“Menurut sumber internal KPK, penyiraman Kasatgas korupsi e-KTP itu terjadi bertepatan setelah Ketua DPR, Setya Novanto, diajukan permohonan cegah”. Sangat jelas bagi internal KPK mengaitkan teror air keras dengan permohonan pencegahan Setya Novanto ke luar negeri.




Setelah kejadian ‘papa minta saham’ 2015, banyak perubahan dalam diri Setnov, positif atau negatif. Dia jadi Ketua Golkar, dan banyak kehendak bikin perbaikan di tubuh Golkar, termasuk dalam arah Golkar ke nasionalisme seperti juga semua partai-partai lain mengarah ke situ.

Dia juga berhasi merebut kursi Ketua DPR. Jokowi pernah juga mengaitkan kepositifan Setnov dalam kaitannya dengan AS Trump. Terlihat juga memang kalau Setnov banyak mengarahkan pikirannya ke cita-cita nasional Indonesia mengikuti arah yang diagungkan oleh Presiden Jokowi, cita-cita Trisakti dalam Nawacita.

Tetapi, keterlibatannya dalam e-KTP nampaknya suatu beban yang cukup berat sehingga bayangan akan lenyap untuk selama-lamanya dari dunia perpolitikan Indonesia memang semakin jelas. Ini tentu bagi seorang waraspun bisa membawa orang ke impian yang tak waras, alias berhalusinasi seperti pengidap narkoba atau pengidap sabu-sabu.

Cita-cita suci membela kepentingan nasional dan rakyat Indonesia sangat mulia dan besar, dan ada tadinya dalam diri Setnov. Tetapi mungkinkah disatukan dengan halusinasi penyandu narkoba?

To be or not to be . . . iyo oh andiko . . . mengapa Shakespeare bikin itu?










Leave a Reply