Mengapa Indonesia tidak mampu bikin Rekonsiliasi dari Peristiwa 1965?

 

Berbeda dengan Afrika Selatan dimana permusuhan bersumber dari dalam negeri itu sendiri (apartheid). Di Indonesia, sumber perpecahan dan permusuhan datang dari luar. Artinya, bangsa Indonesia dikerjain orang luar. Terutama karena SDA kaya raya. Jadi inceran penjarahan dari luar dan bikin segala macam perpecahan atau perebutan kekuasaan demi akses ke SDA itu.

Bukti yang jelas ialah penjarahan emas dan tembaga oleh perusahaan neolib Freeport Papua yang sudah dijarah bebas tanpa bayar satu senpun kepada negara. Ini telah berlangsung sejak setengah abad ke belakang atau sejak pergeseran kekuasaan 1965 dari tangan Soekarno orang nasionalis, pemimpin dan pendiri Indonesia. Selama setengah abad itu sudah triliunan-triliunan dolar dikuras dari SDA Papua itu oleh neolib Greed and Power. Itulah sebab perpecahan, atau sebabnya bangsa ini dipecah belah, adalah duit, duit, duit . . .  dengan penjarahan SDAnya, oleh orang luar.

Alat yang digunakan untuk bikin perpecahan ialah perbedaan atau kontradiksi yang sudah ada di kalangan penduduk Indonesia, yaitu yang paling menonjol ialah antara agama dan komunisme. Pemanfaatan komunisme ini sangat tinggi di jaman perang dingin, karena kontradiksi pokok dunia memang itulah; antara Blok Komunis kontra Blok Bebas atau Blok Barat kontra Blok Timur dalam masa perang dingin.




Kontradiksi Pokok ini pegang peranan penting karena semua kontradiksi lainnya secara internasional maupun nasional mengabdi kepada (tersedot ke) kontradiksi pokok ini. Cotohnya, semua gerakan separatis ketika itu erat kaitannya dengan kontradiksi pokok itu. Apakah pro Barat atau pro Timur, pro Demokrasi atau pro Komunis/ Sosialis. Di Indonesia misalnya gerakan PRRI/ Permesta yang pro-Barat dan digerakkan oleh Blok Barat

Setelah Blok Timur hilang, Kontradiksi Pokok dunia berubah, menjadi kontradiksi antara kepentingan nasional kontra kepentingan internasional neolib. Kontradiksi ini tercermin di semua kontradiksi/ konflik yang ada sekarang di dunia yang pada pokoknya adalah perjuangan untuk keadilan dan juga perjuangan untuk identitas atau jatidiri dari pihak bangsa-bangsa atau nation-nation dunia. Ini jelas terlihat dalam gerakan nasionalis yang sedang berkobar pesat di mana-mana terutama di Eropah Barat dan negeri maju lainnya. Di AS perubahan ini ditandai terutama dari menangnya Trump jadi presiden AS sebagai perwakilan nasionalis AS diikuti dengan pengertian serta pernyataan bahwa ‘Obama was the last gasp of neoliberalism’.




Dengan munculnya suasana baru ini, artinya terjadinya perubahan kontradiksi pokok dunia itu, telah membuka jalan yang memungkinkan rekonsiliasi Indonesia. Rekonsiliasi memang sangat tidak mungkin di era perang dingin, di era di mana kontradiksi besarnya adalah antara dua blok, sedangkan tiap negeri sudah tergolong ke dalam salah satu dari dua blok itu. Atau juga, sedang dalam perjuangan masuk ke salah satu blok seperti Indonesia sehingga tidak memungkinkan rekonsiliasi antara 2 golongan masyarakat yang juga pecah dan bermusuhan karena 2 blok.

Karena itu rekonsiliasi sekarang sudah mungkin.

Indonesia di tengah suasana membangun negerinya dalam semua lapangan, dan untuk itu perlu adanya suasana damai dan nyaman, yang bisa dicapai dengan adanya rekonsiliasi; keluar dari pertentangan dan permusuhan masa lalu.

Permusuhan masa lalu pada pokoknya dipaksakan dari luar karena situasi 2 blok dunia dan dimanfaatkan oleh penyerakah duit/ SDA. Rekonsiliasi sangat dibutuhkan, karena akan menjadi syarat terpenting dalam mengembangkan dan membangun bersama bahu-membahu dalam keindahan gotongroyong, sifat dan sikap leluhur bangsa Indonesia yang masih tetap dipuja dan dihargai oleh semua suku bangsa dan semua agama negeri Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika itu.

Catatan Redaksi:

Redaksi mempersembahkan di bawah ini clip dari Within Temptation berjudul Mother Earth. Perhatikan warna baju si penyanyi. Itulah sebabnya clip Mother Earth ini diartikan dalam konteks tulisan ini Ibu Pertiwi.






Leave a Reply