RIKWAN SINULINGGA. BERASTAGI. Kebaktian Pesta Panen (Kerja Rani) GBKP Majelis Nangbelawan (Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo) di Balai Desa Nangbelawan [Minggu 26/3]. Acara ini dihadiri lebih kurang 250 jemaat GBKP Nangbelawan.





Ibadah Pesta Panen adalah merupakan Ibadah ucapan syukur atas berkat yang diberikan Tuhan kepada manusia yang selayaknya dilaksanakan pada saat setelah panen. Kali ini, Badan Pengurus Majelis Runggun (BPMR) Nangbelawan mengkolaborasikan agama dan budaya lokal. Khusus dalam ibadah ini, semua peserta menggunakan pakaian adat Suku Karo .

Pria mengenakan kain tenunan (uis) beka buluh dan sampan (sarung), sedangkan perempuan mengenakan kebaya, rabit (sarung) dan langgei-langgei (kain tenun khas Karo untuk perempuan).

“Kita sarankan kepada seluruh jemaat GBKP Nangbelawan untuk menunjukkan kebersamaan dalam Tuhan dan dalam budaya Karo,” jelas Pertua Ir. Dekon Ginting selaku Ketua BPMR GBKP Nangbelawan. Saat ibadah, terasa lebih hikmad dan spesial dengan hadirnya pakaian adat Suku Karo bagi semua jemaat yang hadir.

Puji Tuhan, pengumpulan Persembahan Pesta Panen Tahun 2017 ini dari 6 sektor/PJJ di Majelis/Runggun Nangbelawan dapat terkumpul Rp 28.640.000 dan 5 goni padi sebagai rasa syukur jemaat atas hasil panen yang didapat dari ladang masing-masing, meskipun kondisi ekonomi saat ini sulit.

Umumnya jemaat berprofesi sebagai petani. Kita ketahui bersama, kondisi di Dataran Tinggi Karo saat ini hasil panen tidak maksimal ditambah harga hasil panen juga anjlok semua. Namun begiu, seluruh jemaat GBKP Nangbelawan tetap bersyukur atas penyertaan Tuhan dalam usaha dan hidup mereka.

“Akhirnya, bisa terkumpul persembahan Pesta Panen sebanyak ini, semoga di tahun-tahun berikutnya bisa lebih meningkat lagi,” kata Diaken Kornelius Ginting SH selaku Bendahara Majelis GBKP Nangbelawan.

Pantauan Sora Sirulo, para jemaat sangat antusias dengan menggunakan pakaian Suku Karo dalam ibadah ini, meskipun beberapa peserta masih tampak canggung mengenakannya. Cara ini sangat postitif untuk memperkenalkan budaya Karo terutama kepada generasi mudanya. Bahkan anak-anak juga langsung berminat untuk menggunakannya meskipun belum mengerti akan artinya.










Leave a Reply