Hari ini, Sabtu 15 April 2017, Ahok kembali aktif jadi gubernur. Bagai pahlawan yang pulang perang, Ahok kembali dengan selamat. Kembalinya Ahok menumbuhkan harapan baru. Balai kota kembali hidup, semangat pelayanan birokrat kembali menggairahkan dan menggeliat. Ada kebahagiaan bagi mereka yang sudah merasakan keadilan sosial ketika Ahok kembali.

Kembalinya Ahok menjadi gubernur bisa dikatakan sebuah keajaiban. Ia ibarat petinju yang sudah berdarah-darah dikeroyok lawannya, namun masih bisa bangkit. Ahok sudah kembali lagi ke pangkuan para pencinta kebhinnekaan, perindu keadilan sosial dan pejuang keberagaman. Di sana ada harapan, ada cinta akan kemajuan, ada impian dan ada gairah hidup baru meraih masa depan bangsa yang lebih jaya.

Kembalinya Ahok menjadi gubernur mengingatkan publik akan sepak terjangnya di masa lalu. Sejak Ahok menjadi gubernur, Jakarta benar-benar terguncang oleh mulut sangarnya. Ahok yang meledak-ledak, membuat banyak orang yang selama ini hidup di zona aman di birokrat DKI, terkencing-kencing di celana.

Saat Ahok pada awal-awal menjadi wakil gubernur dan seterusnya menjadi gubernur, ia langsung melabrak para koruptor dengan kata maling, begal dan perampok. Ia menolak anggaran siluman DPRD dengan tulisan ‘pemahaman nenek lu’. Ia menyemprot BPK dengan kata ‘ngaco’, membungkam anggota DPR Senayan dengan kata ‘kampungan’.

Sejumlah pihak masih ingin Ahok seperti dirinya yang dulu. Karena di situ kekuatan Ahok sebenarnya. Publik menginginkan mulut Ahok yang terus bersuara lantang menelanjangi orang-orang yang munafik berbaju agama, bertopeng muka bak malaikat. Anak-anak muda yang sudah muntah akan birokrasi korup, merindukan mulut Ahok yang setajam silet, mengiris para koruptor.




Di negeri ini sudah terlalu banyak orang yang hidup berpura-pura mengatasnamakan rakyat. Sebelum menjadi gubernur, bupati atau wali kota, mereka mengobral janji untuk mensejahterakan rakyat. Setelah menjabat, mereka lupa dan asyik menikmati uang haram. Saat  tertangkap KPK malah merasa dizalimi dan dada-dada di televisi. Mereka-mereka inilah yang diinginkan publik untuk dikuliti secara empuk oleh mulut Ahok.

Mulut Ahok yang dulu itu memang luar biasa. Saking comberannya, Tuhan sendiri menguji mulutnya. Ia menguji mulut Ahok di bara api agar semakin murni. Ia membiarkan Ahok menyerempet Surat Al-Maidah untuk menguak kebenaran ayat itu. Sejumlah jenggotpun terbakar dan terpicu untuk meledak. Jutaan orang pun mendemonya.

Lalu, Ahok menjadi tersangka. Ahok terkapar dan berdarah-darah. Elektabilitasnya jatuh ke dasar jurang. Ahok tamat. Banyak pendukungnya yang menyesali situasi itu. Akan tetapi, Ahok tidak terkapar selamanya. Ada tangan kuat yang mengangkatnya kembali. Ahok dua kali cuti dan dua kali juga kembali menjadi gubernur.

Tuhan menguji Ahok karena ia akan digunakan sebagai perpanjangan tangan-Nya. Sudah banyak ujian yang telah diterima oleh Ahok sebagai warga double minoritas di negeri ini. Ujian-ujian yang lebih beratpun akan terus berdatangan ke depan. Namun, hingga saat ini, ujian kepada Ahok untuk level tertentu sudah cukup. Ia kembali menjadi gubernur dengan langkah mantap.

Saat ia kembali hari ini, Sabtu 15 April 2017, Ahok sudah siap menghadapi hari menentukan dalam hidup politiknya 19 April, hari pencoblosan. Bersamaan dengan itu, sidang atas kasus yang dituduhkan kepadanya ditunda. Pada debat final 12 April lalu, Ahok tampil mencengangkan kendatipun ia dizalimi oleh pertanyaan-pertanyaan beberapa komunitas. Trend elektabilitasnya pun semakin menanjak naik. Survei Charta Politica yang lebih dipercaya mengiringi langkahnya.

Setelah Ahok diuji, Tuhan juga menghadirkan keadilannya dengan menghajar lawan-lawannya yang munafik dan berniat jahat kepadanya. Ahmad Dhani yang begitu gigih menentang Ahok, dibuat kalah di Pilkada Bekasi dan kini juga menjadi tersangka. Bintang Ahmad Dhani pun pudar. Ratna Sarumpaet yang berbusa-busa mulutnya menentang Ahok, kini juga tersangka dan lidahnya kini menjadi kelu.

Yusril Ihzra Mahendra yang gigih menjegal Ahok, kini dipermalukan setelah melamar ke sana ke mari menjadi calon gubernur, namun tak seorangpun yang melirik. Hal itu menjadi luka menganga pada sisa sejarah hidup Yusril. Habiburokhman dibuat ketakutan lalu buru-buru mencabut laporan gugatan kelompoknya atas Ahok sebesar Rp 470 miliar di pengadilan. Dan, banyak lagi yang dihajar oleh Tuhan.




Ah, Tuhan maha adil. Patrialis Akbar yang terang-terang menentang Ahok, dihajar Tuhan dengan menjadi tersangka.

Wajah Patrialis yang berpura-pura alim, berjenggot bak ahli kesucian, tertangkap suap korupsi bersama wanita cantik. Orang super munafik, menyuap Tuhan dengan berpura-pura beramal.

Rizieq, Munarman, Sanusi, Buni Yani dan banyak lagi juga dihajar Tuhan termasuk Lulung yang kini terlunta-lunta tak punya partai dan terancam dijadikan tersangka KPK.

Ah, Tuhan maha adil. Setelah Ahok dihajar, Ahok kembali menjadi gubernur diiringi tren elektabilitas yang semakin naik. Selamat datang kepada Gubernur Ahok.



Leave a Reply