Sepertinya banyak sekali diantara kita yang masih penasaran dengan kekalahan Ahok Djarot di Pilkada DKI Jakarta putaran ke dua kemarin. Namun demikian, saya berharap agar semua Pendukung Ahok Djarot tidak kecewa. Terus terang, saya sendiri pada awalnya termasuk salah satu yang merasa sangat terpukul dan hampir tidak percaya dengan bergulirnya angka-angka di quick count, yang distartnya saja pun sudah 39% lawan 61%.


Namun demikian, kini saya sudah mulai bisa membaca permainan para dewa politik di negeri ini. Saya melihat, kekalahan Ahok Djarot ini bukanlah kekalahan yang sebenarnya, yang jika diterjemahkan bisa amat banyak pengertiannya. Biar anda tidak penasaran, sebaiknya saya terjemahkan dengan bahasa sederhana sekali.

Kita harus mengakui, jika di permainan ini amat banyak tangan yang bermain. Namun, tetap saja yang paling berpengaruh dalam hal ini hanya supir 1 dan supir 2. Nah, ini anda sendiri yang menafsirkan yang saya maksud.

Propaganda Penistaan Agama ini amat masif dan terstruktur yang setiap saat dikumandangkan di hampir seluruh mesjid di seluruh Jakarta ini. Ya subuh, ya Jumatan, ya pengajian. Hampir itu saja yang ditiupkan dan terjadi pembiaran.

Anda mungkin tahu jika Ketua Dewan Mesjid di seluruh Indonesia ini ada orangnya. Dia tidak pernah melarang hal yang demikian itu. Bahkan persoalan mayat pun dipolitisasi.

Anda juga tentunya tahu sendiri jika ada ulama yang didatangkan khusus dari India untuk lebih meyakinkan bahwa Ahok sudah salah dan seterusnya. Orang yang mendatangkan si penceramah yang di banyak negara diusir orang karena tidak disukai itu, ya si supir 2 ini juga yang mengundangnya.




Ya, kita tidak perpanjang cerita itu karena ending ceritanya kita sudah tahu. Di tim partai pendukung pasangan Ahok juga, partai kuning, tidak mau bekerja keras mendukung untuk memenangkan Ahok. Istilah mendukung itu hanya di bibir tok.

Di malam terakhir sebelum pencoblosan, nampaknya para dewa politik, sudah bersepakat bahwa Ahok tidak boleh menang dan harus legowo menyerahkan kursi gubernur berikutnya kepada sang pesaing. Ancamannya, mungkin saja jika BADJA tidak mengalah maka demo tidak akan pernah berhenti, karena mereka punya pabrik uang dari beberapa orang hebat dan sangat kaya raya.

Anda dan saya sampai kepala negara kita kasihan terhadap rakyat Jakarta jika demo dan demo terus menerus hanya karena Ahok seorang. Oleh karena itu, terpaksa juga sang supir 1 memainkan apa yang sering saya sebutkan sebagai Catur Solo. Sang kuda dikorbankan dulu. Dalam hal ini adalah kursi Gubernur DKI. Akibatnya, seluruh pecinta Ahok “kecewa” berat. Tapi nanti, setelah anda selesai membaca tulisan ini, anda tidak perlu kecewa lagi dan harus berbangga hati terhadap Ahok dan sang Supir 1.

Logika waras harus kita kedepankan bahwa kursi Gubernur DKI Jakarta yang diduduki oleh Ahok, sejatinya adalah milik Jokowi yang harus ditinggalkan karena jabatan Presiden. Nampaknya si Anies berhasil revans alias balas dendam dengan menyingkirkan Ahok dari kursi Gubernur DKI. Artinya, Anies plus komandannya yang Jendral Prabowo, berhasil balas ke Jokowi.

Nah…. Tenang dulu, kawan. Catur Solo belum setengah perjalanan. Sang supir 1, tahu benar apa dan bagaimana memainkan catur dengan pembukaan kasus penistaan agama itu. Satu ronde Pilkada ini bolehlah dimenangkan olegh OKE OCE. Ronde berikutnya inilah perkiraan dan prediksi Telah PUrba.

Ahok akan melepaskan jabatan Gubernurnya sebulan sebelum berakhirnya masa jabatan tersebut di bulan Oktober 2017 ini. Secara otomatis yang akan jadi Plt Gubernur DKI Jakarta adalah bung Djarot Saiful Hidayat. Jika di bulan itu juga Ahok dilantik jadi Mendagri, maka bisa dipastikan yang melantik Anis jadi Gubernur DKI nantinya adalah Ahok sendiri. Seru, bukan?




Namun, sekali lagi, kita harus bisa lihat dengan jernih bahwa Anis bukanlah kertas putih tanpa noda. Laporan pengaduan ke KPK soal Bookfair Frankfurt masih akan terus bergulir. Kemungkinannya, Silahkan duga sendiri.

Salah satu hal yang sangat segera dihentikan Ahok, ya, tentu saja dana pembangunan rumah susun yang sudah dialokasikan sebesar 1 Triliun rupiah. Sedianya akan segera dimulai namun dengan sangat terpaksa, sang Ahok mengalihkan dana tersebut untuk transportasi massal berbasis melayang yakni LRT.

Maaf saja jika menerka isi hati Ahok soal pengalihan dana perumahan yang 1 Triliun rupiah ini. Ahok seolah-olah membisikkan ketelinga saya: “Mari kita biarkan rakyat DKI menagih janji Anis Uno, soal rumah tanpa DP tersebut.”


Leave a Reply