Pencoblosan Pilkada DKI sebentar lagi, akan tetapi issue teror serta intimidasi yang dihembuskan telah berupaya ingin mengganggu kenyamanan Pilkada DKI. Ada upaya dari gerakan radikal ingin merusak kenyamanan warga Jakarta dalam menentukan pilihannya. Nuansa demokrasi yang menggembirakan coba dikacaukan kaum radikalis demi tujuan asal bukan Ahok. Isu Tamasya Al Maidah dijadikan momentum untuk bikin teror intimidatif demi menjegal kemenangan Ahok Djarot.




Sentimen agama dijadikan sarana untuk mempengaruhi pemilih muslim agar tidak memilih Ahok Djarot yang sudah terbukti kinerjanya. Cara-cara radikalisme yang penuh intoleransi membuat suasana menjelang pencoblosan terkesan mencekam.

Jika gerakan radikalisme tidak coba dibungkam eksistensinya, maka Pilkada hanya akan jadi ajang pertempuran berbasis sentimen agama. Bukan lagi pertempuran gagasan dengan suasana berdemokrasi yang menggembirakan.

Lewat momentum Pilkada DKI, momen tepat untuk membungkam radikalisme lewat kemenangan Ahok Djarot, sehingga ketika seluruh warga Jakarta bersatu memenangkan Ahok Djarot maka upaya gerakan radikalisme menguasai Jakarta lewat sistem dapat dibungkam secara masif sistematis.

Ada hikmah luar biasa jika seluruh warga Jakarta bersatu memenangkan Ahok Djarot di Pilkada DKI. Maka tirani mayoritas yang coba ditunjukkan eksistensinya oleh kaum radikal mampu ditekan.

Kami mencatat ada 5 hikmah kemenangan Ahok Djarot dalam membungkam radikalisme untuk punya eksistensi di Jakarta.

Pertama, kemenangan Ahok Djarot merupakan upaya bersama warga jakarta bersatu untuk menutup ruang gerak kaum radikalisme tumbuh kembang serta eksis di Jakarta. Toleransi serta keberagaman menjadi energy baru bersatunya warga Jakarta nembenahi kotanya tanpa adanya teror intimidatif.

Ke dua, kemenangan Ahok Djarot juga sebagai upaya meningkatkan eksistensi Islam yang inklusif yang dapat merangkul semua pihak dalam menata Jakarta, dan tidak ada lagi radikalisme yang diidentikkan dengan Islam. Ketika Islam toleran lebih eksis lewat kemenangan Ahok Djarot.

Ke tiga, kemenangan Ahok Djarot juga jadi ajang untuk memaknai kebhinekaan secara peradaban perilaku warga Jakarta. Sehingga tidak ada lagi bentuk teror intimidatif yang mengatasnamakan agama ketika eksistensinya mampu dibungkam.




Ke empat, kemenangan ahok djarot juga jadi ajang untuk bersatunya warga turut andil dalam percepatan infrastruktur maupun pembangunan kesejahteraan sosial lewat ahok sebagai pendobraknya. Sehingga warga jakarta tidak lagi disibukkan menanggapi eksistensi kaum radikal.

Ke lima, kemenangan Ahok Djarot merupakan ajang instropeksi kita bersama terutama kaum Islam politik, bahwa dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam tidak harus menggunakan teror intimidatif berbau SARA yang bikin antipati rakyat. Keberagaman serta toleransi harus menjadi bahan renungan dalam membangun peradaban berkemanusiaan sebagai sarana menata sistem di negeri ini.

Untuk itu, dari 5 catatan kritis di atas, harapannya warga Jakarta mampu berfikir kritis serta cerdas dalam menentukan pemimpin untuk membenahi Jakarta. Jangan sampai memilih pemimpin yang ditunggangi kelompok radikal yang memiliki dampak teror berkelanjutan bagi warga Jakarta.

Warga Jakarta harus jernih bersikap dalam menentukan pemimpin yang sudah terbukti kinerjanya merubah Jakarta. Monentum pencoblosan Pilkada DKI dijadikan sarana menguatkan kekompakan warga Jakarta melawan hegemoni radikalisme ekstrem yang ingin menguasai Jakarta.

Mari tentukan sikap lewat suara warga Jakarta dalam menekan gerakan intoleransi menguasai Jakarta.




Jakarta harus dibangun lewat fondasi keberagaman dan toleransi sehingga percepatan pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan sosial tumbuh kembang secara signifikan. Selamat mencoblos untuk warga Jakarta, mari wujudkan Pilkada DKI sebagai berdemokrasi yang menggembirakan. Lawan segala bentuk teror intimidasi berbau SARA demi membungkam eksistensi radikalisme.

WARGA JAKARTA BERSATU MENANGKAN AHOK DJAROT
MERDEKA!!!!!!

#SalamPencerahan

* Hormat Kami
CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGESSIF MOVEMENT (CS REFORM)


1 COMMENT

  1. Sentimem terhadap apa pun yg berkaitan dgn pergerakan Islam tak tetelakkan lg. Teroris dan radikalisme hanya benar jika itu adlh islam. Radikalis dr luar islam ? Bukan, itu bukan radikal… itu cuma konflik biasa. Dunia barat telah sukses menghipnotis dunia membenarkan dengan memulai opini alqaida di kasus 9/11 WTC. Anehnya, masyarakat Indonesia yg menganut agama yg di bawa kaum penjajah dulu kebanyakan langsung menelan mentah2 dan menjadi bagian dr laskar perlawanan terhadao muslim yg telah dicap “Radikal” ini. MAKA DARI ITU, PERANG AGAMA DALAM WAKTU DEKAT TAK TERELAKKAN LAGI.

Leave a Reply