Seorang wartawan dari AS (Allan Nairn) bikin analisa soal hiruk-pikuk Pilgub Jakarta. Dia mengkaitkannya dengan rencana makar menggulingkan pemerintahan Jokowi. Dalam rencana makar itu terlibat sejumlah perwira, baik pensiunan maupun aktif. Penolakan secara massal terhadap kepemimpinan Ahok dan panasnya pemilihan Gubernur DKI dimanfaatkan sebagai pintu masuk menggulingkan Presiden Joko Widodo.

Dia mengambil contoh dari keterangan Mayjen (Purn) Kivlan Zen saat menjalani pemeriksaan polisi terkait tuduhan makar bahwa gerakan makar telah direstui oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Hal ini langsung dibantah oleh Panglima TNI lewat Kapuspen TNI bahwa berita itu tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Allan Nairn bilang bahwa Kivlan Zen mengejutkan saya ketika menyatakan bahwa Gubernur Ahok telah memberi “sebuah berkah” kepada gerakan tersebut dengan “keseleo lidahnya” terkait Al-Maidah ayat 51.




Dia melanjutkan: “Dalam penampilan mereka di muka publik, para pemimpin gerakan diharuskan mengklaim bahwa mereka selamanya terluka oleh ucapan Ahok. Tapi salah satu dari mereka, dengan senyum simpul, mengakui bahwa secara strategis pernyataan Ahok itu mereka terima dengan senang hati, karena ia memungkinkan FPI dan para sponsornya menggeser perimbangan kekuasaan di Indonesia, melesatkan reputasi mereka dari preman jalanan menjadi pakar agama.” Lengkapnnya lihat di SINI.

Dalam videonya yang dipublikasi di internet [Minggu 16/4] Allan Nairn juga lebih lengkap lagi menceritakan soal percobaan kudeta ini, latar belakang para jenderal pendukung Soeharto dan latar belakang teror 1965. Lihat di SINI dan di SINI.

Allan Nairn terkesan punya ‘ketertarikan’ mengungkapkan situasi politik dengan fakta-fakta yang dia cari sendiri tentang kejadian terakhir dan juga masa lalu. Bagi seorang Indonesia terutama dari generasi muda intelektual yang selama ini belum pernah mendengar cerita masa lalu negeri ini dan kaitannya dengan peristiwa aktual Pilgub Jakarta, sangat menarik memang cerita dan analisanya, terutama dari era lalu itu, sejarah bangsa sendiri yang lebih banyak ditutupinya daripada dibukanya.  

Foto header: Wartawan SORA SIRULO (Herli Sitepu) berada di kereta gantung di Swiss. Hari ini ditunggu kedatangannya di Nederland untuk bertemu Pemimpin Umum SORA SIRULO (Juara R. Ginting)









Leave a Reply