenario terburuk Ahok dihukum pun ringan 1 tahun atau percobaan atas kasus yang dituduhkan kepadanya, Djarot masih sangat bisa diandalkan sebagai pelaksana tugas Gubernur DKI. Tidak ada alasan bagi publik Jakarta untuk tidak memilih Ahok-Djarot. Mereka adalah pilihan terbaik dari yang terbaik. Itulah peta politik Pilkada DKI pasca debat di Mata Najwa.







Leave a Reply