Saya tidak tahu bagaimana mulanya sering nongkrong di kedai kopi itu. Dari dulu sebenarnya saya tidak begitu suka dengan kedai ini, yang franchisenya bertebaran di seluruh dunia. Awalnya saya mampir karena menunggu kelas yoga, biasa saja. Sampai suatu hari saya ketemu mas-mas barista yang perhatian.

Entah sejak kapan dia perhatikan, dia menandai pesanan saya selalu kopi pahit panas atau kopi susu. No cream, no sugar no macam-macam. Pada suatu hari dia mendekati saya dan bertanya: Kak, mau tidak mencoba kopi kami yang baru? “Kopi apa?” tanyaku. Nanti aja kalau udah dirasa katanya. Okeh…Siapa takut. Kali pertama dia suruh saya sesap, hisap, putar dan rasakan.




Setelahnya, berkali-kali dia menawarkan saya jadi tester kopi. Saya mulai bisa merasakan manisnya kopi pahit, kopi rasa bunga, rasa jasmin, rasa jeruk, rasa rempah, lemak dlsb. Sejak itu sayapun jadi penghuni di sana dan berteman dengan Mas Barista dan teman-temannya. Perasaan saya kayak ngopi di meja makan sendiri.

Tiga minggu saya mencoba kopi dari Afrika, dan kopi pahit itu rasanya manis dan gurih. Mas Barista mengajari saya cara menyeduh kopi dengan sederhana tanpa mengurangi kenikmatannya. Dia tunjuk satu toko dimana saya bisa beli peralatan yang dimaksud. Iya, iya kata saya. Sejak itu tiap datang dia tanya: “Udah beli, Kak?”

“Belum, entar aja.”

Kadang saya jawab: “Kopinya udah tak coba, enak koq disiram air panas aja.” Dia cuma geleng-geleng.

Tadi, sebelum yoga saya mampir ngopi lagi. Dia masih bertanya: “Udah beli, Kak?”

“Belum, belum sempat,” kataku.

Dia berlalu. Terus, tiba-tiba kembali dengan kantong kertas.

“Ini buat kakak. Kemarin saya lewat situ, sekalian tak belikan,” katanya.

Kaget aku!

“Aku ganti,” kataku.

“Ndak, ndak… ini buat kakak. Beneran,” katanya lagi.

Saya terpana. Sampai sekarang masih terpikir, saya kasih apa, ya, buat Mas Barista ini dan teman-temannya itu? Saya sudah senang banget sering dibagi kopi gratis dari seluruh dunia dan mendiskusikan rasanya.









Leave a Reply