Selain tewas, ada juga belasan cedera, termasuk anak-anak, ketika teror truck di Stockholm kemarin [Jumat 7/4]. Di TV/ radio Swedia, media the establishment terus menerus memberitakan tanpa hentinya. Semua ‘setuju’ dan bilang supaya rakyat jangan takut dan jangan mau ditakut-takuti. Tetapi dengan siaran terus menerus, selain membosankan, terasa ada maksud menakut-nakuti publik. Sampai seorang psikolog anak-anak bilang, siaran terus menerus tidak baik bagi anak-anak.


“Mereka malah perlu dialihkan perhatiannya kepada soal lain yang bisa menghibur anak-anak,” katanya.

Yang pertama dan utama didahukan tentu korban dan keluarganya yang sama sekali tidak bersalah, termasuk ada anak-anak. Untungnya, memang sudah banyak yang turun tangan. Selain tenaga medis, juga para psikolog yang sangat banyak untuk meringankan penderitaan korban dan keluarganya. Ini lebih penting daripada ngomongkan teroris terus menerus.

PM Swedia yang orang kiri lama (sosialis) bilang kalau kejadian seperti ini tidak bisa dihindari juga di masa selanjutnya ke depan. PM sosialis ini terus bikin pidato setiap ada kesempatan mengomentari kejadian teror perorangan ini (seorang warga negara  Uzbekistan umur 39 tahun), sebuah negara ex Soviet di Asia Tengah, negara mana juga sering diincer oleh ISIS.

Selain PM sosialis ini dari partai-partai lain juga tidak mau ketinggalan bikin komentar berapi-api dan bersemangat bagaimana sedihnya kejadian ini bagaimana perlunya melawan terorisme. Mereka memperlakukn seakan-akan terorisme itu sangat dahsyat, menakutkan dan tak terlawan, sambil mengatakan bahwa kejadian seperti ini di masa depan juga tidak terhindarkan. Padahal terorisme sudah jauh menurun setelah Trump berkuasa di Gedung Putih, karena ‘Obama was  the last gasp of neoliberlisme’, terrorism made in USA (Chossudovsky) sudah jadi luntang-lantung, fabriknya harus hijrah dari USA.

Memang di Barat teror perorangan model orang psikis seperti di Nice masih bisa terus dihidupkan, modalnya cukup dengan sebutir sabu-sabu, bagi peneror yang sudah sangat butuh. Orang Barat seperti di Swedia ini masih sangat cocok jadi tempat fabrik terorisme model Nice. Elit politiknya gampang ditakut-takuti.

Di Indonesia tentu sangat tidak populer karena teroris model ini tak ada harganya atau tidak dihargai. Tak beda dengan begal biasa, langsung ditembak mati atau dikeroyok rakyat sampai mati. Karena itu fabrik terorisme Chossudovsky tak mungkin disebarkan ke Indonesia. Di Indonesia sudah banyak begal dan sudah ditangani secara efisien dan mantap. Tak ada juga manusia yang takut atau bisa ditakut-takuti seperti di Belgia atau Swedia.

Percobaan teroris Thamrin sudah jadi bukti hidup, teroris tak perlu ditakuti kata Presiden Jokowi dan wapres JK tegas bilang kalau teroris tak ada kaitannya denga agama Islam. Berlainan dengan Hollande yang bilang kalau teror Nice adalah teror Islam. Dia malah memperpanjang keadaan daruratnya (emergency) untuk seluruh Perancis. Orang bisa bertanya memang, memihak ke mana Hollande ini.  

Dalam kejadian teror Stockholm kemarin itu, hanya satu partai yang tidak bikin komentar berlebihan untuk membesar-besarkan terorisme, yaitu partai nasionalis Swedia yang sekarang sudah menjadi partai nomor 2 besarnya di Swedia. Sama halnya dengan partai-partai nasionalis di Perancis atau Belanda yang sudah jadi partai nomor 2 di negeri masing-masing. Partai ini sudah punya sebab, mengapa ada terorisme Islam di dunia, sama argumentasinya dengan partai-partai nasionalis lain-lainnya di seluruh Eropah Barat.

Ada komentator di medsos bilang kalau negara-negara Barat itu harus menirukan negara Israel, betul-betul nasionalis tak membolehkan orang asing di negerinya, apalagi sampai terlalu banyak dan merusak kultur setempat. Merusak kultur setempat, inilah faktor yang membikin kekacauan di satu negeri, pendatang terlalu banyak dan berlebihan, sehingga pepatah leluhur kita dilanggar ‘di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’.

Di Swedia penyakit ‘multikulti’ ini sudah dimulai sejak tahun 1970-an, dimana pemerintahan sosialis berusaha menghilangkan kultur nasional Swedia dengan alasan demi multikulturalisme. Begitulah juga tadinya seluruh Eropah Barat, dan sekarang arah kebalikan terjadi dengan bersemaraknya partai-partai nasionalis yang dinamakan partai populis. Ini melahirkan ‘values changing’ (Prof Jonathan Haidt) terjadi dimana saja kalau terlalu banyak pendatang dari kultur lain (values lain).

Ada juga komentator yang mengatakan bahwa semua teror dan multikulti itu ‘diatur dari AS’, tetapi yang lain balik bertanya, ‘tetapi siapa yang mengatur AS?’  

Pertanyaan terakhir ini yang menarik, kalau dilihat dari perubahan politik AS dari neoliberalisme ke nasionalisme setelah Trump menang Pilpres tahun lalu




ketika terjadi pilihan antara Clinton kontra Trump yang memang menggambarkan kontradiksi atau pertentangan antara neoliberalisme internasional kontra nasionalisme AS. Dengan kemenangan Trump maka Obama adalah ‘the last gasp of neoliberalism’. Tetapi tidak berarti bahwa Trump sudah bebas bikin politik nasionalisme tanpa halangan, karena kekuatan neoliberalisme di AS sudah berakar kuat sejak era presiden Andrew Jackson seperti dikatakan oleh presiden Roosevelt 1933:

The real truth of the matter is, as you and I know, that a financial element in the large centers has owned the government of the United States since the days of Andrew Jackson.”

Andrew Jackson jadi presiden 1829-1837. ‘Financial Element’ ini sekarang dinamai neolib, yang akan jadi musuh dan tantangan terkuat bagi Trump dalam usahanya melaksanakkan politik nasionalismenya ‘America First’.

Salah satu pencerminan perlawanan dari neolib ini ialah mengadu domba Trump dengan rakyat AS, antara lain dalam soal ‘health care’ yang diwariskan oleh Obama. Secara internasional, mengadu Trump dengan Putin, terakhir sampai pengiriman 59 rudal membom pangkalan udara militer Assad Syria. Begitu juga mempertentangkan Trump dengan negara-negara seluruh dunia, karena katanya ekonomi semua negeri akan menurun dengan politik ekonomi ‘isolasionisme’ Trump.

Tetapi bagi Indonesai sendiri sudah terasa bagaimana ekonomi




meningkat sejak akhir 2016 sejak didepaknya neoliberal JP Morgan dari Indonesia oleh menkeu Sri Mulyani, dan tidak mendengarkan lagi nasihat-nasihat ‘ilmiah’ dari JP Morgan itu maupun dari  bank-bank besar neolib IMF atau Bank Dunia. Politik ekonomi bilateral Trump menunjukkan hasil bagi Indonesia dan negeri-negeri pengikut bilateral Asia.

Putin dan Trump ada kesamaan, sama-sama orang nasionalis negeri masing-masing. Kekurangan Putin ialah, dia masih terikat oleh tradisi perang dingin seperti membiayai Assad yang sudah ‘obsolete’ seperti obsoletnya NATO atau Pakta Warsawa. Dan kekurangan Trump ialah dia suka ceplas-ceplos seperti Ahok walaupun maskudnya bisa dijamin adalah baik.

Foto header: news.com.au



Leave a Reply