Sekilas Tentang Sibayak Lingga*

2
717

Oleh: Adri Istambul Lingga Gayo

 

Hebatnya Kolonialisme Belanda melakukan penetrasi ke Tanah Karo adalah melalui politik tingkat tinggi dan politik pecah belah (devide et impera). Pasca pertempuran di Lingga Julu yang menewaskan lebih dari 22 orang dan Perang Sunggal maka penetrasi Belanda semakin kokoh.

Pa Kerung (Laksa Sinulingga) yang dibantu oleh anak berunya Pa Mbelgah Purba dari Rumah Kabanjahe yang “diadu” dengan saudaranya Pa Pelita Purba dan Kiras Bangun. Di Perang Sunggal, salah seorang tokohnya adalah Datuk Djalil Surbakti menjadi tidak berdaya secara politis ketika dibuat aturan kerajaan berlumba, yang diangkat menjadi Raja/ Sibayak di Lingga adalah Pa Terang (senina dari Pa Kerung yang paling muda). Anaknya Kerung hijrah ke Bintang Meriah, dan Saudaranya Pa Sendi diangkat juga jadi Sibayak dengan besluit langsung dari Kerajaan Belanda.

Situasi politik pada saat itu menurut penuturan orangtua saya dan beberapa pengetua adat adalah bahwa Rakyat Lingga sebagian besar tidak mau membayar belasting (pajak). Istana kerajaan pun di satu sisi tetap Rumah Gerga tapi di sisi lain dibangun di Kabanjahe sebagai Kantor Sibayak Lingga dan Kantor Raja Berempat yang mana Sibayak Lingga sebagai kepalanya.




Kalaupun ada besluit Pustaka Sibayak Lingga ditulis dengan Aksara Karo maka ada 2 kemungkinannya, yakni:

  1. Memberitahu kepada Pemerintah Kolonial Belanda bahwa Sibayak Lingga yang bertahta adalah Raja yang juga diterima rakyatnya (padahal keadaaan itu sangat berbeda, boleh ditelusuri lebih lanjut dan sebagai catatan mayat kakek saya Pa Kerung sampai hari ini belum dimakamkan, karena tidak ada yang berani, disebut juga Sibayak Simedem (menyebutnya tidak mati tapi sedang tidur). Pada masa itu penuh intrik dan bahkan mistik, persis seperti sejarah Kerajaaan Mataram yang pecah menjadi Ngajogjakarta dan Surakarta (Solo).
  2. Dan yang pasti pada saat setelah kemandekan semua keturunan Sibayak dianggap feodal dan menjadi korban revolusi sosial, sungguh sangat traumatik.

Saya sangat senang impalku Juara masih mau untuk meneliti dan mengungkapkannya secara kesejarahan, menyakitkan memang, tetapi itu harus diungkap secara jernih untuk rekonsiliasi seluruh keturunan Sibayak Lingga dimanapun berada. Mari kita ungkap untuk saling memaafkan dan rekonsiliasi menuju jati diri sebagai orang Karo.

Bujur ras Mejuah-juah




* Artikel ini ditulis sekaitan dengan rencana presentasi hasil penelitian Ita Apulina Tarigan dan Juara R. Ginting tentang naskah Karo yang ditulis pada kulit kayu (pustaka) mengenai pelantikan Pa Sendi menjadi Sibayak Lingga pada tahun 1935.

Hasil penelitian mereka akan didiskusikan dalam sebuah seminar internasional di Universitas Leiden pada 12 Mei 2017 mendatang.

Foto header:

Sebuah rumah adat Karo di Desa Lingga (Dataran Tinggi Karo).

** Penulis adalah keturunan Sibayak Pa Kerung, sekarang tinggal di Surabaya.


2 COMMENTS

Leave a Reply