Balai Kota DKI ujug-ujug penuh bunga. Kalimatnya seru. Bunga sebagai simbol cinta. Simbol kasih. Simbol ungkapan hati memenuhi halaman Balai Kota DKI. Bukan itu saja, 2 hari terakir Balai Kota juga berjubel manusia hanya ingin ketemu sang idola. Celakanya, sang idola oleh kelompok gagal mikir dianggap menistakan agama.

Tapi, apa mereka peduli? Yang pasti, semua mengungkapkan perasaannya. Semua dalam suasana mengharu-biru. Semua merasa kehilangan sosok pemimpin yang mau mendengarkan keluh kesah rakyat kecil di pagi hari.

Manusia melimpah ruah. Dari semua golongan. Dari penjuru negeri bahkan ada yang mewakili dari luar negeri. Perancis, Rusia, Belanda, dan lain-lain. Yang paling deket Singapura. Bahkan banyak diantara mereka tidak kuasa membendung air mata. Menangis pilu dalam keharuan ketika tokoh pujaannya dikalahkan oleh pandangan yang bodoh dan picik.




Lalu, apa kata orang-orang yang berseberangan dengan Ahok?

“Hallaaahh … itu pencitraan. Itu rekayasa Ahok. Itu akal-akalan Ahok !!!”

Pyaaaarrrr …. semua jadi gregetan. Banyak orang jengkel kepati-pati ketika ada komentar miring. Alhasil banyak beredar di grup-grup WA, FB, dan tweeter menyanggah dan membuat testimoni. Membuat kesaksian bahwa bunga itu adalah murni dari suatu ide lalu secara berantai disikapi dan diwujudkan tanpa hingar bingar demo.

Yang jadi soal adalah, ketika komentar miring tersebut dari orang yang mengaku beragama, dari orang yang mengaku lebih mengerti Jalan ke Surga, dari orang yang mengaku paling tidak punya dosa. Kenapa tidak Tabbayun? Tidak cross check? Kenapa asal njeplak? Kenapa ngomong tidak pakai mikir?

Apakah itu yang diajarkan agama? Lalu, agama dari mana? Dari Hongkong?

Kasihan. Bungapun difitnah!









Leave a Reply