Kolom M. U. Ginting : Negara Melindungi Rakyatnya

0
326

“Negara tidak boleh kalah. Negara memang seharusnya melindungi semua warganya. Apapun itu, gerakan sekecil apapun itu, yang berindikasi terjadinya gesekan-gesekan di masyarakat, negara tentu harus turun tangan demi terciptanya rasa aman di semua elemen masyarakat,” demikian Ganggas Yusmoro membuka kolomnya hari ini di Sora Sirulo.

Kalimat ini isinya sesuai dengan pernyataan Kapolri soal diskresi atau kewenangan polisi berlaku bagi semua polisi dalam satu negara dimana saja seluruh dunia.

Ketua Panitia Tamasya Al Maidah (Ansufri ID Sambo) menyatakan dengan tegas bahwa ‘siapapun calonnya asal Ahok tidak menang’ katanya sambil menyangkal mendukung calon satunya (Anies-Sandi). Ha.. ha.. calon cuma dua, kalau yang satu kalah atau mau dikalahkan dengan segala cara, berarti yang lain menang, logis saja. Jadi memihak siapa dan mau mengarahkan ke mana? Jelas dan logis.

Tidak soal juga memihak siapa, itulah gunanya kampanye supaya calon yang didukung bisa menang dalam pemilihan. Selama waktu kampanye sudah ada waktu dan kesempatan bagi semua pihak untuk berkampanye menjual calonnya atau menyisihkan calon lain. Itulah pernyataan demokrasi dalam pemilihan. Artinya, ada waktu berkampanye dan ada waktu untuk memilih bagi rakyat pemilih. Kalau dalam saat detik-detik memilih masih ngomong ‘siapapun calonnya asal Ahok tidak menang’, dan mengerahkan massa untuk itu, ini kan artinya masih mau mengarahkan pilihan publik. Padahal waktu kampanye model begini sudah lewat.




Sikap seperti itu jelas tidak bermaksud memperbaiki situasi supaya lebih aman dan tenteram, karena jelas bermaksud mengacau atau memecah belah. Tak beda dengan gerakan makar 212 dan 313 yang berhasil ditumpas dengan seksama.

Waktu pemilihan [Rabu 19/4] bukan lagi kesempatan untuk ‘berkampanye’ mengarahkan pilihan. Waktunya sudah lewat. Apalagi mendatangkan massa banyak mengelilingi TPS, ini namanya intimidasi atau menakut-nakuti pemilih yang menginginkan keadaan nyaman dan aman dalam menentukan pilihan mereka. Pemilih sudah cukup mendengar dan mendengarkan semua hiruk pikuk kampanye pemilihan DKI itu ketika massa kampanye. Mengerahkan massa ‘mengawasi pemilihan’ sama halnya dengan membuat peraturan dan kekuasaan sendiri dalam negara, dan menentukan sendiri peraturan keadilan dan keamanan dalam pemilihan yang sudah diatur keamanan dan kenyamanannya oleh negara di bawah semua aparatnya yang berwenang.

Karena itu, betul memang kalau polisi membuat diskresi maklumat melarang Tamasya Almaidah melaksanakan pengerahan massa ke TPS. Polisi seluruh dunia punya kewenangan (diskresi) membuat maklumat sesuai dengan hukum di negara bersangkutan dalam rangka ‘memelihara ketertiban menjamin keamanan umum’. Kewenangan ini tidak mungkin diatur oleh organisasi lain atau ‘kekuasaan’ lain seperti Panitia Tamasya Almaidah’. Hanya negara dan aparatnya yang punya kewenangan dalam soal ini.

Tidak perlu dan tidak boleh ada ‘kekuasaan’ lain yang ‘lebih tahu’ dan mengatur menurut kehendak dan peraturannya sendiri. Polda sudah membuat maklumat dalam hal ini, melarang pengerahan massa bukan pemilih ke TPS, karena bisa dianggap sebagai sikap intimidasi dan menakut-nakuti massa pemilih yang dalam kampanye sudah cukup mendengar semua argumentasi para calon. Sekarang tiba waktunya hanya untuk menetapkan atau mencoblos pilihannya.




Dan pemilihan ini harus dilaksanakan tanpa penekanan dari manapun. Artinya, ‘pemilihan bebas dan rahasia’ tanpa rasa takut sedikitpun.

Ini yang dijaga oleh aparat kepolisian, karena rakyat yang mau memilih secara aman itu juga harus dilindungi dari rasa ketakutan dari massa orang banyak ‘Tamasya Almidah’ yang tidak biasa itu. Kalau masih mau melanggar juga peraturan keamanan Polda jelas sama dengan gerakan 212 atau 313, dan yang sudah ditetapkan adalah gerakan makar.

“Diskresi kepolisian yaitu kewenangan yang melekat kepada seluruh anggota kepolisian seluruh dunia untuk dapat menilai dan mengambil tindakan dalam rangka kepentingan publik,” kata Tito.

Model foto header: Depari Angle (Model Sora Sirulo)


Leave a Reply