Duuuhhh, Pak JK, kenapa makin sepuh makin kurang bijak? Jika begini, mana yang lebih mubazir? Ketika Demo hingga berjilid-jilid, yang menghabiskan biaya untuk menjaga mereka. Tentu uang itu juga bukan sedikit. Kenapa engkau tidak bilang itu mubazir?




Ketika Rumah Ibadah juga untuk kampanye, lalu apa gunanya Rumah Ibadah tersebut? Padahal kan Rumah Ibadah adalah tempat suci. Tempat teramat sakral untuk diajak ke ranah politik. Kenapa engkau tidak bilang mubazir?

Ketika ribuan spanduk provokatif yang dipasang di pintu gerbang Rumah Ibadah, padahal pembuatan spanduk dan baliho tentu juga pakai duit. Kenapa engkau tidak berkomentar mubazir? Ada apa, Pak JK?

Ketika Hari H ada Tamasya Almaidah yang konon karena issue ada pemilih palsu ternyata tidak terbukti. Terpaksa aparat melakukan tindakan pencegahan hampir di pintu masuk DKI serta kota-kota sekitar, padahal tamasya juga perlu pakai duit. Kenapa engkau berdiam diri dan membisu? Kenapa engkau tidak bilang itu mubazir? Ada apakah gerangan?

Lalu, ketika warga DKI mengirimkan bunga untuk pemimpin yang diidolakan, yang jelas hampir seluruh rakyat negeri ini ingin punya pemimpin yang amanah, yang berani menjaga duit negara dari para garong, kenapa engkau malah menanggapi nyinyir? Kenapa, Pak JK? Atau ada sesuatu?

Kami Gregetan, Pak JK ….









Leave a Reply