Lagi-lagi saya salut kepada pasangan Ahok-Djarot. Kedua pasangan ini sangat konsisten pada programnya. Keduanya bagai batu karang. Tak ada keraguan pada program yang sudah dan akan mereka laksanakan. Penampilan kedua pasangan ini sangat percaya diri dan jujur apa adanya. Sementara Anies-Sandi terlihat ada ketidakjujuran di wajah mereka.

Soal pembahasan APBD, Ahok dengan lugas mengatakan bahwa ABPD harus diselamatkan dari para oknum-oknum DPRD yang sudah biasa korup. Ahok mati-matian membela uang APBD dari para oknum DPRD. Hasilnya APBD bisa membantu rakyat miskin dengan memberikan berbagai kartu. Lalu apa respon Anies terhadap paparan lugas Ahok itu?

Anies lagi-lagi berutopi tentang transparansi, akuntabilitas, dan menyesuaikan APBD dengan kebutuhan masyarakat. Padahal semua yang dikoakkan Anies itu sudah dijalankan Ahok dengan menggelegar. Oleh karena akuntabilitas dan transparansi yang dilakukan Ahok, maka DPRD menjadi mati kutu, tersinggung dan berbalik menyerang balik Ahok.




Soal pembahasan ABPD ke depan, Anies tanpa malu memastikan akan merangkul DPRD, bekerjasama dan menghormati mereka. Inilah yang saya maksud sebagai utopi. Saya masih ingat bagaimana anggota DPRD Senayan mengkorup dana e-KTP. Lalu kasus USB alias UPS dari Lulung. Banyak program siluman dari DPRD yang dengan rakus membegal ABPD. Inilah yang mau dirangkul oleh Anies? Harakiri alias bunuh diri.

Anies juga menyerang gaya komunikasi Ahok yang memanggil anggota DPRD yang membegal uang APBD sebagai maling dan brengsek. Menurut Anies, oknum-oknum anggota DPRD juga harus dihargai, dirangkul dan diajak berkomunikasi. Artinya Anies akan menghormati dan berkomunikasi dengan mereka dengan santun, ramah dan senyum manis. Mantap.

Soal kesehatan masyarakat dan modal usaha, Ahok-Djarot dengan gamblang memaparkan programnya. Program Ahok – Djarot terkait kesehatan adalah ‘Ketuk Pintu Layani dengan Hati’. Program ini sudah dilaksanakan dan akan terus dilaksanakan ke depan. Nantinya, menurut Djarot, Puskesmas akan melakukan langkah pencegahan dengan cara mengecek ke rumah-rumah warga. Para petugas akan mengecek apakah warga menderita penyakit tertentu atau tidak.

Sejalan dengan program kesehatan itu, Ahok-Djarot akan meluncurkan program bedah rumah untuk memperbaiki rumah-rumah warga. Tujuannya adalah mencegah masalah kesahatan warga DKI. Lewat bedah rumah, pembangunan sanitasi yang baik dan pembangunan RPTRA di wilayah-wilayah ibu kota akan dilaksanakan lebih baik.




Sementara soal program kesehatan, Anies-Sandi sibuk menjual program barunya OK-OCE-nya. Bagaimana meningkatkan taraf kesehatan masyarakat? Jawabannya lewat program keshatan OK-OCE. Bagaimana cara memberi modal kepada masyarakat? Masyarakat dimodali lewat OK-OCE mart. Pada debat ini, lagi-lagi Anies berutopi dan menyerang Ahok dengan mengangkat kelaparan seorang nenek.

Terlihat jelas program Anies-Sandi hanya janji-janji manis. Semua manisan OK-OC. Lebih hebatnya lagi, Sandiaga mencoba meyakinkan warga DKI dengan menyebut angka-angka jumlah pengusaha baru yang telah dibina oleh OK OCE. Tentu saja hanya itu klaim yang belum diverifikasi. Jumlah pengusaha yang diklaim itupun OK OCE. Lalu bagaimana soal transportasi? Anies menjawab pertanyaan soal biaya transportasi dengan memberikan biaya transportasi yang murah dan janji pembuatan satu kartu. Kartu trans OK OCE.

Sementara Ahok menjawab biaya transportasi itu lewat dengan peluncuran e-ticket. Pemprov DKI juga sudah memberi tiket gratis bagi masyarakat DKI yang gajinya hanya UMR. Ke depan transportasi di Jakarta akan semakin terintegrasi, terhubung.

Pada sesi debat soal rumah susun, Anies terus menyerang Ahok lewat manajemen yang tidak bottom-up (dari bawah ke atas). Anies juga menyerang Ahok yang hanya membuat warga menderita karena digusur dan ditempatkan di rusun. Jawaban Ahok pun telak. Ahok dengan lancar membeberkan manajemen itu sudah sangat bottom-up.  Hal itu bisa dilihat dari fakta-fakta keberhasilan rumah rusunSekarang masyarakat sudah merasakan manfaat rumah susun itu.

Soal rumah susun yang bocor dan penderitaan penghuninya, Ahok mengakui bahwa yang membangunnya adalah kontraktor maling. Dan itu terus diperbaiki. Soal membayar sewa, Pemrov DKI sudah banyak membantu biaya sewa yang disebut sebagai biaya kontribusi pemeliharaan lingkungan. Sementara Anies lagi-lagi sibuk memperkenalkan program rumah dengan DP nol persen. Anies berutopi dengan berjanji bahwa akan membuat warga DKI punya rumah sendiri. Ini utopsi dan harakiri.

Hal terakhir yang membuat Anies harakiri adalah kesimpulannya soal reklamasi. Anies mengatakan bahwa reklamasi harus ditolak karena reklamasi itu akan membuat banjir dan membuat nelayan menderita.




Faktanya tanpa reklamasi pun DKI Jakarta sudah dikepung banjir. Justru dengan reklamasi dan tanggul-tanggul raksasa (giant wall sea) yang akan dibangun, akan bertujuan untuk mengatasi banjir. Itulah jawaban menohok Ahok. Lewat reklamasi, kehidupan para nelayan akan ditata dengan lebih baik.

Terkait reklamasi, ketika Ahok menanyakan kepada Anies soal reklamasi yang sudah terlanjur, Anies plin-plan menjawabnya. Anies sempat menjawab menolak reklamasi namun ketika tersudut, Anies akhirnya setuju dengan Ahok soal substansi reklamasi. Pada sesi ini memang Anies kalah telak. Ia seolah diajari oleh Ahok soal hitung-hitungan ekonomi soal reklamasi.

Kesimpulan: debat final kali ini tidak sesengit hasil survei SMRC terakhir yang merilis elektablitas Ahok-Djarot 46,9% dan Anies-Sandi 47,9%. Perbedaan elektablitas itu sangat tipis, hanya satu persen. Akan tetapi soal program, Ahok jauh lebih unggul. Programnya semakin tajam, konsisten, jelas, realistis dan gampang dipahami.

Lalu bagaimana dengan Anies? Anies selain sibuk berutopsi dan berjanji manis lewat OK OCE, plin-plan rumah DP nol Rupiah, Anies juga sibuk harakiri menyerang program Ahok yang sudah terbukti membenahi DKI. Selebihnya janji dan program Anis-Sandi hanya guyonan dan tipu-tipu. Seruput.



Leave a Reply