Hingga detik ini, Litbang Kompas masih belum merilis hasil surveinya tentang Pilkada DKI Jakarta putaran ke dua. Saya sendiri termasuk warga yang sangat menunggu hasil Litbang Kompas. Mengapa? Litbang Kompas adalah sebuah lembaga yang punya reputasi sangat kredibel. Dalam berbagai surveinya, Litbang Kompas menunjukkan hasil yang akurat.

Sepekan menjelang Pilkada putaran pertama, Litbang Kompas melansir hasil survei yang menunjukkan bahwa suara pasangan Agus-Silvy menurun. Sebaliknya suara Ahok-Djarot dan Anies-Sandi meningkat. Survei Litbang Kompas itu juga mengkonfirmasi bahwa Ahok-Djarot akan keluar sabagai peraih suara terbanyak, diikuti oleh Anies-Sandi di urutan ke dua. Dalam survei Litbang Kompas itu, pasangan Agus-Silvy yang elektabilitasnya terus berada di peringkat pertama, menurun drastis dan berada di urutan terakhir, alias bakal tersingkir.

Kesimpulan dari survei Litbang Kompas itu cukup mengejutkan. Bahkan sejumlah pihak mencurigainya. Bagaimana mungkin pasangan Ahok-Djarot yang sudah babak belur dihajar Aksi Bela Islam 411, 212 masih tetap perkasa? Namun hasil Pilkada putaran pertama mengkonfirmasi keakuratan survei Litbang Kompas itu.




Akuratnya survei Litbang Kompas itu, bisa dilihat pada Pilpres 2014 lalu. Tiga pekan menjelang Pilpres 9 Juli 2014, Litbang Kompas juga memprediksi pasangan Jokowi-JK akan mengalahkan pasangan Prabowo-Hatta dengan selisih 7 persen. Hasil Pilpres mengkonfirmasi prediksi Litbang Kompas itu. Jokowi-JK menang atas Prabowo-Hatta dengan selisih suara 6.3 persen. Itulah bukti keakuratan prediksi Litbang Kompas.

Sampai hari ini [Jumat 14 April 2017), atau 5 hari menjelang Pilkada putaran ke dua, Litbang Kompas belum juga melansir hasil surveinya. Apakah Litbang Kompas akan mengumumkan hasil surveinya? Ini yang banyak ditunggu publik. Namun, melihat batas waktu KPU (masa tenang) yang membolehkan setiap lembaga survei mengumumkan hasil temuan lapangannya sudah berakhir, maka bisa dipastikan Litbang Kompas tidak akan merilis lagi hasil surveinya.

Mengapa survei Kompas tidak merilis hasil surveinya? Alasannya adalah kredibilitas Litbang Kompas yang netral, valid dan reliable, bisa menjadi panduan publik untuk melihat arah dukungan suara dalam Pilkada. Sementara hasil-hasil survei lain atau survei internal PKS-Gerindra tak bisa dipercaya bahkan oleh para elit PKS-Gerindra sendiri karena sumber daya mereka yang masih rendah. Jadi mereka menunggu hasil survei Litbang Kompas sebelum bereaksi. Fakta inilah yang telah dimanfaatkan betul oleh kubu dan tim sukses Anies-Sandi terutama FPI-PKS pada Pilkada putaran pertama.

Sesaat setelah Litbang Kompas merilis hasil surveinya [Kamis 9/2] atau sepekan menjelang Pilkada 15 Februari 2017 dengan hasil: elektablitas Ahok-Djarot 36,2%, Anies-Sandi 28,5% dan Agus-Silvie 28,2%, kubu FPI, HTI dan kaum khilafah langsung bermanufer. Dengan perkiraan suara 10%, mereka berbondong-bondong mengalihkan suaranya kepada kubu Anies-Sandi.

Sebelumnya kubu FPI-HTI dan kaum khilafah ini terbagi suaranya dan kebanyakan masih mendukung pasangan Agus-Silvie. Mereka mencoba membentuk opini, bahwa tidak ada gunanya mendukung Agus-Silvie yang bakal kalah. Jauh lebih baik mengalihkan seluruh dukungan kepada Anies-Sandi untuk memenangi Pilkada satu putaran. Kampanye masif di masjid-masjid kemudian dikerahkan untuk berbalik mendukung Anies-Sandi.

Hasil Pilkada putaran pertama 15 Februari 2017 dari KPU mengkonfirmasi hasil dari manufer FPI-HTI dan kaum khilafah itu. Agus-Silvie kalah dengan perolehan suara 17,05%, Anies-Sandi 39,95% dan Ahok-Djarot 42,99%. Mengapa suara Agus-Silvie tiba-tiba anjilok dari 28% lalu terjun pada angka 17%?

Undangan seminar. Klik untuk ukuran lebih besar

Angka kekalahan Agus-Silvie dan kemenangan Anies-Sandi sangat masuk akal ketika suara FPI,HTI, FUI dan kaum khilafah beralih dukungan 10% kepada kubu Anies-Sandi. Sementara sisanya, murni suara nasionalis atau loyalis SBY. Anjiloknya suara Agus-Silvie bermula dari prediksi Litbang Kompas yang dimanfaatkan betul oleh kaum khilafah. Hal itu menggambarkan betapa berpengaruhnya hasil survei Litbang Kompas itu.

Lalu mengapa Litbang Kompas tidak mengumumkan hasil surveinya menjelang Pilkada putaran ke dua? Setidaknya ada 3 alasan menurut analisis penulis. Pertama, Litbang Kompas sengaja tidak mempublikasi hasil surveinya dengan prediksi kemenangan Ahok-Djarot dan kekalahan di pihak Anies-Sandi. Saya yakin, Litbang Kompas sudah memegang hasil survei dan hanya diberikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan secara rahasia. Mengapa?

Hasil survei Litbang Kompas yang sangat kredibel itu akan memicu brutalisme pada kubu Anies-Sandi. Mereka akan ngotot melaksanakan Tamasya Al-Maidah, mengerahkan warga dari Tangerang, Depok, Bekasi, Bogor untuk melakukan intimidasi kepada para pendukung Ahok-Djarot. Menjelang hari pencoblosan, para pendukung Anies-Sandi yang diprediksi Litbang Kompas kalah, akan mengamuk dan meningkatkan tensi kampanye SARA dan aneka bentuk kepanikan lainnya.

Ke dua, Litbang Kompas sengaja membiarkan survei abal-abal lainnya dengan reputasi tak akurat seperti LSI Denny JA, Median yang juga berafiliasi dengan tim sukses Anies-Sandi. Lembaga-lembaga survei ini sengaja didorong untuk melambungkan kemenangan Anies-Sandi yang semu. Mengapa? Dengan adanya kemenangan Anies-Sandi lewat lembaga survei yang mereka pesan sendiri akan menghibur kaum sumbu pendek untuk tidak lagi melakukan Tamasya Al-Maidah. Alasannya Paslon yang mereka dukung bakal menang.

Ke tiga, Litbang Kompas sengaja menahan hasil surveinya agar pendukung Ahok tidak sombong, gegabah dan terlena tetapi benar-benar all-out datang pada hari pencoblosan. Mungkin survei SMRC bisa menjadi pemicu semangat pendukung Ahok dimana selisih elektablitas sangat tipis hanya satu persen (Ahok-Djarot 46,9% dan Anies-Sandi 47,9%). Justru dengan selisih tipis ini, para pendukung Ahok menjadi lebih semangat untuk datang ke TPS-TPS tanpa takut isu-isu intimidasi.

Sebetulnya secara tersirat, Litbang Kompas sudah memberi sinyal kepada pendukung Ahok terkait hasil polling debat 12 April 2017. Hasilnya, debat dimenangkan oleh Ahok-Djarot dengan nilai tertinggi. Dan ingat hasil debat berpengaruh pada hari pencoblosan sekitar 3-14%.




Ini sebagai pemicu semangat kepada para pendukung Ahok agar benar-benar yakin bahwa Ahok-Djarot menang dan tidak berpikir Ahok kalah. Jika ada pikiran semacam itu dan percaya hasil survei abal-abal, maka bisa jadi Ahok benar-benar kalah.

Jadi tiarapnya Litbang Kompas dan tidak merilis hasil surveinya semata-mata untuk strategi keamanan. Namun Litbang Kompas sudah memberi sinyal bahwa Ahok-Djarot menang tipis pada putaran ke dua.

Sinyal itu harus dibaca oleh para pendukung Ahok agar benar-benar datang pada hari pencoblosan dan memastikan menggunakan hak pilihnya di bilik-bilik suara.

Jangan takut soal keamanan. Aparat akan mengerahkan puluhan ribu aparat pada hari pencoblosan.


Leave a Reply