Kolom M. U. Ginting : TAMASYA TENDENSIUS

0
451

“Coba kita perhatikan. Judulnya saja TENDENSIUS. Ada kata Almaidah. Sebuah kata yang membuat negeri ini geger …. agar pemilih digiring untuk memilih Paslon tertentu,” kata Ganggas Yusmoro (GY) dalam kolomnya kemarin di Sora Sirulo. Lebih dari situ bertendensi mengacau, mengadu-domba dan memecah belah kesatuan dan kebersamaan rakyat negeri ini dan penduduk Jakarta khususnya.

Betul memang pendapat GY, ‘Tamasya Almaidah’, mengingatkan pertengkaran ‘Almaidah’ di Jakarta sampai pengadilan berulang-ulang atas ‘penodaan agama’ yang sudah terkenal itu. Sekarang diciptakan ‘Tamasya Almaidah’, bisa juga diartikan sebagai ejekan atas ayat Almaidah atau pujaan terhadap Almaidah. Yang jelas kalau dipakai sebagai intimidasi sama saja dengan memakainya untuk menipu. Ayat-ayat al Quran diciptakan bukan untuk tamasya, tetapi untuk tujuan religius memuja Tuhan. Kalau dipakai untuk ‘happy-happy’ apa itu yang diajarkan Tuhan?

Ha ha . . . ini bisa juga nanti menggiring publik untuk debat penafsiran yang tidak berkesudahan, seperti penafsiran ayat 51 itu sendiri.

Yang bisa dipastikan ialah bahwa ‘Tamasya Almaidah’ ini tidak bermaksud dan juga tidak mungkin akan menjernihkan sesuatu atau untuk menjernihkan situasi yang sedang kacau dalam soal ‘almaidah’. Juga tidak mungkin dengan cara itu akan berfungsi sebagai sesuatu yang mempererat kebersamaan dan kedamaian sesama rakyat negeri ini yang Bhinneka Tunggal Ika itu, atau sesama penduduk Jakarta khususnya. Malah akan menimbulkan kecurigaan, mengapa memilih saja harus ditonton dan di’awasi keadilannya’, dan oleh orang luar pula, dan secara massal beramai-ramai pula.




Pemimpin spiritual terkenal Dalai Lama pernah juga mengeluh soal dimanfaatkannya agama oleh orang-orang yang suka menipu orang banyak. Beliau bilang bahwa di dunia sekarang ini “religion has become an instrument to cheat people”- dikutib dari timesofindia. Di sini Dalai Lama memakai istilah agama (religion) jadi alat atau instrument untuk menipu orang. Ahok memakai istilah ‘ayat 51’ yang dipakai orang tertentu juga untuk menipu orang lain supaya tidak memilih dia dalam Pilgub.

Ada kemiripannya memang kata-kata Ahok dibandingkan dengan kata-kata Dalai Lama, sama-sama memakai agama (religion) sebagai alat untuk menipu orang lain. Itulah dunia kita sekarang menurut Dalai Lama. Memang dulu tidak begitu, dunia sudah berubah, bukan lagi jaman agama kayak dulu, dimana rakyat Indonesia selalu damai-damai dan akur-akur saja hidup bersama dengan berbagai agama yang berlainan.

Sekarang banyak penipu menggunakan agama untuk menipu, untuk mendapatkan keuntungan politik dan juga untuk mendapatkan keuntungan duit seperti memanfaatkan islam ISIS untuk menjarahi SDA Syria dan Irak. Juga agama dan perbedaan agama, akan selalu dipakai oleh orang luar, perekayasa ‘divide and conquer internasional’ memecah belah satu negara dan pemerintahan tertentu seperti RI dalam gerakan makar 212 dan 313, atau juga adu domba 1965.

Sekarang ini diciptakan lagi gerakan baru ‘tamasya almaidah’, bisa dipastikan adalah lanjutan dari gerakan makar 212 dan 313 yang sudah berhasil digagalkan oleh aparat keamanan dan pemerintahan RI.




Pemrakarsa divide and conquer internasional ini tidak akan pernah menghentikan kegiatannya untuk mengadu domba dan memecah belah. Dari kegagalan yang satu akan dimunculkan kegiatan lain dan seterusnya tidak akan pernah berhenti .

Karena itu. perlu selalu mempertinggi kewaspadaan, dan kesigapan dari aparat keamanan dan pemerintah RI. Gerakan ‘tamasya almaidah’ juga harus diwaspadai dengan seksama, dalam mencegah bahaya yang akan ditimbulkannya seperti gerakan berbahaya 212 dan 313 yang sudah berhasil ditumpas itu.

Publik percaya sepenuhnya kali ini juga terhadap kesigapan aparat dan pemerintahan RI, seperti kesigapannya dalam menghadapi gerakan pecah belah dan makar 212, 313 itu.


Leave a Reply