Oleh: Natalie Sembiring

Saat General Repetion (GR) untuk acara Paskah, kami membawakan tari Batak (tortor) karena tahun ini kebetulan giliran Inkulturasi Batak. Maka datanglah ibu-ibu mengomentari cara kami menari.

“Mangembas hentakkan kakinya dan kepal tangannya. Jangan buat gemulai gitu,” kata salah seorang diantara ibu-ibu itu sambil mencontohkan gerakannya.

Merasa kurang puas, ibu ini terus merepet: “Susah memang kalau Orang Karo yang menari Batak.”

“Jangan bawa-bawa cara seperti menari Karo lah untuk menari Batak !! Jangan nampak kali kalau yang menari bukan orang Batak,” sambungnya dengan harapan agar tarian ini lebih memancarkan karakter Batak daripada karakter Karo karena sebagian kami adalah Orang Karo.

Diiiienggggg ahhhh, yang bener saja ibu ini. Apa tidak tahu dia Batak Karo? Jadi, maksud ibu bahwa Karo bukan Batak, gitu? Ingin rasanya kutunjukkan perjuangan sebagian Orang Karo untuk diakui Batak. Ingin kubilang ke ibu ini, jangan begitu, buk, bangga kali saudara kami sebagian Orang Karo sebagai Batak, sampai-sampai mereka marah sekali terhadap orang-orang Karo lain yang menyerukan Karo Bukan Batak alias KBB.

Sakit sekali rasanya lho, buk. Sudah dianggapnya kita satu nenek moyang Si Raja Batak, tapi ibu bilang pula yang menari bukan Batak. Tahukah ibu bagaimana rasanya menjadi bagai daun sirih yang tak bertangkai? Meski ada dalam ikatan tapi tidak ikut dihitung, karena Orang Karo menghitung jumlah daun sirih dalam satu kepitan hanya menghitung tangkai daunnya. Begitulah rasanya kalau Orang Karo disebut-sebut sebagai Orang Batak tapi padahal bagi orang-orang Batak sendiri Karo jelas Bukan Batak.

Sedih, bukan?

Belum lagi kami Orang Karo ini suka berdebat sesama kami tentang kebatakan Karo. Lalu, ibu tidak akui pula kamii ini Batak. Kuja nari nge kami pepagin e, ibu? Tega kali ibu inilah. Sudah durhaka pun kami sama budaya kami sendiri, sama nenek moyang kami demi menjalin persaudaraan atas nama Batak. Tapi tetap juga kami dianggap anak tiri di Batak.

Hancur, bu, hancur hati ini, ibuuuuuu ……









1 COMMENT

  1. “Orang Karo disebut-sebut sebagai Orang Batak tapi padahal bagi orang-orang Batak sendiri Karo jelas Bukan Batak.” (NS)

    Dua pikiran (way of thinking) mencerminkan dua sikap juga dalam seni tari, sangat bagus dan jelas terlihat dalam uraian NS diatas.

    Kalau ditinjau lebih jauh kebelakang, pembatakan atau membatakkan suku lain adalah politis, sama halnya ketika kolonial memakai istilah ‘Batak’ untuk bikin penggrupan berbagai suku dalam rangka pecah belah dengan penduduk pesisir muslim, jelas adalah juga politis. Sekarang tentu tidak perlu lagi kembali ke era kolonial, tetapi pakai logika era sekarang saja, yaitu: mengakui dan menghargai way of thinking dan way of life tiap suku. Sikap dan perangai dalam menari juga jelas menggambarkan way of thinking dan way of life tiap kultur atau tiap suku bangsa.

    Keinginan orang Karo memerankan tari Batak seperti dalam tulisan diatas, adalah keinginan persahabatan yang berharga tinggi, karena itu patut dapat apresiasi tinggi pula. Itulah pernyataan saling mengakui dan saling menghargai dan juga saling menghormati sesama suku yang dengan keragaman tradisi dan kulturnya, di Indonesia tercantum dalam politik Bhinnea Tunggal Ika.

    Saya sangat bangga dan menghargai bagaimana alm.Charles Simbolon (Batak) menyanyikan lagu-lagu Karo. Terlihat dan terasa jelas kalau Charles bukan orang Karo dalam menyanyikan lagu Karo itu, tetapi kemauannya dan usahanya yang begitu keras ‘mengkarokan’ lagu dan suaranya yang sangat bagus itu, membikin keindahan tersendiri dan sangat spesifik, dan bagi saya sendiri sebagai orang Karo sangat indah dan sngat menggugah hati, artinya perasaan Karonya ada disitu.

    Dari pelajaran dua kharakter psykologi yang berlainan (introvert dan extravert) antara suku Karo dan suku Batak (Toba) bisa dicapai saling pengertian yang lebih objektif dan lebih ‘indah’ dan sangat menarik dalam melihat interaksi antara dua suku ini. Dalam pencerminan politis praktis orang Karo harus melihat orang Batak sebagai extrovert dan sebaliknya juga bagi orang Batak melihat Karo sebagai introvert, dan dari situ bisa terlihat kesungguhan saling menghargai dan juga saling mengerti yang sangat berharga tinggi.

    Dalam soal kerja sama, interaksi dan saling hubungan yang terpelihara secara sadar dan dengan jangkauan jauh, antara dua kharakter berkebalikan ini, dalam kerja sama umumnya bisa menghasilkan resultat yang tak terlawan. Ini karena kekurangan dan kelebihan dalam masing-masing kharakter bisa berubah jadi ‘hanya’ kelebihan. Itulah bedanya kalau suatu tugas hanya dilakukan atau dikerjakan oleh orang introvert saja atau orang extrovert saja. Pengalaman dalam dunia usaha/bisnis sudah banyak digambarkan tentang soal ini.

    MUG

Leave a Reply