Begini, nak. Bapak belum lama ini terjebak macet. Terjebak di kerumunan orang yang lagi demo. Padahal, saat itu, bapak lagi mengantarkan seorang ibu yang merintih kesakitan karena mau melahirkan. Ketika Bapak tanya demo soal apa, dari orang-orang yang bapak tanya, katanya demo bela agama.





Bapak sedih, nak. Saat itu, Bapak mengguguk menangis melihat hal itu. Kenapa? Bayangkanlah, barangkali bukan bapak saja yang terganggu dengan ulah kalian, yang harus mengantar seorang ibu dalam suasana genting. Ibu itu merintih kesakitan karena terhalang demo. Nah, seandainya siibu itu adalah emak kalian, tentu kalian akan tidak terima bukan?

Itu hanya satu contoh yang menandakan banyak orang merasa terusik dan terganggu dengan ulah kalian. Jika demo dengan slogan Bela Agama ternyata banyak mudorotnya, kenapa masih kalian lakukan? Ke mana roso rumongso kalian?

Tahu Roso rumongso? Ikut merasakan yang dirasakan oleh orang lain.

Lalu, ketika seorang teman bapak yang mau Sholat Subuh, tiba tiba saja harus mendengarkan ceramah demi ceramah yang isinya untuk memilih Paslon dalam Pilkada. Padahal,




temen bapak itu mengharapkan ada pencerahan tentang akhlak, tentang menghadapi tantangan hidup, atau nasehat tentang hak dan yang bathil. Kenapa Rumah Ibadah malah untuk kampanye?

Apakah Rumah Ibadah itu milik Paslon tertentu? Apakah Itu tujuan Subuh Berjamaah? Atau, jangan-jangan setelah Pilkada, Acara SUBUH BERJAMAAH lalu berhenti. Apa begitu, nak?

Adhuuh, nak … nak. Ketika kalian semakin beragama, ke manarosao rumongso kalian? Apakah sudah tergerus pemahaman agama yang kalian bawa?

Sejatinya, hidup musti saling ROSO RUMONGSO, nak. Saling merasakan. Saling menghargai dengan siapapun itu.

Jika begini, ke mana agama kalian?


Leave a Reply