Anies Baswedan lewat politik SARA sukses memecat Ahok. Hasil Rapat pleno KPU memastikan kemenangan telak Anies 58%  vs Ahok 42%. Sepintas lalu, kemenangan Anies itu memabukkan pihak Anies. Semboyan Rizieq, pendukung garis keras Anies, yang berbunyi: “Rebut Jakarta dari gubernur kafir”, menjadi kenyataan. Apakah itu sudah cukup untuk memenangkan hati Anies? Sama sekali tidak. Justru di situ persoalannya.

Jika melihat data statistik berdasarkan agama, maka ada sekitar 85% penduduk Jakarta yang Muslim. Demo besar 411 dan 212 yang melibatkan AA Gym, Amien Rais, Din Syamsuddin dan tokoh-tokoh Muslim lain, tidak cukup menyatukan suara Muslim untuk memilih Anies. Padahal target Rizieq adalah Anies menang 80% atas Ahok. Artinya Rizieq menargetkan semua suara kaum Muslim memilih Anies. Namun apa faktanya? Cukup memalukan.




Jika penduduk non-Muslim di Jakarta ada 15%, itu berarti ada sekitar 27% persen Muslim yang memilih Ahok yang Kristen. Kalkulasi ini berdasarkan survei bahwa sebagian besar non-Muslim memilih Ahok. Artinya walaupun Ahok sudah dihajar habis-habisan lewat kampanye SARA seperti politisasi mayat, tetap saja ada kaum Muslim yang memilih Ahok karena kinerjanya. Bagi pendukung Anies yang fanatik soal agama, ini jelas memalukan. Jualan agama hanya laku 58% bagi para pemeluknya.

Celakanya para memilih Anies itu adalah ‘orang bodoh’ menurut kategori Ade Armando. Ucapan Ade Armando itu bukan tanpa dasar. Berdasarkan hasil berbagai survei, para pemilih Anies itu adalah mereka-mereka yang ekonominya menengah bawah, berpendidikan rendah dan berpikiran picik. Maka tak heran isu mayat tak disholatkan dan tidak boleh memilih pemimpin yang tidak seagama sangat logis bagi sebagian besar pendukung Anies. Inilah yang berbahaya dan menakutkan Anies. Mengapa?

Anies yang bergelar Profesor, paham benar bagaimana sulitnya menjelaskan paham nasionalisme, tranparansi, kesatuan dalam bingkai NKRI, relokasi di rumah susun dengan DP nol persen, kebersihan, kedamaian, toleransi kepada para pendukungnya. Konsep itu ibarat menjelaskan teori relativitas Einstein kepada anak-anak TK. Mereka tidak paham dengan nalar mereka. Mereka hanya tahu disuapi, dibantu dengan mudah, diberi makan, diberi modal, diberi dana dan didukung segala macam pergerakan mereka untuk mendirikan kota khilafah di ibu kota.

Bisa dibayangkan ketika Anies menang, maka gambaran Jakarta bersyariah, Perda-perda bertendensi syariah akan dituntut kepada Anies. Para pendukungnya semacam Haji Lulung akan meminta ‘jatah’ penguasaan Tanah Abang seperti yang dulu. Mirip lagu ‘aku ingin seperti yang dulu’, nyanyi Lulung. Lalu Lius Sungkharisma akan mengancam Anies menari bugil lagi jika tidak diakomodasi kepentingannya.

Tentu nama-nama itu hanya sebagian kecil yang akan menyandera Anies plus segelintir pebisnis ala Harry Tanoe dan Erwin Aksa. Akan banyak kepentingan lain yang akan menyandera habis Anies. Sebagai contoh kepentingan wakilnya Sandi yang telah menghaiskan dana kantong sendiri ratusan miliar. Anies juga harus berbagi rata dengan Sandi.

Hal lain yang menakutkan Anies adalah ketidakberdayaannya menolak permintaan ‘jatah’ PKS untuk menguasai sejumlah Kepala Dinas di berbagai birokrat Pemrov DKI. PKS jelas akan mulai bergerilya menanamkan misi silentnya untuk menguasai akar rumput (wong cilik) di DKI seperti di Jawa Barat menggeser PDIP. Mereka siap menggeser Anies ke depan jika tidak sesuai dengan setiran mereka. Agar misi PKS ini di Jakarta berjalan mulus tanpa diganggu KPK, maka lewat Fahri Hamzah di DPR, KPK dihabisi dengan ketokan brutal pengesahan hak angket.

Anies juga mendapat ketakutan dari Rizieq. Anies dipastikan tidak akan bisa berkutik. Benar bahwa tidak ada demo Rizieq untuk Anies ke depan. Namun Anies harus mengakomodasi maunya Rizieq dan pengikutnya di DKI. Jika melawan Rizieq, maka mudahlah menjatuhkan Anies. Apalagi ditenggarai bahwa Anies masih belum ‘naik haji’ dan beraliran syiah. Jika tidak mau menuruti kemauan Rizie dan ormas-ormas radikal lain, maka semudah telapak tangan menyerang balik Anies.




Jika demikian bagaimana Anies bisa membangun DKI di tengah penyanderaan para pendukungnya? Bagaimana Anies membangun ibu kota dengan terobosan jika banyak ‘jatah’ yang harus ia akomodasi?

Bagaimana Anies membangun Jakarta jika ia harus berbagi rata untuk menutup mulut para pendukungnya? Anies akan di bawah bayang-bayang Ahok. Anies sudah mencium kegagalan. Ini yang menakutkan Anies. Ketakutan Anies ditambah dengan serangan yang siap dimuntahkan oleh para pendukung Ahok termasuk di DPRD DKI jika bertindak gegabah.

Ade Armando berani mengatakan bahwa pendukung Ahok adalah orang-orang yang cerdas. Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Dari berbagai survei menyimpulkan bahwa para pendukung Ahok adalah mereka yang ekonominya dari kelas menengah atas, berpendidikan tinggi, moderat dan berpikir kritis. Apapun yang dilakukan Anies, maka dengan mudah dikritik, diteropong, dikuliti dan siap dijadikan bahan bulan-bulanan.

Anies jelas semakin ketakutan ketika APBD DKI yang sudah masuk dalam e-budgeting di-lock dan diawasi oleh KPK dan BPK. Lalu bagaimana caranya mempermainkan APBD itu agar para pendukungnya mendapat bagian jatah? Pusing kepala gue. Jika Anies kehabisan akal untuk memenangkan hati pendukungnya, maka ia siap-siap ditendang dan dihabisi oleh para pendukungnya sendiri.

Jika Anies berbagi rata dengan pendukungnya, maka ia siap-siap dihabisi oleh para pendukung Ahok, KPK dan kepolisian. Anies itu ke depan harus siap-siap dikeroyok oleh para pendukungnya sendiri, para pendukung Ahok dan para penegak hukum. Maka, tak heran jika usaha dilakukan oleh Anies adalah rekonsiliasi, kesejukan dan perdamaian. Perhatikan selalu ucapan Anies sejak ia menang. Kata rekonsiliasi. Mengapa?

Anies ingin mengurangi musuhnya dari para pendukung Ahok dan muslim yang cerdas dan berusaha meraih simpati mereka. Tujuannya agar serangan mematikan berkurang untuk menguliti program atau kebijakannya ke depan.

Maukah berbalik mendukung Anies para Ahokers? Entahlah, hanya karangan bunga di balai kota yang bisa menjawabnya.







1 COMMENT

Leave a Reply