Gak kebayang ketika di sebuah TPS ujug-ujug ada gerombolan “ORANG ASING” yang tentu saja asing tiba-tiba ada di sekitar TPS. Gak Kebayang juga tiba-tiba hanya untuk Pesta Demokrasi saja harus diPELOTOTI oleh orang asing yang semoga tidak aneh-aneh.

Tentu, ketika ada gerombolan orang yang lebih dari 5 atau 10 orang, apakah bisa dijamin gerombolan tersebut hanya melihat-lihat dan duduk manis? Apakah para ORANG ASING itu ada jaminan tidak melakukan ujaran-ujaran untuk menggiring agar seseorang pemilih terganggu?

Dari info yang patut dipercaya, dalam Putaran Pertama saja ada ujaran-ujaran agar pemilih digiring untuk memilih Paslon tertentu. Dan, ujaran itu cenderung intimidatif. Cenderung agak “keras” dengan berbagai macam cara.

Ini yang patut diwaspadai bersama. Ini yang patut menjadi perhatian. Bahwa tentu rasanya sangat MUSYKIL dan aneh jika mereka hanya mempunyai agenda TAMASYA. Yang hanya kluntrang kluntrung melihat-lihat sambil menikmati suasana Pilkada DKI. Pilkada yang tentu saja aroma dan rasanya sama dengan Pilkada-pilkada yang ada di seluruh negeri ini.

Coba kita perhatikan. Judulnya saja TENDENSIUS. Ada kata Almaidah. Sebuah kata yang membuat negeri ini geger. Sebuah kata yang membuat banyak orang “terbuai”. Apakah bisa dipercaya kalau Tamasya tersebut murni hanya untuk hapy-happy? Hanya untuk membuat pikiran fresh?

Namun begitu, apapun itu, setiap Warga Negara boleh dan mempunyai hak untuk bersikap. Akan tetapi, Tamasya Almaidah apakah sebuah partisipasi atau malah Intimidasi?

Aaahhh…. Pilkada DKI, Pilkada DKI … Banyak orang yang jadi lucu dibuatnya.









1 COMMENT

  1. “Coba kita perhatikan. Judulnya saja TENDENSIUS. Ada kata Almaidah. Sebuah kata yang membuat negeri ini geger.”, bisa juga dipakai “agar pemilih digiring untuk memilih Paslon tertentu” (GY). Lebih dari situ bertendensi mengacau, mengadu-domba dan memecah belah kesatuan dan kebersamaan rakyat negeri ini dan penduduk Jakarta khususnya.

    Betul memang pendapat GY, ‘Tamasya Almaidah’, mengingatkan pertengkaran ‘Almaidah’ di Jakarta sampai pengadilan berulang-ulang atas ‘penodaan agama’ yang sudah terkenal itu. Sekarang diciptakan ‘tamasya Almaidah’, bisa juga diartikan sebagai ejekan atas ayat Almaidah atau pujaan terhadap Almaidah. Yang jelas kalau dipakai sebagai intimidasi sama saja dengan memakainya untuk menipu. Ayat-ayat al Quran diciptakan bukan untuk tamasya, tetapi untuk tujuan religius memuja Tuhan. Kalau dipakai untuk ‘happy-happy’ apa itu yang diajarkan Tuhan? Ha ha . . . ini bisa juga nanti menggiring publik untuk debat penafsiran yang tidak berkesudahan, seperti penafsiran ayat 51 itu sendiri.

    Yang bisa dipastikan ialah bahwa ‘tamasya almaidah’ ini tidak bermaksud dan juga tidak mungkin akan menjernihkan sesuatu atau untuk menjernihkan situasi yang sedang kacau dalam soal ‘almaidah’. Dan juga tidak mungkin dengan cara itu akan berfungsi sebagai sesuatu yang mempererat kebersamaan dan kedamaian sesama rakyat negeri ini yang bhinneka tunggal ika itu, atau sesama penduduk Jakarta khususnya. Malah akan menimbulkan kecurigaan, mengapa memilih saja harus ditonton dan di’awasi keadilannya’, dan oleh orang luar pula, dan secara massal beramai-ramai pula.

    Pemimpin spiritual terkenal Dalai Lama pernah juga mengeluh soal dimanfaatkannya agama oleh orang-orang yang suka menipu orang banyak, beliau bilang bahwa di dunia sekarang ini “religion has become an instrument to cheat people”- dikutib dari timesofindia. Disini Dalai Lama memakai istilah agama (religion) jadi alat atau instrument untuk menipu orang, Ahok memakai istilah ‘ayat 51’ yang dipakai orang tertentu juga untuk menipu orang lain supaya tidak memilih dia dalam pilgub.

    Ada kemiripannya memang kata-kata Ahok dibandingkan dengan kata-kata Dalai Lama, sama-sama memakai agama (religion) sebagai alat untuk menipu orang lain. Itulah dunia kita sekarang menurut Dalai Lama. Memang dulu tidak begitu, dunia sudah berubah, bukan lagi jaman agama kayak dulu, dimana rakyat Indonesia selalu damai-damai dan akur-akur saja hidup bersama dengan berbagai agama yang berlainan.

    Sekarang banyak penipu menggunakan agama untuk menipu dan untuk mendapatkan keuntungan politik dan juga untuk mendapatkan keuntungan duit seperti memanfaatkan islam ISIS untuk menjarahi SDA Syria dan Irak. Juga agama dan perbedaan agama, akan selalu dipakai oleh orang luar, perekayasa ‘divide and conquer internasional’ memecah belah satu negara dan pemerintahan tertentu seperti RI dalam gerakan makar 212 dan 313, atau juga adu domba 1965.

    Sekarang ini diciptakan lagi gerakan baru ‘tamasya almaidah’, bisa dipastikan adalah lanjutan dari gerakan makar 212 dan 313 yang sudah berhasil digagalkan oleh aparat keamanan dan pemerintahan RI. Pemerakarsa divide and conquer internasional ini tidak akan pernah menghentikan kegiatannya, untuk mengadu domba dan memcah belah, dari kegagalan yang satu akan dimunculkan kegiatan lain dan seterusnya tidak akan pernah berhenti . . .

    Karena itu perlu selalu mempertinggi kewaspadaan, dan kesigapan dari aparat keamanan dan pemerintah RI. Gerakan ‘tamasya almaidah’ juga harus diwaspadai dengan seksama, dalam mencegah bahaya yang akan ditimbulkannya seperti gerakan berbahaya 212 dan 313 yang sudah berhasil ditumpas itu. Publik percaya sepenuhnya kali ini juga terhadap kesigapan aparat dan pemerintahan RI, seperti kesigapannya dalam menghadapi gerakan pecah belah dan makar 212, 313 itu.

    MUG

Leave a Reply