Apa yang bapakmu khawatirkan tentang dirimu ternyata terbukti, anakku. Dulu, ketika engkau memutuskan untuk memperdalam agama, bapakmu rasanya ingin mencegahmu. ingin agar kamu urungkan niatmu itu. Namun, karena itu sudah menjadi keinginanmu, tentu bapakmu tidak kuasa menghalangi langkahmu.




Menurut bapakmu ini, Agama seperti dalamnya lautan. Ketika engkau ingin mengetahui dalamnya lautan serta isinya, engkau akan semakin penasaran. Engkau akan semakin ingin Tahu apapun isi lautan itu. Sedangkan disana dan disana tentu ada lautan yg lebih dalam lagi. Bahkan dalaaam sekali.

Anakku …
Setahu bapakmu ini, agama diturunkan untuk memperbaiki akhlak manusia yang konon saat itu rusak. Manusia banyak yang sesat. Manusia banyak yang lupa dengan kebaikan. Benar, bukan?

Jika engkau sekarang merasa lebih pintar ketimbang yang lain tentang agama, ketika engkau sekarang lebih hebat ketimbang yang lain tentang keyakinanmu, kini engkau suka merasa yang paling benar. Kini engkau suka merasa jalan ke surga yang paling tahu. Apakah itu tujuanmu belajar agama?

Sekarang, ketika engkau tiba-tiba bergabung dalam Partai Agama, bapak semakin gelisah, nak. Kanapa agama untuk berpolitik? Kenapa, nak? Atau, untuk mendapatkan gaji? Agar mendapat hidup layak dan enak? Jadi, ini tow, tujuanmu belajar agama?

Rasanya, jika agama demi kebaikan, jika agama untuk akhlak manusia, kenapa harus serumit yang kamu tempuh sekarang? Engaku selalu dan selalu menyitir tafsir-tafsir, menyitir sebuah kalimat yang susah untuk dicerna. Yang bahasa itu bias.

Coba perhatikan, anakku, perhatikan di sekelilingmu atau orang-orang yang bergabung di partai politik agama. Apakah hidupnya tenteram? Apakah hidupnya damai? Apakah keluarganya juga nyaman? Tidak, bukan? Justru hidup mereka gelisah. Hidup mereka penuh nafsu. Nafsu yang dibungkus agama.

Menurut bapakmu, hidup itu sederhana,.Kebaikan itu juga sederhana. Tidak rumit. Dan beberapa hal ini dengar, ya…

1. OJO NJIWIT YEN ORA GELEM DIJIWIT
Ini bahasa Jawa, nak, yang artinya jangan nyubit jika tidak mau dicubit. Jika dijabarkan, jangan menyakiti orang lain jika kamu tidak ingin disakiti. Ini berlaku dalam hal apapun, anakku. Sederhana, bukan?

2. OJO MILIK BARANGE LIYAN
Ini juga bahasa Jawa yang artinya jangan mengambil harta atau barang orang lain. Entah itu mencuri, korupsi, membohongi, dan lain-lain. Jika barangmu diambil orang lain kamu tentu marah, bukan? Simpel juga, kan?

3. SABAR LAN NARIMO
Sabar dan menerima dengan apa yang kita dapat
Ini adalah implementasi syukur. Syukur kepada Tuhan. Kepada Gusti Allah. Kepada sing nggawe urip. Biar apa? Biar hidup itu tidak kemrungsung, anakku. Tidak merasa gelisah karena kekurangan. Penak dan adhem ing pikir…

Banyak yang sebenernya mau bapak ungkapkan, namun rasanya cukup ini dulu, ya. Jangan engkau bikin rumit hidupmu dengan agama, nak…










Leave a Reply