Karo punya impian panjang, mendambakan kembali seorang putra atau putri Suku Karo menjadi Gubernur Sumatera Utara (Gubsu). Sejak Peristiwa 30 September 1965, Karo sebagai sebuah suku bangsa menjadi sangat jauh dari pusat kekuasaan. Jangankan pusat kekuasaan tingkat nasional, tingkat provinsi saja pun sepertinya masih sangat ….. sangat jauh.





Sejak kekuasaan Orde Baru, Gubsu selalu diperebutkan oleh Mandailing dan Batak saja. Kedua suku ini sekaligus menjadi 2 kutub medan magnit dari kekuatan agama di Sumut, yaitu Islam dan Kristen. Oleh karena itu, perhitungan politik untuk Pilkada Sumut umumnya dilakukan dengan memetakan mana suku-suku atau kelompok-kelompok masyarakat lainnya yang bergerak ke arah Kutub Islam (Gubsu dari Suku Mandailing) dan mana saja yang akan bergerak ke arah Kutub Kristen (Gubsu dari Suku Batak).

Para pengamat tiba-tiba saja tersontak ketika Syamsul Arifin dan nantinya Gatot Pujanegara maju sebagai Calon Gubsu. Masing-masing orang ini adalah Islam dari Suku Melayu dan Suku Jawa. Ternyata, kunci kemenangan mereka ada di Suku Karo dan semakin sangat kentara saat kemenangan Gatot. Syamsul dan Gatot mendulang suara sangat banyak di kalangan Karo. Bahkan Gatot sendiri yang sudah menyadari kunci kemenangannya semasa berpasangan dengan Syamsul Arifin semakin menggencarkan kampanyenya di kalangan Suku Karo saat dia mencalonkan diri sebagai Gubsu.

Peta politik Sumut tiba-tiba membingungkan bagi orang awam. Pertama, ternyata Karo jelas-jelas merasa dirinya suku berdiri sendiri yang hanya menjadi bagian dari NKRI tapi bukan bagian sub Suku Batak. Karena itu, mereka tidak punya solidaritas apa-apa terhadap calon dari Suku Batak.

Hal membingungkan lainnya bagi orang awam adalah ternyata orang-orang Karo tidak punya solidaritas apa-apa dengan calon yang beragama Kristen. Padahal, khalayak ramai biasanya menggolongkan Karo sebagai suku yang beragama Kristen seperti Batak. Banyak orang tidak menyadari bahwa agama tidak pernah menjadi persoalan besar bagi Suku Karo meski persaingan-persaingan kecil selalu akan terjadi. Orang-orang di luar sana juga jarang tahu bila di tahun 1985 Karo tercatat sebagai suku penganut Hindu terbesar di Indonesia setelah Bali. Bahkan seorang Karo pernah menjadi Ketua I Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sumatera Utara.

Kejutan betul-betul terjadi ketika calon dari Suku Batak yang beragama Kristen, dan didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan pula, ternyata tidak mendulang suara memuaskan di kalangan Karo, baik yang di Kabupaten Karo maupun di kabupaten-kabupaten lainnya yang sudah dihuni oleh orang-orang Karo sejak Jaman Pre-Kolonial (Dairi, Simalungun, Langkat, dan Deliserdang) ditambah Kota Medan yang didirikan oleh seorang putra Karo. PDI-P ternyata bukan lagi jalur empuk untuk merebut hati warga Suku Karo saat ini, meskipun di tingkat nasional darah politik Karo masih keras beraroma Banteng.

Kerinduan Karo terhadap pemimpin pemerintah yang berasal dari Suku Karo terlihat di kala Nurlisa beru Ginting maju sebagai Calon Wakil Walikota Medan untuk mendampingi Calon Walikota Medan yang diusung oleh PKS. Walupun PKS sama sekali tidak populer di kalangan Karo, apalagi warga Karonya kebanyakan Kristen, dukungan pemilih dari Suku Karo sangat significant didapat oleh putri dari Alm. dr. Bachtiar Ginting MPH ini.

Memang, saat itu, pasangan ini diminta menandatangani sebuah perjanjian politik dengan warga Suku Karo yang salah satu butirnya adalah berjanji tidak akan melarang usaha BPK (Babi Panggang Karo). Orang-orang Karo tidak akan menyebutkan butir yang satu ini bila calonnya adalah seorang seperti Ngogesa Sitepu, meskipun seorang muslim, tentu sangat mengenal watak dari sukunya sendri.




Intinya adalah bahwa, di dalam memilih pemimpin politiknya, orang-orang Karo tidak lagi memperhitungkan apa agamanya, apa partainya dan apa sukunya. Mereka hanya mendambakan, kalau bisa, adalah seorang putra atau putri Karo atau setidaknya mengakui keberadaan Karo sebagai suku yang berdiri sendiri, bukan bagian dari Suku Batak. Walaupun kebanyakan orang Karo adalah Kristen, tapi orang Karo tidak suka sukunya diasosiasikan dengan agama manapun juga.

Semua bakal calon Gubsu yang hendak mendulang suara atau setidaknya dukungan dari orang-orang Karo perlu memperhitungkan impian Karo saat ini, yaitu naiknya pemimpin dari Suku Karo.


Leave a Reply