Demo hari ini, Jumat 31 Maret di luar nalar. Latar belakang dan tujuannya bisa ditangkap publik dengan mudah. Namun semua tujuan itu tak waras. Pertama, angka 313 dipilih karena angka itu cantik, molek, ramping, hoki dan diridhoi Tuhan. Mantap. Ke dua, demo itu  bertujuan untuk mendikte Presiden Jokowi agar memberhentikan Ahok sebagai gubernur. Tentu tujuan ini ganda, yakni membidik Jokowi sekaligus Ahok.





Tujuan ke tiga adalah memberi pesan kepada publik bahwa FUI masih narsis, selfie alias eksis di dunia perdemoan. Ini berarti menyampaikan pesan kepada dunia luar bahwa para anti Ahok di Indonesia masih kuat, solid dan gagah perkasa.  Ke empat, kalau pertama, kedua dan ketiga tidak berhasil, maka minimal tujuan ke empat tercapai, yakni mengingatkan kepada semua kaum titik-titik akan si penista agama agar jangan dipilih.

Menghadapi aksi demo 313, Jokowi terlihat tenang, senyap namun siap mengayunkan pedang samurainya. Demo tetap diijinkan namun di bawah kendali kepolisian. Kalkulasi Presiden Jokowi terkait demo 313 sangat hati-hati. Alasannya demo 313 merupakan cikal bakal demo lebih besar bulan April menuju Tamasya Al-Maidah 19 April. Para lawan Ahok akan tampil habis-habisan untuk memenangkan Anies-Sandi dengan cara apapun yang mungkin. Pilkada 2017 ini akan menuju pertarungan brutal.

Polri pun telah mengeluarkan larangan Tamasya Al-Maidah. Demi terwujudnya demokrasi, TNI-Polri telah bertekad akan bahu membahu mengawal setiap TPS pada hari pencoblosan. Setiap TPS akan dikawal 1 polisi dan 1 TNI. Para pengawal TPS ini setiap saat memberi informasi kepada tim barisan pemukul yang siap bergerak ke TPS-TPS yang mengalami ancaman dan gangguan. Kini Polri semakin tegas menunjukkan kelasnya sebagai pemegang keamananan di negeri ini.

Konstelasi dan kontestasi politik menjelang 19 April 2017 semakin brutal. Inilah yang dipahami betul oleh Jokowi. Bagian intelijen dan tindakan preventif pun sedang disiapkan. Pertemuan Jokowi dengan Ketua MUI, Ma’ruf Amin, kemarin [Kamis 30/3] adalah untuk meredam gejolak demo 313 dan demo yang lebih besar menjelang 19 April mendatang. Pun pemanggilan Ma’ruf Amin bertujuan untuk meredam gejolak ketika Polri mulai bertindak tegas.

Jum’at 31 Maret 2017,  polisi bertindak tegas. Lewat Polda Metro Jaya, tim khusus menangkap 5 orang terkait dugaan makar. Salah satu yang ditangkap adalah Muhammad Al Khaththath, Sekjen Forum Umat Islam (FUI). Ini adalah langkah awal ketegasan polisi mencegah demo yang lebih besar. Para kaum sumbu pendek harus diberi pelajaran. Indonesia sekarang sedang membangun dan bukan kerjanya demo melulu atau makar.

Penangkapan Sekjen FUI beserta 4 orang yang lain, memberi pesan tegas kepada para perongrong negara agar tidak bermacam-macam dan keras kepala. Negara jelas bukan dikendalikan oleh kaum sumbu pendek dengan seenak jidat. Semua harus tunduk pada aturan dan tidak boleh merong-rong NKRI. NKRI harga mati.

Terkait dengan NKRI harga mati, Jokowi tak kenal takut terus mengayunkan pedang samurainya. Dipastikan pedang samurai Jokowi menjelang 19 April akan terus berayun. Tindakan senyap dan tegas Jokowi akan mulai membabat habis para kaum sumbu pendek yang tidak bisa berkompromi. Jokowi lewat Tito pun terus mengkonsolidasi kekuatan. TNI dengan kekuatan penuh tetap di belakang Jokowi plus NU dan rakyat waras.

Di KPK ke depan, kepala tim penyidik KPK harus ditempati oleh perwira bintang satu Polri. Ini jelas untuk memastikan bahwa pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan oleh KPK harus benar-benar valid, cepat dan tanpa pandang bulu. Proyek jumbo e-KTP yang memakan uang negara triliunan Rupiah harus dijadikan sebagai moment tepat untuk menobatkan DPR yang rakus. Pun pemeriksaan Anies terkait kasusnya harus dipastikan agar tidak dijegal Novel, saudara sepupu Anies di KPK.

Bagi Jokowi, negara harus sesuai dengan grand design-nya dan bukan oleh pihak lain. Karena ia adalah pemegang mandat rakyat. Ketika peluang Anies-Sandi untuk menjadi DKI-1 dan 2, para master designer Jokowi mulai bergerak. Bidikan pun diarahkan kepada Sandi. Pemanggilan Sandiaga hari ini [Jumat 31/3] oleh kkepolisian adalah langkah awal pembidikan. Sandi harus diuji secara hukum sebelum dia berlaga 19 April mendatang. Apakah Sandi bersih atau tidak maka harus diuji terlebih dahulu.




Tak tertutup kemungkinan jika Sandi terbukti melanggar hukum, maka dia akan ditetapkan sebagai tersangka dalam waktu cepat. Persamaan di




telah digemakan oleh kepolisian. Sandi harus taat dan harus mengikuti prosedur pemeriksaan. Jika tidak, Sandi akan dipanggil paksa alias ditangkap.

Grand designer  Jokowi ke depan akan terus berlangsung. Para biang kerok, pemimpin demo yang keras kepala, mereka yang melakukan provokasi akan ditindak tegas oleh kepolisian. Penangkapan tokoh-tokoh FUI hari ini adalah contohnya. Pedang samurai Jokowi akan terus berayun, berayun-berayun membabat setiap lawannya tanpa perlawanan berarti. Maka langkah untuk selamat dari pedang samurai Jokowi adalah tiarap. Itulah yang telah dilakukan oleh Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas dan Rizieq Shihab. Tiarap.

Foto header: 2 penari Suku Karo. Ria A.V. br Sembiring Depari (kiri) dan Riani br Tarigan (kanan)



Leave a Reply