Dalam pertemuannya dengan Sekjen NATO Jens Stoltenberg di Gedung Putih kemarin dulu [Kamis 13/4], Trump bikin pernyataan bahwa NATO ‘no longer obsolete’. Ini berkebalikan dengan pendapatnya ketika kampanye dan pada hari-hari pertama di Gedung Putih diman dia mengatakan bahwa NATO obsolete karena didirikan tadinya untuk melawan Pakta Warsawa Soviet.

Bahwa perjuangan keadilan di dunia sekarang ini tercermin dalam pertentangan dua kepentingan yaitu kepentingan nasional kontra kepentingan internasional neolib, memang dirasakan oleh Trump sejak permulaan kampanye, berangsur bertambah keras dan bertambah nyata sampai ke Gedung Putih sekitar 100 hari di sana.

Sekarang mulai terlihat kegoyahannya. Memang sejak semula juga sangat susahlah membayangkan kalau Mr Trump akan bisa berhasil menantang kekuatan besar neolib internasional yang sudah berdominasi dan berkuasa di AS hampir 200 tahun, sejak era presiden Andrew Jackson seperti disinyalir oleh presiden Roosevelt, dia bilang 1933:

“The real truth of the matter is, as you and I know, that a financial element in the large centers has owned the government of the United States since the days of Andrew Jackson.” (Andrew Jackson jadi presiden 1829-1837)

The ‘Financial Element’ ini sekarang dinamai neolib globalist, yang akan jadi musuh dan tantangan terkuat bagi Trump dalam usahanya melaksanakan politik nasionalismenya ‘America First’.

Salah satu pencerminan perlawanan dari neolib ini ialah mengadu domba Trump dengan rakyat AS, antara lain dalam soal ‘health care’ yang diwariskan oleh Obama. Secara internasional, mengadu Trump dengan Putin, terakhir sampai pengiriman 59 rudal membom pangkalan udara militer Assad Syria. Begitu juga mempertentangkan Trump dengan negara-negara seluruh dunia, karena katanya ekonomi semua negeri akan menurun dengan politik ekonomi ‘isolasionisme’ Trump.




Tetapi, bagi Indonesia, sendiri sudah terasa bagaimana ekonomi meningkat sejak akhir 2016 sejak didepaknya neoliberal JP Morgan dari Indonesia oleh Menkeu Sri Mulyani,. Inonesia tidak mendengarkan lagi nasihat-nasihat ‘ilmiah’ dari JP Morgan itu maupun dari bank-bank besar neolib IMF atau Bank Dunia. Politik ekonomi bilateral Trump menunjukkan hasil bagi Indonesia dan negeri-negeri pengikut bilateral Asia.

Dalam pertemuannya dengan Stolternberg itu sudah terlihat jelas pernyataannya yang membalik 360 derajat (u-turn), dari NATO yang obsolete jadi no longer obsolete. Walaupun masih ada tetesan kecil harapan bagi nasionalisme Trump karena NATO dalam pernyataannya semata-mata untuk melawan terorisme. Bukan untuk melanjutkan tugas lama NATO melawan Pakta Warsawa atau Putin sekarang, karena sehari sebelum pertemuan itu [Rabu 12/4] dia masih mengirimkan Menlunya Rex Tillerson ke Moscow menemui menlu Rusia Sergey Lavrov untuk membicarakan antara lain ‘campur tangan Rusia di Pilpres lalu, serangan 59 rudal Jumat lalu dan memang terutama soal perang Syria ini’.

Seorang professor dari university of Kent Richard Sakwa mengomentari bahwa pertemuan ini adalah paling penting ‘sejak perang dingin’. Bisa dibayangkan memang ‘paling penting’ karena selama ini sejak perang dingin memang tidak pernah terlihat kemungkinan perubahan antara ‘Barat dan Timur’. Dalam setiap perundingan yang pernah ada hanya untuk memperkuat pihak masing-masing.

“This is one of the most important US-Russian visits since the Cold War. There have to be serious discussions about ensuring a positive way forward over Syria, otherwise the tensions have the potential to escalate into a serious conflict. The discussions must avoid ultimatums and threats,” Sakwa said, sputnic news.

The professor noted that the West had never really understood the dynamics of the Syrian conflict and that any way forward must include Russia.

Mengikutkan Rusia ini yang utama,




supaya satu waktu Rusia juga memahami bahwa Assad pada hakekatnya dibutuhkan oleh penjarah duit itu, artinya supaya konflik terus bisa dijaga existensinya.

Bahwa Barat tidak pernah mengerti dinamika konflik Syria sangat betul apa adanya, artinya sebagian besar publik Barat. Tetapi yang mengerti sungguh dinamika konflik itu ada juga, yaitu gerombolan Greed and Power yang memang mau cari duit di Syria dan Irak (SDA), triliunan dolar sudah mengalir dan masih mengalir terus ke pundi-pundi Neolib pemerkarsa ISIS.

Dari segi triliunan dolar ini tentu sangat merugikan kalau konflik Syria atau ISIS berakhir. Sama halnya dengan pengerukan triliunan dolar dari Freeport neolib Papua, bikin teror 3 juta 1965 dan menyingkirkan Presiden Soekarno.



Leave a Reply