Di beberapa daerah, terutama di Jawa sebagai basis pergerakan Islam yang Rahmatan Lill allamain di bawah Payung NU sudah mulai menggeliat. Sudah mulai manaikkan bendera ketegasan bahwa Negri ini harus dijaga keutuhannya. Harus dijaga semua aspek kehidupan termasuk tradisi yang adiluhung. Tradisi yang sudah mengakar bahwa filosofi peninggalan nenek moyang yang humanis tidak boleh rusak dengan pemikiran-pemikiran merusak keharmonisan serta kerukunan yang terjalin sejak jaman dulu.





Berawal dari Sidoarjo, dengan Bansernya meminta dengan sangat agar penceramah ekstrim yang suka mendosa-dosakan Yasinan dan Tahlillan tidak jadi tampil. Lalu, di beberapa daerah mulai Ngawi, Nganjuk, dan beberapa daerah di Jawa Tengah, dan lain-lainnya juga berkomitmen bahwa Ormas radikal tidak boleh semena-mena mengahancurkan tatanan yang sudah mathuk dalam nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Juga di DKI, dengan terang-terangan GP ANSOR sub Ormas NU berada di belakang Ahok yang meski non Muslim.

Pernahkan mendengar celetukan dari tokoh agama yang kharismatik yang berbunyi “Lebih baik pemimpin non muslim namun adil, ketimbang pemimpin muslim tapi zalin”? Lalu, apa yg terjadi ketika seorang pemimpin berucap sanepo dengan bahasa bersayap? Tentu terjadi polemik yang berkepanjangan. Ini ditangkap di kalangan umat bahwa memandang kebaikan adalah tidak harus dari golongannya. Tidak harus dari agamanya. Kebaikan dari mana saja dan oleh siapa saja.

Sebenarnya banyak yang berharap pemerintah ikut turun tangan membenahi Ormas yang cenderung radikal. Namun, mengapa pemerintah seakan berdiam diri?

Ini musti dimaklumi. Ketika negara turun tangan dalam masalah agama, tentu akan terjadi justifikasi terhadap pemerintah. Ketika kebencian didasari oleh sentimen agama, rasanya situasi juga akan semakin memanas.




Terkecuali jelas-jelas sudah melakukan teror, melakukan intimidasi, apalagi berafiliasi dengan ISIS. Negara tentu saja akan meremukkan para teroris tanpa ampun.

Lalu, mengapa harus NU? Ke mana Muhamadiyah?

Itulah yang terjadi, ketika sebuah kepentingan sudah dicampur dengan politik ingin berkuasa, tentu pura-pura menutup telinga dan menutup mata. Bahkan sekaliber Pak Amin Rais malah juga menjadi penjual kompor.

Semoga geliat NU dengan umatnya yang luar biasa banyak menunjukkan tajinya.



1 COMMENT

  1. “bahwa memandang kebaikan adalah tidak harus dari golongannya. Tidak harus dari agamanya. Kebaikan dari mana saja dan oleh siapa saja.”

    Ini dia dasar pandangan yang jujur dan adil.
    Pandangan dan pendapat selalu bermacam-macam, tetap pandangan yang jurur dan adil bisa sama bagi semua yang bermacam-macam itu. Karena itu juga yang jujur dan yang adil bisa sama-sama memperjuangkannya, dengan diskusi atau debat yang semakin luas, mendalam dan ilmiah. Satu ketika yang jujur dan adil itu akan mayoritas dan disitu berarti sudah tercapai kebenaran yang lebih ilmiah, karena sudah teruji dari banyak pendapat dan pendapat yang berkebalikan sudah jadi minoritas, tidak bisa lagi mempertahankan kebenarannya. Untuk mencapai kebenaran mayoritas ini tidak perlu pakai fitnah, demo atau dengkul, hanya dengan argumentasi yang ilmiah, dan diuji dihadapan banyak orang atau semua. Kebenaran ini bisa butuh waktu lebih lama dari kesabaran. Tetapi dengan diskusi yang lebih dinamis dan melibatkan semua ahli, proses bisa lebih cepat.
    Kebenaran yang lebih mendekati soal Ahok butuh waktu dan tenaga banyak. Tetapi kesimpulan-kesimpulan yang lebih mendekati kebenaran pada pokoknya sudah terkumpul didalam kepala banyak orang. Argumentasi dari segi kebalikan masih tetap dibutuhkan, argumentasi tanpa fitnah, demo atau dengkul.
    MUG

Leave a Reply