Tulisan ini bukanlah masalah move on atau tidak move on. Saya hanya berusaha mengajak berpikir rasional dalam hal berbangsa dan bernegara menyikapi fenomena politik pasca kemenangan Anis Sandi.

Tidak dipungkiri, kemenangan Anis Sandi berawal dari sini. Dari Rumah Ibadah. Dari sebuah tempat yang mestinya teramat suci untuk dijadikan jalan menuju nafsu kekuasaan. Nafsu syahwat demi kemenangan kandidat yang diusung.




Bukti nyata adalah, setelah Pilkada usai, setelah kemenangan Anis Sandi diraih, sudah tidak ada lagi hingar bingar yang namanya subuh berjamaah. Nyaris Rumah Ibadah di semua penjuru mata angin di DKI seperti sediakala. Rumah Ibadah kembali sepi di pagi buta. Hanya beberapa gelintir orang yang memang iklas untuk beribadah. Selebihya bisa jadi bergelung di balik kain sarung atau lagi surung-surungan.

Ada kekhawatiran dari banyak orang, Jika politisasi Rumah Ibadah dibiarkan, tentu ini akan menjadi pola yang akan di copy-paste di Pilpres 2019 nanti. Apalagi jika Bpk. Jokowi masih dicalonkan, tentu geliat serangan dari dalam Rumah Ibadah akan semakin membabibuta. Akan muncul anomali yang membuat banyak orang kembali hilang kewarasannya.

Akan muncul kembali yang beragama vs PKI atau yang beragama vs sekuler dan yang beragama vs Liberal. Bahkan bisa lebih ekstrim lagi yang beragama vs Syiah.

Lalu, subuh berjamaah akan hiruk pikuk kembali. Akan seperti pesta perkawinan dengan motif dan kemasan yang menarik. Menjadi jurus ampuh untuk menaklukkan Jokowi. Meski ada peraturan yang mengatur Rumah Ibadah dilarang berpolitik, namun apakah bisa melarang seorang tokoh agama untuk menyeleo lidahnya berbelok memenuhi pesanan tim sukses? Lha, wong sudah dibayar!

Juga, apakah bisa instititusi terkait, MUI atau Departemen Agama sekalipun, memberi warning meniup sempritan pada tokoh agama tersebut? Lha, wong mereka juga sudah di lingkaran mereka. Mana bisaaaa….

Dahsyat. Sungguh dahsyat jika Rumah Ibadah untuk berpolitik. Sekali lagi, jika pola ini dipakai dalam Pilpres 2019, tamatlah riwayatmu, Pak Jokowi…..

Tragis bukan?









2 COMMENTS

  1. Lidah ‘keseleo’ Ahok di pulau Pramuka jadi modal besar bagi penggagas divide and conquer internasional dengan tujuan atau sasaran utama ialah kekuasaan Jokowi. Dari analisa wartawan AS Allan Nairn sangat banyak fakta-fakta yang bagus jadi pelajaran dan tambahan pengetahuan atau informasi aktual soal usaha divide and conquer internasional ini.

    MUG

Leave a Reply