Yusril menyangkal pengertian Jokowi soal pemisahan agama dari politik. Jokowi melihat dari segi kepraktisan era sekarang supaya agama tidak jadi perdebatan dan di dalam menjalankan politik praktis terutama dalam Pilkada, seperti halnya dalam memilih gubernur dengan contoh kasus Gubernur DKI yang sudah banyak makan ‘korban’ (karena dikaitkan dengan agama). Pemisahan itu bermaksud supaya menghindari konflik karena agama bermacam-macam. Bahkan dalam agama yang sama sajapun bisa ada perbedaan yang menimbulkan konflik, seperti antara Ketua MUI dengan Wakil Ketua Ahmad Ishomuddin yang berakhir dengan pemecatan Ishomuddin, menyangkut Pilgub DKI.




Yusril mengambil contoh diskusi/ debat dalam sejarah agama di masa Soekarno. Pasti lain lah. Apalagi kalau diambil contoh pengertian ketika agama Islam baru lahir tentu agama itu identik dengan politik si penganut agama. Agama adalah kehidupan itu sendiri ketika itu.

Agama itu ya kehidupan ya politik, walaupun politiknya tentu masih sangat sederhana. Negara juga bisa dikatakan belum ada seperti konstruksinya sekarang ini. Sama halnya dengan agama Kristen ketika mulai perkembangannya tidak bisa dipisahkan dari politik ketika itu, maka ada juga yang namanya Perang Salib. Bagi Kristen juga agama adalah segala-galanya ketika itu.

Bagi agama Kristen atau orang Kristen, sekarang sudah selesai dengan Perang Salibnya. Artinya, dan terutama di Barat, agama sudah pisah dari politik seperti Yusril bilang ‘sekuler’. Lebih dari situ, umumnya agama di Barat dianggap masalah pribadi, sehingga tidak perlu ada orang lain yang mencampuri. Agama dianggap kepercayaan masing-masing orang.

Dalam agama Islam, sepertinya masih belum selesai perang ‘Bintang Bulannya’ (Jihad), beda dengan Perang Salib dalam agama Kristen yang sudah lama berakhir. Karena itu, juga neoliberal internasional sangat senang mengadu domba umat beragama Islam untuk memecah belah dan bisa gampang mencapai tujuannya seperti menguasai SDA negeri berkembang seperti Indonesia 1965.

Para remaja Karo dari Yayasan CERDAS BANGSA Namorambe) mengunjungi Museum Negeri Provinsi Sumut Medan) [Kamis 30/3] untuk lebh mendalami aksa kuno Karo. Selama ini mereka mengikuti kurusus Aksara Karo yang dikelola oleh Sirulo Community Meidation SCM) yang menaungi media online SORA SIRULO dan Sanggar Seni Sirulo.

Perang Salib agama Kristen sudah tak ada pasarannya dan tidak bisa lagi digunakan untuk memprovokasi. Tetapi, dari segi agama Islam, masih semarak sekali seperti Arab Timur tengah, Afganistan, Pakistan dan Bangladesh. Indonesia sudah melewati masa perpecahannya dari segi agama, korbannya sampai 3 juta dibantai pada tahun 1965 hanya memuluskan jalan ke SDA Indonesia, ke Freeport tambang emas Papua. Selama 50 tahun dikeruk tanpa disedari oleh nation Indonesia. Itulah pengaruh besar psikologis mengtamakan agama dalam politik. Indonesia tentu tidak perlu lagi kembali ke diskusi agama setengah abad lalu, karena perubahan dan perkembangan kesedaran manusia sudah jauh lebih tinggi dari 50 tahun lalu.

Kalau bangsa Indonesia sekarang mengangkat diskusi soal agama ke tingkat diskusi 50 tahun lalu, tentu tidak masuk akal lagi. Dinamika saling berhubungan/ ketergantungan di dalam masyarakat sudah begitu tinggi, apalagi setelah adanya internet era informasi dan pengetahuan bagi SEMUA.

Kalau kita meninjau perkembangan masyarakat dari segi KONTRADIKSI POKOK yang berlaku dalam masyarakat, persoalannya akan lebih jelas. Ketika agama muncul (agama apa saja Kristen atau Islam) masalah agama itu adalah masalah kehidupan itu sendiri, jadi juga politik. Karenanya, perang agama jadi perang suatu negara atau kelompok yang memperjuangkan agamanya. Dalam perang kolonial berubah lagi kontradiksi pokok tadi, antara rakyat yang mau merdeka kontra penjajah. Setelah itu muncul era perang dingin, kontradiksinya antara Barat dan Timur. Semua kontradiksi lainnya tunduk kepada kontradiksi pokok ini. Perang dingin selesai, kontradiksi pokok dunia sekarang ialah perjuangan untuk keadilan bagi semua nation dunia.




Sekarang dan terutama setelah kemenangan Trump dan Brexit, sudah semakin jelas bagi semua bahwa kontradiksi pokok dunia sekarang ialah perjuangan antara Kepentingan Nasional kontra Kepentingan Internasional neolib globalis. Ini masih belum jelas sampai akhir tahun lalu (2016). Baru setelah kemenangan nasionalis Trump semakin banyak rakyat dunia menyedarinya. Era Obama adalah ‘the last gasp of neoliberalism’, dan ISIS adalah bentukan Obama-Clinton-Ford. Robert Ford adalah Duta Besar istimewa AS di Syria ketika dimulai pendirian ISIS.

Pidaro Trump ketika pelantikannya:

We will follow two simple rules: Buy American and hire American.

We will seek friendship and goodwill with the nations of the world – but we do so with the understanding that it is the right of all nations to put their own interests first.

We do not seek to impose our way of life on anyone, but rather to let it shine as an example — we will shine — for everyone to follow.

Terlihat jelas dari pidatonya bahwa Trump adalah seorang nasionalis tulen, bukan penganut neolib seperti Obama. Karena itu, semakin jelaslah bagi penduduk dunia kalau kontradiksi pokok dunia itu sudah berubah jadi perjuangan kepentingan nasional kontra kepentingan internasional neolib. Ini berlaku bagi semua nation dunia. Di tiap negeri




Eropah sekarang terlihat jelas konradiksi pokok ini di tiap negara, pertumbuhan pesat partai-partai nasionalis tidak terduga sama sekali oleh penganut internasional multikulti neoliberal. Orang-orang nasionalis seperti Jokowi, Trump, Putin, Brexit Nigel Farage, Marine Le Pen, Duterte dll mewakili kepentingan nasionalis negerinya masing-masing. Ahok termasuk ikut perjuangan kepentingan nasional Indonesia. 

Apakah Yusril ikut? Sayangnya jadi calon saja gagal terus. Jangan putus asa, pak. Perjuangan kepentingan nasional Indonesia berlaku bagi semua yang nasionalis maupun yang tidak nasionalis.

 


Leave a Reply