Belakangan ini, dikirim armada AS ke semenanjung Korea, memata-matai percobaan balistik Korut. The establishment AS berhasil menekan dan menggunakan Trump di Gedung Putih untuk bikin pengintaian percobaan balistik Korut. Sama halnya dengan penekanan atas Trump untuk kirim 59 rudal ke Assad [Jumat lalu 7/4. Kiriman 59 Tomahawk ini bermaksud jelas mengadu domba Trump dengan Putin. Putin merasa berkepentingan membela Assad, tetapi yang sebenarnya terjadi ialah bahwa neolib itulah yang sangat butuh existensi Assad supaya perang dan perpecahan tetap ada di Syria dan aliran triliunan dolar ke pundi-pundi neolib dari SDA Syria tidak berhenti.  

Trump adalah pemimpin nasionalis AS yang belakangan sedikit goyah karena pengaruh buruk media utama the establishment dan tekanan keras dari ‘the party of money’ AS (Gore Vidal) atau ‘the secret government’ atau ‘finance element’ (Roosevelt) masih sangat kuat dibandingkan dengan kekuatan dan pengaruh Trump sendiri untuk menyangkalnya.

Kekuatan Trump hanya jabatannya sebagai presiden. Kekuatan di belakang Trump masih belum mengerti dinamika kontradiksi pokok dunia sekarang. Tetapi sudah ada ‘perasaan’ adanya kepentingan nasional AS itu, terutama di kalangan massa rakyat orang putih AS, kaum buruh serta penduduk miskin pedesaan dan pedalaman AS. Tetapi, untungnya ialah bahwa Trump bisa dapat bantuan pengetahuan dari banyak akademisi AS dan Canada dari analisa dan kesimpulan-kesimpulan mereka yang sangat genial.

Soal Korut, dibandingkan dengan Putin yang kaki kirinya masih ketinggalan di era lalu (perang dingin), anak muda pemimpin Korut ini malah kedua kakinya masih ketinggalan di era perang dingin lalu itu.

Rudal antar benua buatan abad lalu, kalaupun masih kuat melintasi seluruh perjalanannya ke benua lain, belum setengah jalan, sekarang sudah bisa dideteksi dan bahkan bisa meledak sebelum keluar atau begitu keluar dari ‘lobang’nya di Korut. Sudah bisa diledakkan atau ditembak jatuh. Tekhnik ini (anti rudal) belum ada ketika rudal itu diciptakan, rudal mana juga belum pernah diuji-coba.

Jadi, nuklirnya akan bisa meledak dimana saja termasuk di Korut sendiri sebelum sampai di tempat tujuan. Entah apa serta sampai di mana kehancuran dan ketakutan yang diciptakannya, bisa di Korut sendiri, yang punya juga tidak tahu, karena yang punya (Kim Il Sung) sudah lama meninggalkan dunia. Sedangkan dunia sudah berkembang jauh lebih maju dari dunia masa hidupnya, secara tehnik maupun pemikiran.




“Kami akan merespons perang habis-habisan dengan perang habis-habisan dan perang nuklir dengan serangan nuklir,” ujar Choe Ryong Hae, orang kuat ke dua di Korut setelah Kim Jong-un, dalam parade militer kemarin dulu [Sabtu 15/4] sebagaimana dilansir oleh merdeka com.

Omongan yang patut diucapkan dan patut didengarkan lebih dari setengah abad lalu dalam tahun-tahun setelah perang dunia ke dua. Permulaan sengit-sengitnya perang dingin. Tetapi kalau sekarang dikatakan ‘Perang habis-habisan’ (perang nuklir). . .  siapa yang bakal habis? Yang jelas dan pasti habis ialah Korut, tetapi yang lain belum tentu habis.

Cita-cita jadi penguasa dunia atau jadi negara terkuat di dunia dengan senjata nuklir bahkan tidak dipercaya lagi oleh ‘global hegemony’ Greed and Power. Gantinya dipakai ‘proxy war’ atau ‘cyber war’ atau perang apa saja dengan ‘senjata ringan’, atau senjata yang tak terlihat. Yang sudah terdaftar sekarang cara yang dipakai ialah dengan terorisme, narkoba dan korupsi. Cara ini sudah terlihat keberhasilannya di seluruh dunia, seperti terorisme dikatakan oleh Prof Chossudovsky.

Memang ketiga cara ini (terorisme, narkoba, korupsi) belum masuk ke Korea, bukan karena kekuatannya tetapi karena Korut selama ini masih termasuk sebagai negara tertutup bagi dunia luar. Ketertutupannya jugalah yang bikin negara ini jauh ketinggalan, sampai masih membanggakan balistik nuklir buatan dari era setengah abad lalu. Ketinggalan negeri ini secara fisik masih bisa diubah dengan olah raga, tetapi ketinggalan secara pemikiran, butuh waktu lebih lama memperbaikinya. Sama halnya dengan ketinggalan pemikiran orang-orang yang masih ‘sakit’ anti komunis di Indonesia. Ketinggalan ini malah dibanggakan pula.

Dari segi lain, harus dimengerti juga bahwa orang-orang ketinggalan ini memang sengaja di’pelihara’ atau digembosi pula dari luar oleh orang-orang divide and conquer internasional sejak pertengahan abad lalu di Indonesia, tetapi masih tetap giat sampai abad ini. Terlihat juga misalnya dari gerakan makar 212 dan 313 yang berhasil dicegah oleh aparat keamanan dan pemerintahan RI. Walaupun Indonesia punya kegagalan menangkis serangan divide and conquer ini di tahun 1965, teror 3 juta dan penyingkiran Soekarno (makar). Tetapi, kegagalan 1965 kelihatannya bermanfaat juga sekarang (dari segi pengalaman) dalam menangkis berbagai gerakan makar yang digerakkan oleh kekuatan luar ini pada tahun 2016 dan 2017.

Dan, terlihat memang peningkatan kesedaran dan pengetahuan umum aparat dan pemimpin negara ini, presiden dan wk presiden dalam menghadapi semua kekacauan yang dipaksakan dari luar itu.

Dalam soal terorisme, misalnya, presiden Jokowi bilang setelah teror Thamrin bahwa terorisme tidak perlu ditakuti karena tujuannya memang menakut-nakuti katanya. Juga wapres JK dengan tegas menyatakan bahwa terorisme tidak ada kaitannya dengan agama islam. Berlainan dengan pernyataan presiden Hollande yang bilang kalau teror Nice yang dilakukan oleh seorang psikis penyandu narkoba, katanya adalah teror islam, dan lebih memalukan lagi ialah Hollande memperpanjang a state of emergency seluruh Perancis gara-gara ketakutannya sama orang psikis penyandu narkoba supir truk di Nice itu.




Dari pengetahuannya yang semakin luas dan mendalam, aparat keamanan RI menunjukkan kesigapannya menangkis semua serangan orang luar ini yang mau bikin perpecahan dan kekacauan di kalangan rakyat/ publik negeri ini, berhasil dengan gemilang menangkis serangan dari gerakan 212 dan 313.

Gerakan ini sudah disinyalir terlebih dahulu oleh Kapolri sebagai gerakan makar, dan panglima TNI bilang biaya terbesar terorisme datang dari Australia, selain dari Malaysia, Brunei dan Filipina.

“Gerakan pecah belah datang terutama dari AS,” kata panglima.

Ini tentu sesuai juga dengan definisi Chossudovsky soal terorisme internasional itu.

Foto header: Depari Angle


Leave a Reply