IMANUEL SITEPU. NAMORAMBE. Malang benar nasib Pembantu Rumah Tangga (PRT) yang satu ini. Namanya Mei Riang Zega alias Mei (34) warga Jl. Bakti Asri Gg. Mufakat (Medan Labuhan). Tubuh janda beranak 3 ini mengalami luka lembam dan membiru di sekujur tubuhnya akibat disiksa oleh Rostina Boru Saragih alias Bunda (60) majikannya, warga Dusun 3 Penampungan Gg Kasih Desa Delitua (Kecamatan Namorambe).

Cerita korban Mei saat ditemui di Polsek Namorambe, dia sudah 4 tahun bekerja sebagai PRT di rumah Bunda. Akan tetapi, dalam setahun terakhir, Bunda kerab berlaku kasar terhadap dirinya.

“Bunda kerap memukul saya dengan batang ubi kayu sepanjang 1 meter yang sudah disediakan di samping tempat tidur kamarnya,” beber Mei.

Kejadian yang membuat korban tersiksa dan tak habis pikir, saat pelaku baru pulang berobat ke Rumah Sakit. Ketika itu, pelaku melihat ayam peliharaannya kurus seperti tidak diberi makan. Pelaku pun memanggil korban dan menanyakan mengapa ayam peliharaannya kurus dan seperti tidak diberi makan.

“Karena ditanya, saya jawab, tapi setiap saya jawab pelaku langsung memukul saya memakai batang kayu ubi yang sudah dipersiapkan di samping tempat tidurnya,” sambung Mei.

Korban juga menambahkan penganiayaan tersebut bukan kali pertama dan terakhir dialaminya. Mei juga mengaku pernah dipukuli usai disuruh pelaku mengusuk badannya.

“Saya disuruh mengusuk, karena saya diam dan sudah ngantuk sudah tengah malam, pelaku tiba-tiba beranjak berdiri dari tempat tidur dan langsung menghajar tubuh saya dengan batang ubi kayu,” jelasnya.




Mirisnya kata Mei lagi, meski dirinya menjerit kesakitan, sang majikan bukan merasa kasihan. Malahan, pelaku semakin keras memukuli dirinya.

“Nggak tahan saya dipukuli, saya pun menjerit. Karena menjerit, pelaku pun semakin keras memukuli saya,” beber ibu tiga anak ini.

Karena tak tahan terus dipukuli, Mei pun melarikan diri dari rumah sang majikan, ketika Bunda sang pelaku sedang berada di kamar mandi [Rabu 22/3: sekira 05.30 wib].

“Saya melarikan diri saat pelaku di kamar mandi. Saya berjalan dari Penampungan Desa Delitua ke Polsek Namorambe. Tiba di Polsek, saya langsung melapor,” sebut Mei.

Yang paling memcengangkan dari pengakuan Mei, selama 4 tahun bekerja di rumah si majikan, Mei malah tidak pernah diberi gaji. Meski demikian, Mei mengatakan tetap mencoba bersabar karena ia tidak memiliki biaya pulang ke Nias kampung halamannya.

“Sudah 4 tahun saya bekerja sebagai pembantu di rumah pelaku, tetapi saya tidak pernah digaji. Selesai masalah ini, saya akan melaporkannya ke Perhimpunan Suku Nias di Medan. Siapa tahan setiap hari saya mendapat jatah 3 kali pukulan batang kayu ubi,” bebernya.

Sementara menurut Y (35) warga salah satu tetangga Bunda ketika ditemui secara terpisah mengatakan kalau pelaku penganiaya pembantunya tersebut, kurang bermasyarakat.

“Sayalah orang yang paling lama di sini, tetapi saya tidak pernah melihat pelaku menyapa warga di sini. Apa pun pekerjaan pelaku, kami tidak tahu. Karena ibu itu kebanyakan berada di luar rumah,” katanya.

Kanit Reskrim Polsek Namorambe Iptu Hendrik Ginting ketika dikonfirmasi membenarkan adanya laporan korban dan berjanji akan menindaklanjutinya.










Leave a Reply