Status facebook, Ade Armando, dosen komunikasi Universitas Indonesia, menggelitik nalar saya. Tanpa basa-basi, Armando menohok mereka yang memilih Anies dengan menulis status pedas. “Orang pintar milih Ahok. Orang bodoh milih Anies. Jadi kalau sekarang Ahok kalah artinya jumlah orang bodoh jauh lebih banyak daripada orang pinter. Simpelkan?” demikian tulis Ade di akun Facebook miliknya [Kamis 20/4].

Mari kita telaah ungkapan Armando itu dengan hati riang gembira, sukacita dan move on sambil naik helicopter pinjaman dari Erwin Aksa menuju balai kota menemui Ahok.

Ungkapan Armando: “Orang pintar milih Ahok”, bukanlah sekedar ungkapan konyol atau basa-basi. Armando berargumen bahwa apa yang dia tulis itu sudah dipertimbangkan dengan baik. Ia punya alasan untuk menuliskan status tersebut.

“Benar itu saya yang tulis. Kan selama ini pendukung Ahok dihina kalau dukung Ahok kafir masuk neraka, enggak boleh disalati, itu merendahkan dan parah kan?” kata Ade saat dikonfirmasi merdeka.com [Jumat 21/4].

Sebagai dosen komunikasi di universitas terbaik di negeri ini, pernyataan Armando itu punya dasar yang bisa dipertanggungjawabkan. Menurut penelitian Direktur Survei Eksekutif Media Survei Nasional (Median), Rico Marbun, yang dilakukan pada tanggal 1-6 April 2017, sebanyak 60,4% pemilih Anies adalah emosional dan hanya 31,4% rasional. Sementara pemilih Ahok-Djarot, 67,1% rasional dan hanya 18,2% yang emosional. Artinya apa?

Jika merujuk pada survei Median dan dikaitkan dengan status Armando itu, maka kebanyakan pemilih Anies adalah orang-orang yang emosional yang lebih banyak menggunakan emosinya daripada otaknya. Kebanyakan yang bersumbu pendek atau hidup di bumi datar ala Denny Siregar. Sementara pemilih Ahok lebih banyak yang menggunakan otak dari pada emosinya. Atinya, lebih banyak yang waras alias tinggal di bumi bundar menurut ilmu geografi.




Menurut penelitan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan dari tanggal 31 Maret sampai 5 April 2017, sebanyak 76% warga Jakarta puas atas kinerja Ahok. Biasanya kalau warga puas di atas 50% saja, maka petahana akan mudah dipilih kembali, apalagi jika tingkat kepuasan menyentuh 76 persen. Namun, yang terjadi adalah keanehan, irrasional dan tak masuk di akal.

Jika menggunakan akal atau otak, maka 76%  warga Jakarta yang puas itu akan memilih Ahok-Djarot. Namun, yang terjadi adalah 58% (hasil quick count), lebih banyak menggunakan emosionalnya ketimbang nalarnya. Jadi lebih banyak pemilih yang irrasional daripada yang rasional.

Baik survei Median maupun survei SMRC, keduanya menegaskan hasil penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dilakukan pada periode 27 Februari sampai 3 Maret 2017. Ternyata dari survei Denny JA itu, kebanyakan pemilih Anies-Sandi, berasal dari segmen ekonomi menengah ke bawah atau pendapatan rumah tangganya di bawah Rp 3,5 juta per bulan. Sementara pasangan Ahok-Djarot kebanyakan pemilih ekonomi menengah atas yang mapan. Artinya apa? Pemilih dengan ekonomi ke bawah dekat dengan kebodohan sementara pemilih dengan ekonomi atas, dekat dengan kepintaran.

Ungkapan Armando bahwa orang pintar milih Ahok dan orang bodoh milih Anies bisa dilihat dari hasil survei LSI Denny JA pada segmen pendidikan. Mereka yang berpendidikan rendah atau tamat SLTA atau di bawahnya, umumnya mendukung Anies-Sandi dibandingkan Ahok-Djarot. Anies-Sandi unggul 54,1% untuk pemilih lulusan SD atau di bawahnya, sementara Ahok-Djarot 32, 8%.

Survei LSI Denny JA lebih lanjut memaparkan bahwa pasangan Ahok-Djarot unggul pemilih yang pernah kuliah atau di atasnya dengan 51,0 persen, sedangkan Anies 44,0 persen. Artinya kebanyakan mereka yang berpendidikan tinggi memilih Ahok, sementara yang berpendidikan rendah memilih Anies-Sandi. Pendidikan rendah biasanya dekat dengan kebodohan sedangkan pendidikan tinggi dekat dengan kepintaran.

Jika kemudian banyak warga yang menelan mentah-mentah program irrasional Anies-Sandi seperti rumah DP 0%, program OK-OCE, penataan bantaran sungai tanpa penggusuran itu karena daya nalarnya rendah. Demikian juga jika banyak warga yang termakan kampanye: wajib memilih pemimpin yang seagama dan tidak akan disholatkan jika memilih Ahok-Djarot, sangat masuk akal. Dengan kata lain, hanya sedikit warga yang rasional alias pintar yang mampu memahami program Ahok-Djarot.




Pernyataan Armando “jika Ahok kalah artinya jumlah orang bodoh jauh lebih banyak daripada orang pinter” bisa dipahami. Dengan contoh-contoh survei di atas, maka bisa diambil kesimpulan bahwa di Jakarta masih banyak orang bodoh, kurang berpendidikan, gampang dihasut, lebih banyak menggunakan emosionalitasnya daripada rasionalitasnya.

Merujuk pada ungkapan status facebook Armando itu dan hasil-hasil penelitian dari beberapa survei, maka kekalahan Ahok-Djarot dari Anies-Sandi bisa dimaknai karena masih lebih banyak orang bodoh ketimbang orang pintar di Jakarta.

Jadi, karena lebih banyak orang bodoh di Jakarta, maka Ahok-Djarot kalah sedangkan Anies-Sandi menang karena lebih banyak orang bodoh yang memilihnya. Begitu maksudnya Pak Armando? Atau orang pintar dikalahkan orang bodoh? Itu tragis.


1 COMMENT

  1. “sebanyak 60,4% pemilih Anies adalah emosional dan hanya 31,4% rasional”

    Diantara 60,4% pasti banyak juga yang takut tidak disholati kalau meninggal, dan tidak percaya kepada Ade Armando yang memastikan bahwa mati ketika memperjuangkan Ahok adalah mati shahid dan diterima Tuhan langsung.
    Di pilgub Jakarta, religion jadi alat untuk menipu orang banyak. Pemimpin spiritual terkenal Dalai Lama bilang bahwa sekarang ini “religion has become an instrument to cheat people” (timeofindia). Dalam pilgub Jakarta agama selain alat politik juga alat menipu seperti dibilang Dalai Lama itu, dan terjadi di Jakarta bulan Maret lalu, tidak boleh disholatkan pendukung Ahok kalau meninggal. Ini terjadi di bilangan Karet Kuningan dimana Jenazah dari Ibu Hindun tidak boleh disholatkan di masjid setempat dengan alasan Ibu Hindun pendukung Ahok di Pilkada DKI. Terlalu kejam . . .
    MUG

Leave a Reply