Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini adalah, tiba-tiba saja banyak kita jumpai orang-orang yang berkostum ala “dunia lain”. Kostum yang konon lebih berakhlak. Lebih syari, lebih berpahala.

Memang sih, itu hak azasi manusia untuk bersikap, untuk berekspresi diri dengan keyakinan masing-masing. Mau berkostum ala Ninja atau berdaster itu tentu hak mereka. Namun, yang membuat semua menjadi kontroversi adalah diantara mereka ada yang mengatakan: “Tatanan yang ada, tradisi dan budaya yang tidak dijarkan oleh agama adalah haram dan kafir.”

Faktanya adalah, beberapa waktu lalu pagelaran Wayang Kulit juga ditolak. Bahkan Yasinan dan Tahlillan juga dikatakan “amalannya ditolak”  dan, bahkan, dosa besar.

Manusia yang beradab adalah manusia yang berbudaya, yang mengedepankan tali rasa ASIH, ASAH dan ASUH yang diImplementasikan dalam Akhlak. Namun, ketika mengaku lebih beragama, mengaku lebih dekat dengan Tuhan, mengapa tali rasa itu seakan menjauh? Mengapa saling hormat menghormati pilihan semakin dikesampingkan? Apakah agama mengajarkan seperti itu? Agama apa itu?

Berkata haram memang mudah. Berkata kafir memang juga gampang. Namun, apakah tidak disadari bahwa tradisi dan budaya negri ini yang adiluhung, yang selalu memanusiakn mnusia dengan menjunjung tinggi Harkat dan Martabat, yang diturunkan oleh nenek moyang bangsa ini akankan begitu mudah tergerus?

Di ujung Sumatra ada Tari Saman, ada Tari Perkolong-kolong di Karo, ada Tari Piring di Sumbar, ada Tari Sriwijaya dari Palembang. Dan di Jawa, mulai Jawa Kulon dan Jawa Timur barangkali ratusan tradisi budaya yang luar biasa indah. Ada wayang golek, ada wayang Kulit. Tari Srimpi, dll. Belum lagi Pulau Bali yang juga penuh dengan tradisi dan budaya yang luar biasa.

Jika tradisi itu akan dirusak dengan agama, akan digerus dengan mengatakan tradisi di negeri ini tidak ada di Jaman Nabi, waaahhh…. tentu harus dipertanyakan untuk apa belajar agama.

Jadi, Ketika Pak Djarot diusir dari masjid karena tidak sesuai pilihannya, bisa diasumsikan bahwa tradisi dan budaya negeri ini yang mempunyai TEPO SELIRO yang tinggi telah tergerus. Telah rusak. Celakanya oleh mereka-mereka yang mengaku lebih beragama.

GAWAT…!!!

Catatan redaksi: Foto header adalah seorang penari Karo sedang menarikan Tari Odak-odak dan video di bawah adalah Sanggar Seni Sirulo saat menampilkan Tari Perkolong-kolong dari Suku Karo.










Leave a Reply